hari valentine
Berita Politik Indonesia

Larangan Perayaan Valentine’s Day di Indonesia Tidak Tepat

Ilustratif. Sebagian masyarakat Indonesia protes jika perayaan Hari Valentine dilarang. (Foto: Pixabay)
Berita Internasional >> Larangan Perayaan Valentine’s Day di Indonesia Tidak Tepat

Setiap tanggal 14 Februari setiap tahunnya, sebagian pria dan wanita di seluruh dunia merayakan apa yang disebut sebagai hari kasih sayang, atau Valentine’s Day. Di Indonesia tak terkecuali. Perayaan Valentine di tanah air kerap diwarnai dengan tradisi memberi cokelat, kartu ucapan, pergi makan malam romantis, dan sebagainya. Namun dengan semakin tingginya kesadaran beragama warga Indonesia yang mayoritas Muslim, banyak pihak mengecam perayaan Valentine’s Day yang dianggap tak sesuai syariat Islam dan budaya Indonesia. Beberapa daerah pun menyarankan warganya agar tak merayakan Valentine’s Day dengan edaran resmi pemerintah daerah.

Baca Juga: Pilpres 2019: Politik Identitas, Ujian bagi Demokrasi dan Pluralitas di Indonesia

Oleh: Mata Mata Politik

Perayaan Valentine’s Day setiap tanggal 14 Februari memang sudah jadi kebiasaan sebagian anak muda di Indonesia. Biasanya mereka saling memberi cokelat, kartu ucapan, dan melakukan kegiatan romantis seperti makan berdua pasangan. Namun belakangan ini, perayaan Hari Valentine sering mendapat kecaman dari berbagai pihak, yang menyebutnya tak sesuai syariat Islam dan budaya Indonesia.

MUI adalah salah satu lembaga yang mengimbau agar umat Islam Indonesia tak merayakan Valentine. Memang fatwa haram tak ditetapkan MUI, namun Wakil Ketua Umum MUI Prof Yunahar Ilyas menyebut Hari Valentine bukanlah tradisi Islam yang boleh dirayakan umat Muslim.

“Kita imbau (perayaan Valentine) jangan diikuti bagi umat Islam. Karena ini bukan tradisi Islam,” kata Yunahar kepada Republika.co.id, Selasa (12/2).

Yunahar menyarankan agar kaum muda Muslim melakukan kegiatan lain yang lebih bermanfaat ketimbang merayakan Valentine.

Lain halnya dengan MUI pusat, MUI Jawa Barat tak melarang perayaan Hari Valentine, namun mengimbau umat Islam agar tak melanggar syariat dan tidak berlebihan saat merayakan.

“(MUI Jawa Barat) bukan melarangnya, tapi jangan berlebihan (merayakannya), apalagi menyimpang dari syariat (Islam),” ujar Ketua MUI Jawa Barat Prof KH Rachmat Syafe’i seperti dikutip Republika.co.id, Selasa.

KH Rachmat mengatakan budaya bangsa Indonesia sebaiknya dipelihara dengan baik, karena berbudaya dan bermasyarakat adalah tabiat manusia. Namun menurut dia, budaya tetap tak boleh melanggar prinsip syariat Islam, dan dalam mengembangkan budaya, harus dengan cara yang tak berlebihan dan santun.

Menanggapi maraknya penolakan atas perayaan Hari Valentine, penulis Hasanudin Abdurakhman melalui tulisannya di Detik.com menyarankan agar orang Indonesia jangan termakan dengan klaim-klaim yang dikatakan membahayakan terkait perayaan hari Valentine.

Baca Juga: Bisakah Indonesia Saingi Dominasi Malaysia di Pasar Halal Dunia?

Hasanudin bukannya membolehkan perayaan tersebut, hanya mengkritik mereka yang melarang perayaan Valentine agar lebih memperhatikan perilaku anak muda ketimbang hanya sekedar mengharamkan Valentine. Menurut dia, segala klaim ‘menyeramkan’ soal Valentine, seperti seks bebas, kristenisasi, dan pelanggaran-pelanggaran lain kebanyakan tak selalu berhubungan dengan perayaan Hari Kasih Sayang.

“Banyak orang yang ribut soal Hari Valentine, tapi lalai mengevaluasi hubungan mereka dengan anak-anak… Mungkinkah anak lepas kendali dalam satu hari itu kalau sepanjang tahun mereka terhubung dengan orangtua mereka?” tulisnya. “Kalau anak berperilaku tidak baik, sebabnya bukan perayaan Hari Valentine, tapi karena buruknya pola asuh dan hubungan orangtua-anak.”

Sementara itu, polemik boleh atau tidaknya merayakan Valentine’s Day juga menarik perhatian netizen. Ratusan orang sudah ramai membicarakan soal hari kasih sayang di media sosial, hingga tagar #valentinebukanbudayakita sudah jadi trending topic di Twitter sejak 13 Februari.

Berikut pendapat netizen soal pro kontra perayaan Valentine’s Day. Beberapa menanggapi dengan lelucon, tapi ada juga yang menanggapi dengan sindiran atau protes:

@frsrswt: “Iya wes bukan budaya umat islam tapi jangan resek ya kalo ngaku jadi umatnya Nabi Muhammad. 🙂 Mohon maaf sekadar mengingatkan”

@re_saf: Meski #valentinebukanbudayakita tapi kembali lagi ke ‘Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku’. Yg merayakan, monggo. yg tidak, yauda.”

@BayuAngora: “Valentine bukan budaya kami. Karena budaya kami adalah hoax, fitnah, dengki, dan bom panci”

@yooksungg: “#valentinebukanbudayakita HALAH T**K LEDIK. YANG BIKIN HESTEGNYA JUGA NGASIH COKLAT KAMBING”

@pepivaniaa: “Kalo memang #valentinebukanbudayakita , kenapa ga bikin budaya yang baik aja buat kita semua? Menghargai orang berbeda dan minoritas bagus dijadiin budaya kita. Budaya tolong menolong juga bisa diterapkan jadi budaya kita”

@susu_kaleng2: “#valentinebukanbudayakita budaya kita adalah muncul fatwa haram perayaan musiman yg di perdebatkan tiap tahun tiap musim. Dasar ukhty ukhty kurang kerjaan.”

@bagasgigi: “#valentinebukanbudayakita. Lantas apa budaya kita? Jawablah dulu pertanyaan mendasar itu. Apa budayamu jika kau katakan valentine adalah budaya? jika kau memang tidak suka, anggaplah saja, hari ini kesempatan para penjual coklat meraup keuntungan besar”

@dmsgfr: “#valentinebukanbudayakita such an unnecessary thing to be trending. If you don’t celebrate it, just STFU”

@IntanWidiaArt: “Pagi-pagi nemu tag beginian? #valentinebukanbudayakita selow aja kali, what’s the harm in giving chocolates? Yes, yes, I know the history behind it, and of course we should have had enough brain capacity to know which act that’s wrong and not. *eat chocolate all you want fella”

@breflywesly18: “Kalau mau ngomongin budaya: nyinyir, selfie sampai korupsi juga bukan budaya kita. Tapi banyak yang promosiin. Terus gimana? 😂 #valentinebukanbudayakita”

@zoelfick: “Baiklah,  #valentinebukanbudayakita, tapi jangan budayakan juga kebiasaan teriak-teriak menakuti orang yang berbeda agama seolah Tuhan cuma mampu mengurus pemeluk satu agama saja”

@nda_herdian: “Kalau #valentinebukanbudayakita terus kenapa sih ? wkwkwkwk . Yang merayakan tidak menganggu anda yang tidak merayakan, harusnya anda yg tidak merayakan juga tidak menjudge yg merayakan dengan semburan kutukan masuk neraka”

@knjdvns: “Klo di agama elu gak bolehin yaudalah lu diem aja gak usah banyak bacotlah. lu ngurusin hidup sendiri aja kagak becus sok-sok an ngatain valentine kafir dan sebagainya”

@indigogame: “Tradisi 3,7,14,40,100 hingga 1000 hari, peringatan kematian kok bisa, valentine cuman 1x dlm setahun, kalo di isi nasid boleh nga ya…”

Keterangan foto utama: Ilustratif. Sebagian masyarakat Indonesia protes jika perayaan Hari Valentine dilarang. (Foto: Pixabay)

Larangan Perayaan Valentine’s Day di Indonesia Tidak Tepat

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Supratman

    February 14, 2019 at 10:54 pm

    Good and joob saya saranin ini bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top