Politik dan Data: Bagaimana Cambridge Analytica Asah Kemampuannya di ASEAN
Asia

Politik dan Data: Bagaimana Cambridge Analytica Asah Kemampuannya di ASEAN

Bendera-bendera negara anggota ASEAN di Jakarta. (Foto: Gunawan Kartapranata via ASEAN Today)
Home » Featured » Asia » Politik dan Data: Bagaimana Cambridge Analytica Asah Kemampuannya di ASEAN

Cambridge Analityca dan perusahaan induknya telah beropreasi di ASEAN semenjak 1998. Pengaruh apa yang mereka miliki dan apakah aktivitas yang mereka lakukan legal?

    Baca juga: Facebook dan Cambridge Analytica Hadapi Gugatan Massal

Oleh: ASEAN Today

Amerika Serikat (AS) sedang sibuk mengungkap keterlibatan Cambridge Analytica (CA) dalam pemilu di AS. Pengungkapan yang menakjubkan menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah mengumpulkan data pada 50 juta pengguna Facebook. Mereka kemudian menggunakan data tersebut untuk mempengaruhi segmen kunci populasi untuk kepentingan pencalonan pada pemilu 2016 di Amerika Serikat. Ada bukti yang menunjukkan bahwa CA telah mengasah kemampuannya dalam kaitannya dengan lanskap politik di ASEAN.

Apa yang kita tahu?

Pada 1998, SCL Group, perusahaan induk CA, tiba di Indonesia. Pemerintahan Suharto baru saja runtuh. SCL mengklaim bahwa kelompok pro demokrasi Indonesia menghubungi firmanya untuk membantu mereka dengan reformasi politik.

Kewajiban perusahaan Inggris tersebut diduga termasuk melakukan survey kepada publik Indonesia. Mereka juga mengorganisasi  aksi demonstrasi di universitas untuk mengerahkan kekecewaan para pemuda agar jauh dari kerusuhan. Protes yang terorganisasi memberikan mahasiswa sebuah wadah. Hal ini membuat mereka percaya bahwa pemerintah telah mendengarkan suara mereka. Oleh karenanya mereka semakin sedikit menunjukkan ketidakpatuhan publik.

SCL juga ikut campur dalam kampanye pemilihan Wahid. Wahid sendiri menyatakan ” Saya berhutang kepada SCL atas manajemen strategis mereka yang berhasil mensukseskan pemilihan saya.”

SCL juga aktif di Thailand. Mereka menilai skala pembelian suara di sepanjang Thailand sebelum pemilu 2001. Mereka memiliki sekitar 1200 orang yang bekerja dalam proyek tersebut.

Di Malaysia, keterlibatan SCL dan CA telah menjadi sesuatu yang lebih samar. Dalam laman situs CA, perusahaan tersebut mengklaim bahwa mereka memberikan pelayanan kepada Barisan Nasional (BN) pada pemilu 2013. Mereka mengklaim telah membantu partai tersebut mengamankan kemenangan di provinsi pinggiran di Kedah. Pemimpin BN, Perdana Menteri Najib Razak telah membantah klaim bahwa BN telah menghubungi firma tersebut.

Bahkan jika Barisan Nasional tidak menghubungi firma, seorang individu dari partai mungkin saja melakukannya. Mantan Sekretaris pers Mukhriz Mahathir bernama Azrin Zizal mengklaim bahwa Mukhriz telah mempekerjakan CA sebelum pemilihan umum.

Seberapa efektif kelompok di Asia Tenggara?

Meskipun SCL dan CA aktif di ASEAN, efektifitas mereka di kawasan tersebut masih belum jelas. Pemerintahan Wahid gagal menstabilkan Indonesia, terlepas dari aktivitas yang dilakukan SCL. Ini menunjukkan bahwa pelayanan perusahaan tersebut tidaklah efektif pada saat itu.

Bagaimanapun di Malaysia, perusahaan tersebut memiliki pengaruh yang lebih luas. BN memenangkan enam kursi tambahan di Kedah pada 2013, prestasi Azrin Zizal yang dikaitkan dengan keterlibatan CA.

Di Thailand, SCL juga memiliki pengaruh yang kuat. Mereka mengunggulkan 91 konstituen dimana pembelian suara menjadi satu hal yang memberikan perbedaan signifikan dalam pemilu. Dalam kerjasama dengan partai mayoritas, SCL menerapkan rencana untuk menggulingkan pembelian suara. Mereka mengklaim bahwa mereka berhasil mengurangi pembelian suara hingga 31 persen di seluruh Thailand.

Praktek perusahaan tersebut tidak melanggar hukum apapun

Keterlibatan SCL dan CA dalam politik di Asia Tenggara tidak melanggar hukum apapun. Kampanye berdasarkan data diizinkan baik dalam penerapan politik di Asia Tenggara maupun di Barat.

CA dan SCL mungkin saja telah melanggar kode praktik Facebook. Namun kecuali perusahaan tersebut telah mengumpulkan data yang sifatnya sensitif, tidak akan ada aksi legal yang dapat menghukum mereka.

Mungkin saja legal, namun berbahaya

Memang besar kemungkinannya bahwa tidak ada hukum yang dilanggar oleh mereka, namun praktik yang dilakukan oleh CA dan SCL memiliki dampak sosial yang sangat berbahaya. Perusahaan tersebut mungkin saja telah mengumpulkan data psikografis yang banyak mengenai individu. Politisi dapat melakukan “micro-target” kepada profil psikografis spesifik dengan pesan kampanye tertentu. Mereka juga dapat membangun profil di demografi yang mendukung dan menentang beberapa kebijakan.

Demografi micro-targeting dengan pesan terkostumisasi dapat berujung pada polarisasi. Di Indonesia etnisitas sangat berkaitan erat dengan politik. Pesan tertentu yang ditujukan kepada etnis tertentu dapar meningkatkan panasnya hubungan antar etnis.

Penetrasi media sosial sekarang sedang tinggi di beberapa negara ASEAN. Lebih dari 50 persen populasi di kebanyakan negara aktif menggunakan Facebook. Ini kemudian membuka kemungkinan atas koersi dan kontrol politik kepada populasi. Dampaknya dapat memberikan konsekuensi yang tersebar luas disepanjang segmen-segmen besar populasi.

    Baca juga: Kasus Cambridge Analytica: Apa yang Akan Dikatakan Mark Zuckerberg pada Kongres

FOTO: Data Pengguna Facebook di ASEAN pada 2017 (dalam juta). (Foto: Statistia, Worldometers)

Akses kepada data psikografis pemilih merupakan alat berharga bagi persekongkolan. Pemetaan wilayah pemilih berdasarkan pola pemilih dan kecenderungan kebijakan akan menguntungkan pemerintahan inkumben. Hal ini semakin mempersulit partai oposisi untuk menggusur partai inkumben.

Pengumpulan data tidak akan berakhir dalam waktu dekat

Menteri Komunikasi Indonesia Rudiantara mengatakan bahwa dia akan menutup Facebook jika CA masih menggunakannya untuk mengumpulkan data personal pemilih Indonesia. Dia mengatakan dalam sebuah wawancara, “jika kita harus menutup mereka, saya akan melakukannya.”

Bagaimanapun, pemerintah Indonesia mungkin saja tidak benar-benar akan mewujudkan ancaman tersebut. Pengumpulan data telah mengubah dasar pemilihan politik. Hal ini telah menjadi alat yang terlalu kuat untuk dihilangkan. Asia juga merupakan tanah yang rapuh. Penetrasi media sosial muncul lebih cepat dari yang daripada kemunculan hukum mengenai privasi.

Namun ada juga aspek positif dalam aktivitas CA dan SCL. Contoh kasusnya adalah Thailand, dimana mereka berhasil mengurangi kemunculan pembelian suara. Pengumpulan data dapat digunakan sebagai cara untuk mempromosikan demokrasi. Namun harus ada pengaman yang akan menghentikan penggunaannya dalam hal yang berkaitan dengan anti-demokrasi dan cara yang terpolarisasi.

Tanpa adanya pengaman, persatuan demokrasi di seluruh kawasan akan berada dalam bahaya. Orang-orang tidak akan lagi percaya terhadap pengaruh politisi. Politisi akan memanipulasi dan menghasut orang-orang melalui micro-targeting dan persekongkolan. Satu hal yang dapat menjadi alat berharga untuk mendukung demokrasi, dapat merusak demokrasi di ASEAN.

Keterangan foto utama: Bendera-bendera negara anggota ASEAN di Jakarta. (Foto: Gunawan Kartapranata via ASEAN Today)

Politik dan Data: Bagaimana Cambridge Analytica Asah Kemampuannya di ASEAN

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top