Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia ( PSI) Grace Natalie (kanan) bersama Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni (kiri) memegang replika kartu anggota PSI seusai menggelar jumpa pers di DPP PSI, Jakarta Pusat, 15 Desember 2017
Berita Politik Indonesia

Kerap Picu Kontroversi, PSI Hanya Cari Perhatian Milenial

Berita Internasional >> Kerap Picu Kontroversi, PSI Hanya Cari Perhatian Milenial

Tak lama setelah video “Es Teh Manis” Grace Natalie viral di media sosial, PSI kembali menarik perhatian dengan seruan penghapusan SKB menteri terkait pendirian tempat ibadah, dan tagar #PSILawanNasionalisGadungan yang jadi trending topic. Sebagai partai baru, PSI punya cara sendiri agar diingat, dan bertekad untuk menampilkan citra segar khas anak muda, menyebarkan pesan-pesan populer, anti politik kotor, anti korupsi, dan tentu saja, tetap eksis di media arus utama dan media sosial. Tapi kemudian strategi PSI ini menimbulkan pertanyaan, apakah PSI benar-benar partai yang memperjuangkan nilai-nilai yang diklaimnya, ataukah hanya ingin mencari sensasi demi mendulang suara milenial? 

Oleh: Mata Mata Politik

Baca Juga: Kurangnya Gaji PNS Dorong Praktik Korupsi

Sesuai dugaan, tahun politik di Indonesia dimulai dengan cukup panas, khususnya di dunia politik terkait dengan Pilpres 2019. Persaingan antara dua pasangan capres dan cawapres, yakni petahana Joko Widodo-Ma’ruf Amin, dan oposisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, makin terlihat. Tak hanya itu, ada empat partai politik (parpol) baru yang menambah panas iklim politik tanah air.

Salah satu parpol baru yang namanya cukup mencuat, selain Parta Berkarya besutan Tommy Soeharto, adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Kemunculannya di panggung politik Indonesia dikawal berita-berita soal “kemunculan partai milenial di Indonesia” oleh berbagai media arus utama, bahkan oleh media-media asing.

Menjelang Pemilu 2019, partai baru tersebut muncul dan dimaksudkan sebagai entitas politik yang mewakili kaum muda Indonesia, alias generasi milenial. Namun tak lama setelah pendiriannya, PSI pun kembali mengisi tajuk-tajuk berita dengan berbagai kontroversi dan juga pujian.

Lalu apakah PSI benar-benar sebuah partai yang berdedikasi pada anak muda, yang akan memperjuangkan nilai-nilai mereka, ataukah hanya penggembira yang suka mencari sensasi, seperti yang ditudingkan beberapa pengamat dan tokoh politik?

Dalam sebuah tulisan di Gema Indonesia, pengamat politik Ahmad Dahlan menggambarkan sepak terjang PSI sejak pembentukannya, termasuk tokoh-tokoh yang menggawanginya. Ahmad memberi contoh parpol-parpol lain yang sudah lama terbentuk, semuanya memiliki tokoh-tokoh sentral yang sudah malang-melintang di dunia politik. Sebut saja PDI-P dengan Megawati Soekarnoputri, atau Partai Demokrat dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)—keduanya sama-sama pernah menjadi presiden Indonesia.

Ahmad menyorot dua tokoh sentral PSI, yakni Grace Natalie dan Raja Juli Antoni. Melihat track record tokoh-tokoh tersebut, disebut Ahmad, PSI hampir tak memiliki sosok dengan catatan meyakinkan di dunia politik. Sebelum terjun ke dunia politik tahun 2014 lalu, Grace adalah seorang wartawan senior yang belum pernah memegang jabatan penting di bidang politik.

Dia juga menyebutkan Sekjen PSI Raja Juli Antoni, walaupun memiliki catatan akademis yang mengesankan—dia menempuh program Magister di Universitas Bradford, Inggris, dan memperoleh gelar Ph.D dari Universitas Queensland, Australia—belum terdengar namanya di bidang politik praktis.

Tak hanya dua tokoh sentral PSI di atas, Ahmad juga menyinggung nama caleg PSI Tsamara Amani Alatas, yang masih minim pengalaman di dunia politik.

Tsamara diketahui sempat menuai kontroversi terkait komentarnya soal Presiden Rusia, Vladimir Putin, April 2018 lalu. Kritiknya soal Putin mengundang kecaman dari Kedubes Rusia, yang kemudian mengundang Tsamara untuk jumpa pers—politikus muda PSI tersebut tak memenuhi undangan.

Ahmad menyebutkan dalam tulisannya, dengan menampilkan wajah-wajah muda nan segar, PSI mengincar suara anak-anak muda Indonesia. Namun sayangnya, dia juga menyebutkan, parpol tersebut tampak enggan melakukan pembinaan terhadap kader mudanya, seperti terlihat dalam kasus Tsamara Amani.

Baca Juga: Debat Pilpres 2019: Jokowi-Prabowo Gagal Tunjukkan Komitmen Berantas Korupsi

Ketika media resmi Rusia, Russia Beyond The Headline, memprotes dan meminta kedubes Rusia mengundang Tsamara. Ketika politikus tersebut tak datang, PSI sebagai partai pengusungnya tak melakukan tindakan apapun terhadap Tsamara.

“Tsamara Amani tidak memenuhi undangan resmi dari Dubes Rusia, setelah Ketua DPP PSI ini menyerang terlebih dahulu Presiden Putin hanya berdasarkan hasil survei The Economist tahun 2017 dengan interpretasi sendiri,” tulis Ahmad.

Namun di sisi lain, menurut Ahmad, PSI berhasil menuai perhatian dari publik tanah air dengan memenuhi berita di media online maupun di media sosial. Beberapa kontroversi yang ditimbulkan PSI di antaranya soal penolakan perda syariah, ataupun perda berbasis agama manapun di Indonesia.

Penolakan perda syariah dan perda berbasis agama oleh PSI, yang dinyatakan Grace Natalie, disebut telah melukai perasaan banyak orang di Indonesia yang notabene adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

Grace saat itu menyatakan, seperti dikutip Tirto.id, “akan mencegah lahirnya ketidakadilan, diskriminasi, dan seluruh tindakan intoleransi. PSI tidak akan pernah mendukung perda-perda Injil atau perda-perda Syariah.”

Namun penolakan PSI atas perda berbasis agama dinilai tidak selaras dengan tindakan mereka. Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komaruddin, kasus perda syariah adalah bukti ketidakselarasan tersebut. Ujang menilai, jika selaras, tentu PSI sudah hengkang dari kubu Jokowi, yang mengusung cawapres ulama konservatif Ma’ruf Amin.

“Politik itu lebih cenderung kepada yang menguntungkan dirinya. Ketika itu menguntungkan dirinya atau partainya dan bisa lebih terkenal lagi dan mencari celah pendukung baru, (pihak-pihak) yang anti-perda syariah, atau Perda Injil, ya, dia bisa bermain di situ,” kata Ujang kepada Tirto.id.

Kontroversi PSI tak berhenti sampai di situ. Kembali menyerempet hal-hal berbau agama, parpol tersebut menyatakan penolakannya atas poligami. Menurut Grace, poligami adalah bentuk ketidakadilan bagi perempuan. Dia dan kader-kader PSI lainnya menilai, poligami berpotensi menyakiti perempuan dan membuat anak-anak terlantar.

Lagi-lagi, polemik terjadi. Pasalnya, hukum poligami dalam Islam adalah halal. Tidak dilarang, selama suami mampu berbuat adil. Buntutnya, beberapa caleg PSI yang tak setuju dengan pelarangan poligami akhirnya menarik diri dari partai berlogo bunga tersebut.

Tak hanya itu, Ketua Umum Syarikat Kebangkitan Pemuda Islam (SKPI) Farhan Hasan menyebut penolakan terhadap poligami sebagai sikap intoleran dan arogan yang sulit diterima masyarakat Indonesia.

“Ketua partai yang selama ini sering mengkampanyekan Indonesia yang toleran, sepertinya gagal membawa pesan itu dalam tatanan praktik,” kata Farhan, seperti dikutip Gatra.com.

Pembahasan soal kontroversi PSI dalam tulisan Ahmad masih berlanjut. Dia menulis, PSI yang tak kehabisan ide menjadi media darling lalu kembali menuai sensasi, ketimbang prestasi, dengan lelucon “Kebohongan Award”-nya.

PSI diberitakan ‘menganugerahi’ penghargaan “Kebohongan Award Awal 2019” capres dan cawapres oposisi Prabowo-Sandi, serta Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief. ‘Penghargaan’ diberikan lantaran PSI menilai ketiga politisi itu telah berbohong di awal tahun 2019.

“Tahun politik sangat berbahaya, ini tsunami kebohongan luar biasa. Ini harus diantisipasi,” kata Raja Juli, seperti dikutip iNews.id.

Yang terbaru, selain video jenaka “es teh manis” Grace Natalie yang viral di media sosial, PSI kembali menimbulkan kontroversi dengan seruannya untuk menghapus Peraturan Bersama Menteri (PBM) tentang pendirian rumah ibadah.

“Aturan itu justru dipakai untuk membatasi bahkan mencabut hak konstitusional dalam hal kebebasan beribadah,” kata Grace dalam siaran pers PSI yang dikutip Kompas.com, Senin (11/2).

Menurut PSI, aturan tersebut bisa digunakan oleh pejabat, birokrat, dan politisi daerah untuk memihak umat agama tertentu saja, dengan adanya sentimen SARA di Indonesia.

Rencana tersebut segera dikecam Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Yusnar Yusuf. Menurut dia, sebelum memiliki rencana, PSI seharusnya melakukan analisis mendalam supaya rencananya tak jadi bumerang bagi partai baru tersebut.

“Dia harus melakukan analisis dulu dari berbagai variabel, bagaimana kondisi bangsa yang sebenarnya, bagaimana akar rumput, bagaimana agama itu muncul, dan bagaimana munculnya (aturan) rumah ibadah itu, dan sebagainya,” kata Yusnar kepada Republika.co.id.

Yusnar menilai penghapusan PBM justru akan menyebabkan konflik antarumat beragama di level akar rumput.

Sementara itu, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Andre Rosiade mengatakan tak mau ambil pusing dengan tindak-tanduk PSI. Menurut dia, partai baru itu sengaja mencari sensasi, berusaha agar kubu oposisi terpancing dan kemudian tidak fokus terhadap program pembangunan ekonomi Indonesia ke depannya.

PSI yang tampaknya selalu jadi buah bibir setiap kali namanya muncul di media ini dikatakan memang menggunakan kontroversi sebagai strategi marketingnya. Hal tersebut diungkapkan pakar komunikasi politik Universitas Bunda Mulia, Silvanus Alvin. Menurut dia, strategi pemasaran politik semacam ini dilakukan karena perubahan karakter pemilih.

“Dunia politik sekarang sudah tidak lagi didominasi oleh pertarungan ideologi maupun pemikiran politik yang konvensional (yang terlalu serius). Terjadi perubahan yang disebabkan oleh perubahan dari target audiens atau masyarakat yang memiliki hak suara,” kata Alvin kepada CNN Indonesia beberapa waktu lalu, ketika menanggapi kontroversi Kebohongan Awards.

Baca Juga: KPU: 49 Mantan Napi Korupsi Maju Nyaleg

“Kebohongan Awards tidak lebih dari perwujudan politainment atau gabungan politik dan entertainment dalam komunikasi politik.”

Hal ini, menurut Alvin, dimaksudkan agar bisa menarik perhatian pemilih muda yang cenderung tak melahap banyak informasi soal politik. Hanya informasi yang sensasional atau kontroversial saja yang mendapatkan perhatian dari mereka.

“Mereka tidak bisa menyerap semua informasi politik. Hanya yang menarik perhatian saja yang akan diserap mereka,” katanya.

Namun, Alvin menilai, cara-cara yang dilakukan PSI justru membuat gaduh dan berpotensi merugikan kubu Jokowi-Ma’ruf yang didukungnya.

“PSI tampak kurang bisa bersinergi dengan partai-partai pendukung Jokowi lainnya. Golkar yang menegur soal Kebohongan Award malah dibalas PSI soal kasus korupsi di partai itu,” katanya.

Hanya saja, kembali kepada tulisan Ahmad Dahlan, dia memperkirakan penyataan-pernyataan yang penuh kontroversi dari PSI tak bisa diharapkan lagi setelah mereka mendapatkan kursi sebagai wakil rakyat.

“Jenis undang-undang dan lobi politik seperti apa yang bisa dibangun di Senayan oleh orang-orang yang memiliki pandangan seperti ini?” tulis Ahmad. “Jauh sebelum menjadi bagian dari pemerintah Indonesia, PSI melalui Tsamara Amani sudah mengancam hubungan Indonesia, Grace Natalie sudah menyinggung firman yang ada dalam kitab suci umat Islam, PSI telah mengesempingkan sikap saling menghargai dengan Kebohongan Award dan akhirnya kontroversi-kontroversi baru akan muncul sebelum Pemilu 17 April 2019 dimulai.”

Dia menilai, strategi politik PSI ini membuktikan bahwa partai tersebut hanya mementingkan perolehan suara generasi milenial yang mendominasi populasi penduduk Indonesia, yang sebagian tidak mementingkan ideologi ataupun pandangan politik yang serius. “PSI mengesampingkan faktor etika berpolitik demi untuk mendapatkan halaman pertama di media,” tutupnya.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia ( PSI) Grace Natalie (kanan) bersama Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni (kiri) memegang replika kartu anggota PSI seusai menggelar jumpa pers di DPP PSI, Jakarta Pusat, 15 Desember 2017. (Foto: Tempo.co)

 

Kerap Picu Kontroversi, PSI Hanya Cari Perhatian Milenial

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top