Indonesia Ultimatum Separatis Papua: 'Menyerah atau Kami Habisi'
Berita Politik Indonesia

Indonesia Ultimatum Separatis Papua: ‘Menyerah atau Kami Habisi’

Berita Internasional >> Indonesia Ultimatum Separatis Papua: ‘Menyerah atau Kami Habisi’

Ancaman menteri pertahanan datang setelah pembantaian massal pekerja konstruksi di daerah terpencil di provinsi Papua. Polisi saat ini tengah menyelidiki laporan, bahwa ada 31 pekerja yang dihabisi oleh kelompok separatis. Serangan itu merupakan serangan terburuk dalam demokrasi modern Indonesia. 

Oleh: Associated Press/South China Morning Post

Baca Juga: Masalah Utang Indonesia? Itu Belum Cukup

Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu pada hari Selasa (4/11) mengecam pembunuhan 31 pekerja konstruksi dan seorang tentara oleh separatis di provinsi Papua yang bergolak di Indonesia selama dua hari sebelumnya.

“Mereka bukan hanya penjahat, tetapi separatis,” katanya kepada wartawan di ibukota Jakarta, menambahkan bahwa itu adalah salah satu serangan terburuk di negara itu dalam beberapa tahun terakhir.

“Mereka ingin memisahkan Papua dari Indonesia, jadi mereka harus berurusan dengan militer, bukan polisi. Tidak akan ada negosiasi. Mereka menyerah atau kita menghabisi mereka,” katanya, mengeluarkan ultimatum kepada para penyerang, yang diyakini anggota kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Pasukan keamanan berusaha menangkap para penyerang dan mengambil tubuh para pekerja, yang telah bekerja untuk sebuah perusahaan konstruksi milik negara, kata pihak berwenang.

Juru bicara kepolisian Papua, Suryadi Diaz, mengatakan pada hari Senin (3/11) bahwa para pekerja Istaka Karya yang berbasis di Jakarta diserang pada hari Minggu (2/11) ketika sedang mengerjakan proyek pembangunan jembatan di Yigi.

Dia kemudian menambahkan bahwa 24 pekerja ditembak mati di lokasi konstruksi dan delapan lainnya berhasil melarikan diri dan bersembunyi di kediaman seorang anggota dewan setempat. Para penyerang bersenjata menemukan tempat persembunyian mereka pada hari berikutnya dan menewaskan tujuh orang, dengan pekerja kedelapan berada dalam kondisi kritis.

Polisi hanya diberitahu tentang serangan pada Senin sore (3/11) karena keterpencilan lokasi, kata Suryadi.

Seorang tentara juga ditemukan tewas di distrik Mbua di dekatnya, dengan pemberontak diyakini bertanggung jawab, menurut Letnan Kolonel Dax Sianturi, wakil komandan Komando Daerah Militer Cendrawasih yang mengawasi provinsi itu.

Para pekerja yang tewas adalah bagian dari tim yang membangun 14 jembatan di segmen jalan sepanjang 278 kilometer yang direncanakan di Papua. Saat ini, sebagian besar wilayah bumi cendrawasih, yang tertutup oleh hutan lebat, hanya dapat diakses melalui udara atau berjalan kaki.

Segera setelah serangan itu, pemerintah mengatakan bahwa mereka menangguhkan semua pembangunan jembatan di wilayah itu sampai rekomendasi diterima dari militer dan polisi setempat.

Papua, yang terletak di bagian barat pulau Nugini, diambil alih oleh Indonesia dari penjajah Belanda pada tahun 1963 dan dimasukkan ke dalam negara itu setelah sebuah plebisit tahun 1969 yang disetujui PBB.

Sejak itu, gerakan separatis yang telah lama berjalan dipimpin oleh Organisasi Papua Merdeka.

Pemberontak gerakan dan beberapa kelompok terpecah, yang berjuang untuk kemerdekaan, di masa lalu menculik orang-orang lokal dan orang asing, sementara menyerang personil keamanan pemerintah dalam upaya untuk mendapatkan perhatian internasional.

Baca Juga: Mengapa Indonesia Bertempur Layaknya Avenger untuk Globalisasi

Keterangan foto utama: Indonesia telah memerangi kelompok pemberontak Organisasi Papua Merdeka (OPM) selama puluhan tahun. (Foto: AFP)

Indonesia Ultimatum Separatis Papua: ‘Menyerah atau Kami Habisi’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top