Titik Balik

Pilkada Usai, Jokowi Belum Aman Melenggang di Pilpres 2019

Presiden Indonesia Joko Widodo pada KTT Peringatan 40 Tahun ASEAN-Kanada, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-31 di Manila. (Foto: AFP)
Berita Internasional >> Pilkada Usai, Jokowi Belum Aman Melenggang di Pilpres 2019

Usai Pilkada, apakah Jokowi sudah aman untuk melenggang di Pilpres 2019? Menurut Kajitow Elkayeni, posisi Jokowi belum benar-benar aman, sampai muncul kandidat lawannya dan diatasi dengan strategi yang tepat. Selain itu, pilihan Cawapres juga akan menentukan nasib perolehan suaranya.

Baca Juga: Opini: Pilpres 2019 Jadi Babak Baru Jokowi vs PDI-P

Oleh: Kajitow Elkayeni

Di atas kertas, Jokowi seolah tak ada lawan. Kepala daerah yang baru saja terpilih kemarin kebanyakan orangnya Jokowi, termasuk Edy Rahmayadi yang didukung PKS dan Gerindra. Namun harus diakui, Pilkada berbeda dengan Pilpres. Peran hasil Pilkada adalah soal kekuatan mesin politik.

Kepala daerah yang terpilih itu punya kekuasaan, kepopuleran, keintiman dengan warganya. Tentunya mereka punya peluang sangat besar untuk mempengaruhi pemilih. Oleh sebab itu, Pilkada serentak kemarin itu dikatakan rasa Pilpres.

Meskipun demikian, Pilpres itu persoalan individu. Sekuat apa pun mesin, jika figur yang diangkat tak punya karisma, pemilih akan beralih. Sebaliknya, figur yang kuat tanpa mesin yang kokoh, suaranya hanya akan digerogoti lawan.

Seusai pilkada kemarin dilakukan jajak pendapat menyoal pilihan presiden 2019. Exit poll itu memunculkan data yang cukup mengejutkan. Di Jawa Barat menunjukkan, perolehan suara Prabowo (51,2%) vs Jokowi (40,3%). Jateng: Prabowo (19,7%) vs Jokowi (73,1%). Jatim: Prabowo (28,3%) vs Jokowi (64,2%). Sumatra Utara: Prabowo (40,4%) vs Jokowi (52,8%). Sulawesi Selatan: Prabowo (38,4%) vs Jokowi (50,0%).

Terlihat dari persentase, posisi Jokowi hanya benar-benar kuat di Jatim dan Jateng. Perbedaan tipis di beberapa wilayah itu bisa diserobot. Ingat kejadian Sudirman Said dan Sudrajat yang menyerobot suara di detik-detik terakhir. Padahal di survei sebelumnya, suara mereka terpaut jauh.

Baca Juga: Kandidat ‘Mirip Trump’ Bersiap untuk Pilpres 2019

Dengan strategi yang sama, perbedaan suara 10-15 persen dalam exit poll itu tidak aman. Untuk itu, pihak Jokowi harus membuat strategi khusus untuk melawan gerilya lawan politiknya.

Khusus Jabar, fokus timses adalah memperkecil selisih suara. Dulu Jokowi hanya mengantongi suara 40,22%. Persis seperti persentase dalam exit poll. Meskipun sekarang, peta politik memang sudah berubah. Ridwan Kamil sudah mendeklarasikan dukungan terhadap Jokowi. Itu artinya akan ada tambahan suara signifikan dari Jabar.

Merebut suara di Jawa Barat tetap sulit, ketika memahami daerah itu adalah kantong Islam garis keras sejak negara ini baru merdeka. Oleh karena itu, ormas-ormas yang tidak cocok dengan langkah Jokowi membubarkan HTI, tidak akan mendukungnya. Isu ini akan dipakai untuk menggoyahkan pilihan penduduk Jabar.

PKS boleh kalah dalam Pilkada Jabar, musuhnya terlalu banyak. Namun melihat gerilya mereka yang mengejutkan, simpatisan mereka bisa dikerucutkan untuk satu atau dua lawan di Pilpres.

Untuk Jateng dan Jatim, Jokowi memang tak perlu agresif menyerang. Fokus lawan Jokowi memang tak memenangkan suara di dua wilayah ini. Kecuali ada kandidat putra daerah dari dua wilayah ini yang maju sebagai Capres atau Cawapres. Peta persentase pemilih bisa berubah.

Misalnya Anies maju, otomatis suara Jateng akan terbelah. Atau AHY yang maju, serta-merta suara Jatim akan goyah. Besaran suara pemilih Jokowi ditentukan pula oleh nama lawannya.

Untuk wilayah Sumatra, Sumbar dan Aceh pernah dimenangkan Prabowo. Di provinsi lain Jokowi menang tipis. Elektabilitas Jokowi mungkin akan bertambah seiring masifnya pembangunan di luar Jawa. Isu-isu yang menghantam Jokowi sudah mendapat kejelasan karena rentang waktu lama. Persoalannya, bagaimana jika isu semacam itu direproduksi?

Penyebaran informasi tidak selancar di Jawa. Bahkan di daerah Jawa sekali pun ada wilayah yang tidak menyerap informasi dengan cepat. Banyak sekali daerah-daerah pelosok yang lebih percaya individu. Maka ketika masuk isu negatif ke daerah seperti itu, penanggulangannya akan sangat lambat.

Dulu di Sumbar dan Aceh, isu anak PKI dan China menggerus suara Jokowi cukup signifikan. Di Aceh mungkin tidak begitu memiliki efek, karena mereka lebih trauma pada mantan militer yang menindas di Zaman Orde Baru. Sementara di Riau dan Sumsel Jokowi pernah kalah tipis. Daerah-daerah itu juga perlu konsentrasi dan strategi yang lebih baik.

Di Kalimantan suara pemilih Jokowi mayoritas, begitu juga Sulawesi. Peta ini akan berubah jika ada calon lawan dari putra daerah yang maju di Pilpres mendatang. Dulu suara Jokowi kuat karena ada nama JK. Pembangunan yang luar biasa, pembagian sertifikat, penyamaan harga BBM, memang akan menjadi kredit poin buat Jokowi. Namun jika munucul nama putra daerah tentu akan diberi kesempatan.

Di kaukus Maluku, hanya Maluku Utara yang pernah lepas dari genggaman Jokowi tahun 2014. Sekarang Peta mungkin juga sudah berubah. Sementara NTB adalah antitesis dari NTT. Satu provinsi mayoritas memilih Jokowi, satunya lagi Prabowo. Problem di NTB hampir sama dengan Sumbar, suara kaum agamis digerus isu PKI. Tetapi ketika melihat Tuan Guru Bajang memberikan sinyalemen dukungan ke Jokowi, agaknya peta NTB juga sudah berubah.

Baca Juga: Opini: Strategi Jokowi untuk Pilpres 2019 Makin Jelas

Kemenangan Jokowi ditentukan oleh ketaktisan tim suksesnya. Beberapa daerah yang sudah jelas rawan sejak awal, perlu mendapat penanganan khusus. Posisi Jokowi belum benar-benar aman, sampai muncul kandidat lawannya dan diatasi dengan strategi yang tepat.

Jawa tetap menjadi kunci, jika melihat peta politik, hanya kandidat kuat lain dari Jawa yang mampu mengubah persentase. Jika itu terjadi, maka pertarungan sesungguhnya ada di daerah lain. Posisi di Jawa sudah terkunci oleh figur masing-masing putra daerah.

Elektabilitas Prabowo memang semakin melemah. Sebaliknya, nama Anies, Gatot, dan AHY mulai menggantikan. Di belakang itu adalah persoalan partai pendukung. Besar kemungkinan hanya akan ada dua calon kandidat. Mereka mestinya bersatu. Namun mereka juga harus memikirkan kandidat dari luar Jawa untuk memecah suara Jokowi di sana.

Hitung-hitungan politiknya tidak mudah. Terlalu banyak kepentingan.

Jokowi memang masih bertaruh dengan banyak kepentingan di sekitarnya, tapi kalau berbicara tentang Prabowo, posisinya jauh lebih mengenaskan. Nama-nama baru yang lebih menjanjikan siap menggeser peruntungannya. Partai pendukung yang selama ini jadi bahu sandaran akan berpikir realistis. Dan yang lebih menyedihkan, keuangan Prabowo juga tidak sedang sehat.

Persiapan laga Pilpres 2019 sebenarnya sudah dimulai satu atau dua tahun lalu. Peta politik memang terus bergeser, tapi secara makro arahnya stabil. Jokowi menguat, Prabowo menurun. Namun bisa dikatakan, Jokowi sekalipun belum benar-benar aman. Pilihan Cawapresnya akan menentukan nasib perolehan suaranya.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo pada KTT Peringatan 40 Tahun ASEAN-Kanada, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-31 di Manila. (Foto: AFP)

Pilkada Usai, Jokowi Belum Aman Melenggang di Pilpres 2019

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top