Ma’ruf Amin Jadi Senjata Rahasia Jokowi Terkait Agama dan Ekonomi
Titik Harian

Ma’ruf Amin Jadi Senjata Rahasia Jokowi Terkait Agama dan Ekonomi

Joko Widodo bersama Ma'ruf Amin pada tanggal 10 Agustus 2018. (Foto: Bloomberg/Dimas Ardian)
Berita Internasional >> Ma’ruf Amin Jadi Senjata Rahasia Jokowi Terkait Agama dan Ekonomi

Seperti yang kita tahu, petahana Presiden Joko Widodo telah memilih ulama Ma’ruf Amin yang berusia 75 tahun sebagai cawapresnya pada pemilihan presiden mendatang. Walaupun kehebohan terkait penunjukan tersebut sudah berlalu, masih tetap ada satu pertanyaan yang ada di kepala banyak orang. Apakah Ma’ruf Amin, ketua MUI yang berperan dalam kejatuhan sekutu Jokowi, akan menjadi beban atau justru jadi senjata rahasia sang petahana?

Oleh: Mata Mata Politik

Berbeda dengan cawapres pasangan Prabowo, Sandiaga Uno, yang merupakan wakil gubernur Jakarta dan dipandang sebagai politikus “moderat,” Ma’ruf sering dipandang sebagai ulama Muslim konservatif.

Sebagai seorang ulama Islam, banyak orang di Indonesia melihat Ma’ruf sebagai salah satu tokoh Muslim paling berpengaruh di negara ini. Saat ini ia adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), badan ulama terkemuka di Indonesia, yang terdiri dari kelompok-kelompok Muslim seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Selain itu, Ma’ruf juga merupakan pemimpin tertinggi NU organisasi Muslim terbesar di negara ini. Dia juga terlibat dalam politik. Selama masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ma’ruf adalah anggota Dewan Penasihat Presiden.

Sudah jadi rahasia umum bahwa petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih Ma’ruf sebagai cawapresnya untuk meningkatkan kredensial Islamnya. Namun, seperti dijabarkan peneliti dan dosen Universitas Queensland Dr Greta Nabbs-Keller dalam tulisannya, penunjukan Ma’ruf juga meningkatkan kewaspadaan di lingkaran politik internasional dan domestik, dengan keprihatinan tentang harmoni sosial dan pluralisme agama di Indonesia.

Selama beberapa tahun terakhir, para pengamat mengklaim bahwa Islam mulai memainkan peran yang jauh lebih besar dalam membentuk wacana politik negara. Contoh paling jelas dari hal ini adalah pemenjaraan mantan gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada 2016. Banyak yang percaya Ahok kehilangan kursi gubernurnya melawan Anies Baswedan karena meningkatnya protes terhadap Ahok yang diduga menghina Islam.

Jokowi sendiri telah sering diserang oleh kelompok garis keras Islam. Di masa lalu, Jokowi telah dituduh mempromosikan sekularisme liberal dan ada juga desas-desus bahwa dia diam-diam seorang Kristen. Pilihan Jokowi untuk wakil presiden menunjukkan bahwa Jokowi sadar akan peran yang dimainkan Islam dalam politik Indonesia.

Baca Juga: Opini: Ma’ruf Amin Ditekan, Suara NU Goyang

Memilih Ma’ruf Amin adalah langkah taktis untuk membantu menarik pemilih yang lebih konservatif untuk memberikan suara baginya, serta untuk meningkatkan citra Islamnya.

“Jokowi sadar bagaimana apa yang tidak dilakukan Ahok—yakni memastikan penanganan khusus terhadap sentimen Muslim konservatif, seperti yang disaksikan selama protes Aksi Bela Islam 2016—sangat merugikannya secara politis,” tulis Dr Norshahril Saat, seorang peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.

Tetapi bahkan Ma’ruf, yang berperan dalam pemenjaraan Ahok dengan mengeluarkan fatwa penistaan agama dalam kapasitasnya sebagai Ketua MUI, menurut Nabbs-Keller, tampaknya dipandang mampu menengahi dua kubu besar dalam perpolitikan Indonesia.

Menariknya, Nabbs-Keller mencatat, mengingat reputasi MUI yang sangat konservatif, Ma’ruf berkomitmen kepada Dewan Islam Wasithiyah, menginstruksikan dewan tersebut untuk mematuhi dan menyebarkan “teologi toleransi” yang lebih moderat.

Ma’ruf diketahui mendukung amandemen kontroversial dalam Piagam Jakarta 1945, yang dibuat oleh para pemimpin nasionalis, yang menghilangkan frasa tujuh kata yang mewajibkan umat Islam Indonesia untuk mematuhi hukum syariah.

Piagam Jakarta membentuk mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 negara Indonesia. Amandemen tersebut, Ma’ruf menegaskan, adalah tanda “konsensus dan persaudaraan” antar agama.

Mengingat posisi yang diperebutkan agama Islam di negara Indonesia sejak kemerdekaan, dan hilangnya kewajiban mematuhi syariat Islam dalam Piagam Jakarta—yang sampai hari ini masih menjadi sumber kemarahan di sebagian komunitas Islam Indonesia—pernyataan Ma’ruf sangat signifikan.

Dalam kesimpulan pidato yang dia berikan di Singapura pada 17 Oktober 2018 lalu, Ma’ruf mengisyaratkan perubahan kebijakan pemerintah dari memprioritaskan pembangunan infrastruktur, yang jadi ciri khas masa jabatan pertama Jokowi, kepada pengembangan sumber daya manusia Indonesia, khususnya melalui pendidikan kejuruan.

Dia mengatakan pembangunan ekonomi nasional harus mengurangi kesenjangan antara miskin dan kaya dan antara berbagai daerah di Indonesia. Dilemanya, sebagaimana Ma’ruf meringkasnya, adalah “bagaimana memperkuat yang lemah tanpa melemahkan yang kuat” dan “memberikan utilitas maksimum untuk sumber daya manusia dan alam.”

Mar’uf telah berubah menjadi pendukung Islam moderat, yang menurut Nabbs-Keller merupakan disposisi yang lebih cocok untuk komunitas internasional dan minoritas Kristen yang berpengaruh secara ekonomi di Indonesia. Melalui pidato-pidato utama seperti itu, tim kampanye Jokowi, yang dipimpin oleh mantan Ketua Komite Organisasi Asian Games, Erick Thohir, dan didukung oleh para mantan perwira TNI yang berpengaruh, telah memposisikan pemerintah di pusat politik.

Bahkan Ahok, yang telah merasa sangat dirugikan oleh peran MUI dengan kekalahan dan hukuman penjaranya, telah menjanjikan dukungannya untuk Jokowi-Ma’ruf.

Penekanan kebijakan Ma’ruf pada disparitas ekonomi dan pengembangan modal manusia dapat berfungsi untuk mengikis sebagian keuntungan Prabowo dan Sandiaga Uno yang, sampai sekarang, telah mengindikasikan kampanye pemilihan mereka akan berfokus terutama pada ekonomi—tingkat utang negara, pertumbuhan ekonomi, pekerjaan dan harga kebutuhan pokok.

Baca Juga: Alih-alih Menguntungkan, Ma’ruf Amin Jadi Beban Jokowi di Pilpres

Tampaknya pilihan Jokowi atas Ma’ruf sebagai pasangannya, meskipun kontroversial, sedikit banyak telah mengurangi penggunaan agama sebagai senjata oleh kubu oposisi yang dipimpin Gerindra. Seperti yang telah disoroti oleh para analis lainnya, cawapres Ma’ruf juga berpotensi memecah oposisi Islam konservatif yang dikatakan telah dimobilisasi untuk melawan Ahok. Setidaknya, dengan adanya Ma’ruf di sisinya, Jokowi berharap hal yang sama tak akan terjadi padanya.

Keterangan foto utama: Joko Widodo bersama Ma’ruf Amin pada tanggal 10 Agustus 2018. (Foto: Bloomberg/Dimas Ardian)

Ma’ruf Amin Jadi Senjata Rahasia Jokowi Terkait Agama dan Ekonomi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top