Perang Yaman
Timur Tengah

Perundingan untuk Akhiri Perang Yaman Dimulai di Swedia

Polisi menjaga istana di Rimbo, Swedia, tempat perundingan damai berlangsung. (Foto: EPA-EFE/Rex/Shutterstock/Stina Stjernkvist)
Berita Internasional >> Perundingan untuk Akhiri Perang Yaman Dimulai di Swedia

Perundingan untuk mengakhiri perang Yaman dimulai di Swedia pada Kamis (6/12). Pemerintah Yaman dan Houthi akan melakukan pertukaran tawanan sebagai salah satu langkah untuk memenangkan rasa saling percaya. Upaya terbaru yang disponsori PBB untuk menghidupkan kembali proses perdamaian ini, dibantu oleh dorongan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri pertempuran tersebut.

Baca juga: Senat Dorong Resolusi untuk Akhiri Dukungan Amerika dalam Perang Yaman

Oleh: Sune Engel Rasmussen (The Wall Street Journal)

Pemerintah Yaman dan pemberontak Houthi sepakat pada Kamis (6/12), untuk menghidupkan kembali proses perdamaian yang diperantarai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan mengumumkan pertukaran tahanan yang komprehensif sebagai salah satu dari beberapa langkah untuk memenangkan rasa saling percaya, dalam upaya untuk mengakhiri perang hampir empat tahun yang telah menyebabkan puluhan ribuan orang tewas dan mendorong jutaan orang ke jurang kelaparan.

Kesepakatan untuk menukar mungkin ribuan tahanan ditandatangani pada minggu lalu, meskipun angka pastinya belum ditentukan. Menuju perundingan tersebut, para pihak mengatakan bahwa mereka berupaya menuju langkah-langkah untuk membangun kepercayaan dari pihak lainnya, seperti membuka kembali bandara di ibu kota, Sana’a.

“Hari ini menandai, kami berharap, kembalinya proses politik,” kata Martin Griffiths, utusan khusus PBB untuk Yaman.

Perang itu mengadu pemerintahan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi yang didukung Saudi—yang memandang dirinya sebagai penguasa sah Yaman—melawan Houthi yang bersekutu dengan Iran, yang mengklaim mewakili sebuah revolusi rakyat di negara itu.

Konflik antara koalisi yang dipimpin Saudi—terutama terdiri dari negara-negara Arab mayoritas Sunni—dan pemberontak Houthi, telah menyebabkan bencana kemanusiaan terburuk di dunia, meskipun ada tekanan internasional untuk menghentikan permusuhan.

Beberapa putaran perundingan perdamaian Yaman telah runtuh dalam beberapa tahun terakhir, di mana perundingan sebelumnya ditetapkan untuk dilaksanakan pada bulan September, tetapi tidak terlaksana karena Houthi tidak hadir. Upaya terbaru yang disponsori PBB untuk menghidupkan kembali proses perdamaian ini, dibantu oleh dorongan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri pertempuran.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Menteri Pertahanan Jim Mattis mengeluarkan seruan terkoordinasi pada bulan Oktober untuk gencatan senjata di Yaman, seiring krisis kemanusiaan memburuk dan dukungan di Kongres AS untuk Arab Saudi terkikis, yang diperparah oleh pembunuhan wartawan Saudi, Jamal Khashoggi. Pekan lalu, Senat memilih untuk memajukan perdebatan tentang penarikan dukungan AS, yang mencakup pembagian intelijen dan penjualan senjata.

Menjelang perundingan, koalisi pimpinan Saudi membiarkan Amerika Serikat mengevakuasi 50 pejuang Houthi yang terluka ke Oman. (Foto: Xinhua/Zuma Press/Mohammed Mohammed)

Delegasi untuk kedua belah pihak tiba minggu ini di Swedia untuk diskusi awal, setelah berbulan-bulan mediasi oleh Griffiths, utusan khusus PBB, yang berupaya untuk menegakkan relevansi komunitas internasional dalam menyelesaikan konflik ini.

Houthi dan pemerintah tidak dijadwalkan untuk bertemu dalam perundingan tersebut, yang diperkirakan akan berlangsung selama seminggu, tetapi menginap di tempat yang sama.

Baik pemerintah Hadi maupun Houthi telah menunjukkan kecenderungan serius untuk mengakhiri perang. Menjelang pertemuan tersebut, para peserta tidak memiliki harapan untuk mencapai kesepakatan yang langgeng selama putaran pembicaraan saat ini.

“Kami tidak meminta hal yang mustahil. Kami berbicara tentang langkah-langkah membangun kepercayaan,” kata Menteri Luar Negeri Yaman, Khaled al-Yamani, dalam sebuah wawancara.

Yamani mengatakan bahwa pemerintah ingin Houthi untuk menghormati akses kemanusiaan, menarik diri dari kota pelabuhan Hodeidah, dan membiarkan semua pendapatan dari sana masuk ke bank sentral Yaman.

Untuk bagiannya, Houthi ingin blokade koalisi Saudi di bandara di Sana’a dicabut. Mereka juga menginginkan pasukan pemerintah—yang didukung oleh Uni Emirat Arab—untuk berhenti menyerang Hodeidah. UEA—pendukung utama pemerintah Hadi lainnya—memimpin serangan sengit untuk merebut kembali kota pelabuhan penting tersebut, di mana lebih dari 70 makanan Yaman diimpor.

Berdiri beberapa meter dari Menteri Luar Negeri Yaman—yang mengatakan bahwa Houthi telah “menculik masyarakat Yaman dengan paksa”—pemimpin delegasi Houthi, Mohammed Abdel Salam, mengatakan kepada Wall Street Journal, “Masyarakat Yaman menghadapi 17 negara dan puluhan ribu penjajah. Jika kami menahan masyarakat Yaman, mengapa mereka melawan penjajah ini?”

Diskusi ini juga akan fokus pada isu-isu seperti gaji pekerja pemerintah di daerah Houthi—banyak di antaranya belum dibayar selama dua tahun—dan menyatukan kembali operasi bank sentral, yang dipindahkan pemerintah ke Aden pada tahun 2016 dari Sana’a.

Pertemuan Swedia ini berlangsung di bawah pengawasan ketat terhadap peran Arab Saudi dalam perang Yaman, dan dipicu oleh pembunuhan di Turki terhadap Khashoggi—yang merupakan kritikus Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

Baca juga: Sebelum Lengser, Kongres Republik Pertahankan Amerika di Perang Yaman

Badan Intelijen Pusat AS (CIA) menyimpulkan bahwa Pangeran Mohammed memerintahkan pembunuhan terhadap Khashoggi, dakwaan yang ditolak oleh Riyadh.

Kematian Khashoggi telah menarik perhatian kuat di AS, dan mendorong mereka di Kongres yang ingin agar Washington menghentikan pemberian intelijen dan dukungan militer kepada Arab Saudi dalam perang Yaman.

Untuk saat ini, reaksi AS terhadap Riyadh terkait Yaman sangat terbatas. Walau pemerintahan Trump telah mengumumkan akan mengakhiri pengisian bahan bakar udara untuk pesawat perang Saudi yang beroperasi di Yaman, namun AS tetap teguh dalam dukungannya terhadap pemerintah Saudi.

Duta Besar AS untuk Yaman Matthew H. Tueller yang juga menghadiri pertemuan itu, mengatakan bahwa Arab Saudi memiliki kepentingan keamanan yang sah dalam melindungi pemerintah Yaman. “Iran mendukung kelompok (Houthi) yang menggulingkan pemerintah yang didukung oleh komunitas internasional.”

Keterangan foto utama: Polisi menjaga istana di Rimbo, Swedia, tempat perundingan damai berlangsung. (Foto: EPA-EFE/Rex/Shutterstock/Stina Stjernkvist)

Perundingan untuk Akhiri Perang Yaman Dimulai di Swedia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top