relawan jokowi 2019
Titik Balik

Picu Perpecahan, Jokowi Tidak Sepatutnya ‘Ajak Berantem’ Relawan

Joko Widodo menghadiri demonstrasi kampanye pada tanggal 5 Juli 2014, di Jakarta, Indonesia. (Foto: Getty Images/Oscar Siagian)
Berita Internasional >> Picu Perpecahan, Jokowi Tidak Sepatutnya ‘Ajak Berantem’ Relawan

Pidato Jokowi yang ‘mengajak berantem’ menimbulkan pro dan kontra. Beberapa kritikus mengatakan bahwa hal ini tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang pemimpin negara karena dapat memicu perpecahan di antara rakyatnya, apalagi hal ini ia sampaikan di hadapan relawan Jokowi. Beberapa bahkan menyebut Presiden Jokowi lupa akan kapasitasnya.

Baca Juga: Pilpres 2019: Kelompok dengan ‘Ribuan Anggota’ Dukung Anies Baswedan untuk Tantang Jokowi

Pidato ‘Ajak Berantem’ Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) yang ia sampaikan di hadapan relawannya di Sentul telah memicu kontroversi.

Presiden dalam rapat umum dengan barisan relawan Jokowi di Sentul International Convention Center (SICC) mengatakan, “Jangan bangun permusuhan, ujaran kebencian, dan fitnah-fitnah. Tidak usah mencela dan menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani.”

Beberapa pejabat tinggi pemerintah telah menyuarakan kekecewaannya tentang hal ini. Presiden dinilai memicu perpecahan di antara rakyatnya, dan ini tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang pemimpin negara.

Mantan Sekjen Projo (Pro Jokowi), Guntur Siregar, menganggap Presiden Jokowi telah memprovokasi rakyatnya. “Bukannya mencairkan suasana menjelang pilpres tetapi malah kesannya provokasi rakyat biar terjadi benturan antar pendukung. Tidak sepantasnya seorang presiden ucapkan pernyataan itu,” katanya, dikutip dari Indopos.co.id.

Senada, Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, juga mengatakan bahwa Presiden Jokowi tidak patut untuk melakukan tindakan yang mengadu domba rakyatnya sendiri. “Berhentilah memecah belah rakyat. Pak Jokowi harus mulai pidato sebagai negawaran. Yang membuat kita semua terpukau,” ungkapnya pada Suara.com.

“Orang rela yang datang berkerumun dengan ketidakjelasan itu mau disuruh berantem, kalau berantem siapa mau tanggung jawab?” tambahnya.

Partai oposisi Gerindra melalui anggota Badan Komunikasi partainya, Andre Rosiade, turut menyayangkan ucapan Presiden Jokowi dalam pidatonya. Andre menyebut Presiden Jokowi lupa akan kapasitasnya.

“Jokowi lupa dia berbicara sebagai capres atau sebagai presiden yang memimpin negaranya,” jelasnya, seperti yang dilansir dari Idntimes.com. Menurut Andre, seorang presiden seharusnya tidak membuat narasi kebencian seperti itu.

Wasekjen DPP Partai Demokrat, Andi Arief, menyatakan bahwa Presiden Jokowi telah “secara eksplisit menganjurkan perang sipil.” Melalui akun Twitter-nya @AndiArief_, ia juga mengungkapkan kekhawatirannya jika sampai ada korban yang jatuh karena ajakan ‘berantem’ presiden tersebut.

Andi khawatir jika sampai hal itu terjadi, hubungan antar warga negara akan berada dalam bahaya perpecahan. Menurutnya, Polri harus segera menangkap presiden karena memerintahkan kekerasan yang “lebih berbaya ketimbang terorisme.”

Dari berbagai sumber.

Keterangan foto utama: Joko Widodo menghadiri demonstrasi kampanye pada tanggal 5 Juli 2014, di Jakarta, Indonesia. (Foto: Getty Images/Oscar Siagian)

Picu Perpecahan, Jokowi Tidak Sepatutnya ‘Ajak Berantem’ Relawan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top