Perusahaan China
Opini

Perusahaan China Hadapi Krisis Kepercayaan

Berita Internasional >> Perusahaan China Hadapi Krisis Kepercayaan

Sektor industri China sedang menghadapi krisis kepercayaan. Sejauh ini, solusi yang diberikan pemerintah belum cukup untuk menopang sektor industrinya. Sementara itu, data pinjaman ekonomi pada hari Selasa (15/01) menunjukkan kredit yang beredar terus bergerak pada laju paling lambat dalam satu dekade.

Baca Juga: Balas Dendam atas Penangkapan Bos Huawei, China Perburuk Keadaan

Oleh: Anjani Trivedi (Bloomberg)

Menanggapi aliran data yang suram—dari penjualan ritel dan keuntungan industri hingga PHK—pejabat telah berjanji untuk menyediakan miliaran yuan dalam rangka memberikan dukungan untuk investasi infrastruktur kereta api, insentif tenaga kerja, pemotongan pajak dan pencairan pinjaman. Pengamat China sekarang tengah memperkirakan adanya perlambatan dan telah memberikan dukungan bagi konsumen China.

Meskipun bantuan tersebut dapat menyokong perusahaan mesin konstruksi dan perusahaan kereta api, sebagian besar sektor manufaktur masih kesulitan. Pesanan menurun, waktu pengembalian piutang meningkat, dan persediaan menumpuk. Untuk beberapa perusahaan, kapasitas mereka berada pada 40 persen hingga 50 persen.

Sementara itu, data pinjaman ekonomi pada hari Selasa (15/01) menunjukkan kredit yang beredar terus bergerak pada laju paling lambat dalam satu dekade. Awal pekan ini, survei terhadap 2.500 perusahaan kecil dan menengah tetap berada di wilayah kontraksi dalam tiga bulan terakhir tahun 2018, menurut sebuah laporan pemerintah. Pemotongan pajak hanya memiliki sedikit keuntungan, menurut salah satu produsen bahan kimia swasta di China selatan.

Secara anekdot juga, ketidakpastian masih tinggi. Semua ini, tidak diragukan lagi, diperparah oleh perselisihan perdagangan dengan AS.

Krisis Kepercayaan

Perusahaan-perusahaan China menyimpan uang tunai untuk masa depan tetapi mengurangi investasi untuk menumbuhkan bisnis mereka.

Secara teori, kucuran dana dapat membangkitkan semangat industri. Namun pada kenyataannya, penerima manfaat masih terbatas pada perusahaan yang didukung pemerintah di sektor-sektor tertentu. Itu berarti, mayoritas perusahaan swasta, yang memiliki akses kredit yang lemah secara historis, kurang beruntung. Dan perusahaan yang paling membutuhkan manfaat itu: Sebagian besar perusahaan yang gagal dalam empat tahun terakhir hingga Desember 2018 yang tidak didukung oleh pemerintah, menurut Moody’s Investors Service.

Faktanya, perusahaan swasta yang merugi terus meningkat di saat jumlah total perusahaan itu berhenti bertambah. Sementara itu, perusahaan-perusahaan yang dikendalikan secara terpusat minggu ini melaporkan rekor gabungan pendapatan dan laba tinggi untuk tahun 2018. Akankah pinjaman ulang membangkitkan kembali kepercayaan pada pelaku bisnis? Pinjaman itu mungkin akan membantu melunasi bunga, tetapi tidak mungkin memicu investasi.

Uluran Tangan

Perusahaan swasta tetap mengandalkan pemerintah untuk mendapatkan modal. Sementara itu jumlah perusahaan milik pemerintah yang merugi telah berkurang.

Baca Juga: Bagaimana Deng Xiaoping Jadikan China Pesaing Kuat Amerika

Kita bisa melihat adanya krisis kepercayaan. Pabrik-pabrik kini menyimpan uang tunai mereka di lahan industri, yang biayanya biasanya lebih murah daripada menyimpannya di real estate atau lahan komersial. Walaupun hal itu berkontribusi pada peningkatan investasi aset tetap, pada dasarnya itu merupakan deposit. Perusahaan juga menahan pembelian peralatan dan mesin, ukuran jangka pendek dari pengeluaran masa depan. Perusahaan Bernstein Research Jay Huang memperingatkan bahwa produsen yang lebih kecil secara agresif memotong biaya (dan karyawan) pada akhir tahun lalu, yang menyebabkan suramnya hasil kuartal keempat.

Krisis Uang Tunai

Perusahaan-perusahaan yang gagal membayar obligasi dalam negeri mereka di China antara Januari 2014 dan 31 Desember 2018 sebagian besar dimiliki secara pribadi dan memiliki likuiditas yang lemah

Sebagian dari masalahnya adalah bahwa ini pernah terjadi sebelumnya dan hasilnya tidak menguntungkan. Stimulus China 4 triliun yuan ($590 miliar) pada tahun 2008 juga memotong pajak (termasuk reformasi pajak pertambahan nilai), melonggarkan kredit dan mendorong pengeluaran infrastruktur. Untuk kreditnya, pemerintah China menggagalkan kontraksi ekonomi yang tajam yang akhirnya mempengaruhi ekonomi di seluruh dunia. Hal ini juga menciptakan penumpukan hutang dan semakin melemahkan perusahaan swasta. Meskipun adanya stimulus itu, seperempat industri otomotif tidak mencapai setengah dari target penjualan tahunannya tahun itu.

Sementara itu, semua pengeluaran infrastruktur dialokasikan untuk jalan raya dan kereta api yang masih belum menghasilkan uang. Penghasilan dari jalan raya tidak dapat menutupi pembayaran bunga dan pinjaman pokok yang digunakan untuk membangunnya tahun lalu. Hal ini mendorong utang dalam sistem meningkat hampir 9 persen menjadi 5,3 triliun yuan, menurut analisis Rhodium Group. Pemerintah China baru saja mengumumkan bahwa proyek-proyek ini akan ada lebih banyak.

Tidak mengherankan jika, setelah melihat hasil dari stimulus sebelumnya, perusahaan dan produsen swasta China tidak merespons terhadap rangsangan stimulus yang terbaru ini.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

 Keterangan foto utama: Pekerja yang sedang menganggur. (Foto: Bloomberg/Qilai Shen)

Perusahaan China Hadapi Krisis Kepercayaan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top