Pilpres 2019
Berita Politik Indonesia

Pilpres 2019: Prabowo Tiru Pemangkasan Pajak ala Trump untuk Dongkrak Ekonomi

Berita Internasional >> Pilpres 2019: Prabowo Tiru Pemangkasan Pajak ala Trump untuk Dongkrak Ekonomi

Dalam kampanyenya untuk Pilpres 2019, kandidat presiden Prabowo Subianto akan mensontek dari buku kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Mantan jenderal itu, jika terpilih, akan menerapkan pemangkasan pajak progresif yang telah secara sukses dilakukan Trump. Ekonomi telah menjadi fokus utama dalam pemilihan presiden Indonesia kali ini.

Baca juga: Analisis Pilpres 2019: Mengapa Jokowi Berpotensi Kalah di Sumbar

Oleh: Bloomberg/Straits Times

Kandidat untuk Pilpres 2019, Prabowo Subianto mengajukan pemangkasan pajak yang besar untuk menstimulasi ekonomi terbesar di Asia Tenggara, menyalin formula yang telah secara sukses digunakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Prabowo dan pendampingnya Sandiaga Uno akan menurunkan pajak perorangan dan perusahaan antara 5 dan 8 persen dalam jangka waktu lima tahun dan memperlebar rasio pajak-ke-bruto produk domestik sampai setidaknya 16 persen dari sekitar 11 persen, menurut Anthony Budiawan, seorang anggota dari tim kampanye pasangan calon untuk Pilpres 2019 itu.

Penurunan pajak akan berujung pada keselarasan yang lebih besar dan memungkinkan pemerintah untuk memangkas pinjamannya untuk mendanai bujet, jelas Anthony.

Ekonomi telah menjadi tajuk utama dalam kampanye Pilpres 2019 di Indonesia. Prabowo menyerang kebijakan calon petahanan Presiden Jokowi yang telah menambah hutang pemerintah untuk menandai pembangunan jalan-jalan, pelabuhan-pelabuhan, dan bendungan yang bernilai milyaran.

Pembengkakan hutang pemerintah dan tingginya kepemilikan asing adalah faktor-faktor dalam satu penjualan pasar besar-besaran tahun lalu, yang telah menjerumuskan rupiah sampai ke level yang tidak terlihat sebelumnya sejak krisis keuangan Asia di tahun 1997-1998.

“Pajak perusahaan kami adalah salah satu yang paling mahal di regional ini,” ujar Rizal Ramli, mantan menteri keuangan, kepada para wartawan di Jakarta, Jumat (11/1).

Indonesia saat ini memiliki pajak perorangan tertinggi pada angka 30 persen dan tarif pajak perusahaan pada angka 25 persen.

Prabowo kembali menantang Presiden Jokowi, dalam pertandingan pengulangan dari Pilpres 2014, saat ia kalah tipis dan mantan pengusaha mebel itu. Jokowi juga adalah presiden non-elit pertama yang pernah menjabat.

Mantan jenderal itu telah memilih Sandiaga Uno, seorang pengusaha sukses, dan telah menyalahkan hutang publik yang tinggi serta merosotnya mata uang akibat dari kesalahan pengelolaan ekonomi di bawah pemerintahan Jokowi.

Jika terpilih, Prabowo juga akan memperkenalkan tarif pajak pribadi yang progresif, dengan mereka yang kaya akan membayar lebih untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, ujar Anthony.

Potongan antara 5 dan 8 persen pada pajak perusahaan bisa mendongkrak pertumbuhan ekoomi sampai 0,7 persen per tahun dalam jangka pendek, dan mencapai peningkatan 1 persen dalam rasio-pajak-ke PDB, ujar Harryadin Mahardika, anggota tim ekonomi yang lain.

Sementara pemerintahan Jokowi telah gagal meningkatkan rasio pajak walaupun telah memperkenalkan Amnesti Pajak sambil terus mengandalkan pemasukan dari komoditas dan hutang untuk mendanai bujet, administrasi Prabowo akan mengubah birokrasi pajak untuk menjadikannya lebih efisien, jelas Mahardika.

“Semua orang sudah tahu kemampuan Prabowo dan Sandi. Mereka adalah pengusaha dan tahu apa yang mereka lakukan,” ujar Mahardika. “Administrasi saat ini memberikan harapan palasu. Kami tidak akan melakukan hal itu. Kami bisa menjadikan Indonesia hebat lagi seperti yang telah dikatakan Prabowo.”

Jokowi, yang saat terpilih menjanjikan pertumbuhan ekonomi tahun sampai 7 persen, dipastikan tidak akan mencapai target karena ekonomi Indonesia hanya mencapai peningkatan sampai 5 persen di bawah pemerintahannya.

Baca juga: Politik & Ekonomi Indonesia Pasca Pilpres 2019: Kurang Lebih Masih Sama?

Namun, calon petahana itu tetap memimpin sampai 20 poin dalam polling opini terhadap Prabowo setelah ia menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru dan menghabiskan miliaran dolar untuk membangun jalan-jalan, pelabuhan, dan bandara untuk memangkas biaya logistik di negara kepulauan Indonesia.

Calon petahana, yang berpasangan dengan Ma’ruf Amin, seorang ulama Muslim konservatif, akan fokus terhadap fiskal dan reformasi struktural dan mengembangkan manufaktur dan industri berorientasi ekspor untuk menciptakan lebih banyak pekerjaan, menurut manifesto pemilihan Jokowi.

Kombinasi Prabowo-Uno juga akan melibatkan lebih banyak partisipasi sektor pribadi dan mengakhiri dominasi perusahaan-perusahaan milik negara dalam berbagai proyek dan memilih untuk menciptakan lebih banyak kesepakatan perdagangan bebas multilateral dibanding pakta bilateral.

Agenda pasangan itu juga termasuk memberikan lebih banyak perlindungan terhadap industri lokal tertentu, seperti yang telah dilakukan Trump. Mahardika mengatakan, Uno akan bertindak seperti duta besar ekonomi yang akan berkeliling dunia untuk memajukan kepentingan perdagangan dan ekonomi Indonesia.

Poin-poin utama dari rencana ekonomi Prabowo termasuk:

  • Mengurangi ketergantungan pada minyak kelapa sawit untuk bioenergi dan mengambil 10 juta hektar lahan yang tersedia untuk menghasilkan pangan yang bisa memproduksi ethanol.
  • Industri pariwisata, energi, dan kreatif akan dibukan untuk investasi perorangan.
  • Mempromosikan industrialisasi dan memastikan hubungan ke depan dan ke belakang
  • Menciptakan badan independen untuk mengumpulkan pajak.

Keterangan foto utama: Jika terpilih sebagai presiden, Prabowo Subianto akan memperkenalkan tarif pajak individu yang progresif, dengan mereka yang kaya akan membayar lebih besar untuk memastikan ekonomi yang lebih adil. (Foto: Facebook/Prabowo Subianto)

Pilpres 2019: Prabowo Tiru Pemangkasan Pajak ala Trump untuk Dongkrak Ekonomi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top