cak jancuk
Berita Politik Indonesia

Negatif dan Keterlaluan, Gelar ‘Cak Jancuk’ Tak Pantas untuk Presiden

Joko Widodo menghadiri kampanye pada tanggal 5 Juli 2014, di Jakarta, Indonesia. (Foto: Getty Images/Oscar Siagian)
Berita Internasional >> Negatif dan Keterlaluan, Gelar ‘Cak Jancuk’ Tak Pantas untuk Presiden

Pro-kontra soal gelar ‘Cak Jancuk’ yang diberikan pendukung Presiden Joko Widodo di Surabaya masih berlangsung. Kontroversi ini jadi populer, dan tagar #ItuNamanyaJancuk pun berseliweran di media sosial. Beberapa pihak tidak mempermasalahkan gelar tersebut, terlepas dari konotasi negatif yang melekat pada kata ‘jancuk.’ Namun beberapa pihak lain menyatakan gelar itu tak pantas, kebablasan dan tidak tepat dilekatkan kepada orang terhormat dan lambang negara.

Baca Juga: Gaya ‘Propaganda Rusia’ Dipakai Salah Satu Tim Kampanye Pilpres 2019

Oleh: Mata Mata Politik

Gelar ‘Cak Jancuk’ disematkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) oleh para pendukungnya ketika ia sedang berkampanye di Surabaya, Jawa Timur, pada gelaran Deklarasi Forum Alumni Jatim di Tugu Pahlawan, Sabtu (2/2). Awalnya, gelar yang diberikan hanya ‘cak,’ yakni kependekan dari cakap, agamis, dan kreatif.

Namun kemudian pembawa acara menambahkan kata ‘jancuk’ di belakang gelar tersebut. “Kalau sudah cak-nya, maka tidak komplet kalau tidak ada jancuk-nya. Maka Jokowi adalah jancuk,” kata pembawa acara Djadi Galajapo, seperti dikutip JPNN.com. “ (Jancuk adalah) jantan, cakap, ulet dan komitmen, saudara-saudara,” katanya, yang langsung disambut riuh rendah penonton.

Tapi ternyata, tak semua pihak menyambut meriah pemberian gelar ‘Cak Jancuk’ tersebut. Panitia yang berasal dari Sekertaris Deklarasi Alumni Jawa Timur menyesalkan pemberian gelar itu. “Kami hanya memberikan sebutan Cak saja bagi Pak Jokowi kemarin. Itu saja titik,” kata Sekertaris Deklarasi Alumni Jawa Timur Teguh Prihandoko kepada Detik.com, Minggu (3/2).

Pengamat bahasa dan budaya Henri Nurcahyo tak setuju gelar ‘Cak Jancuk’ diberikan kepada seorang presiden. Walaupun hanya sebagai bentuk dukungan, Henri mengatakan itu sudah keterlaluan.

Cak iku wis benar. Tapi nek jancuk iku kenemenen rek (gelar cak itu sudah benar. Tapi kalau jancuk itu keterlaluan). Kalau menurutku ya nggak layak lah. Buat guyonan sesama konco nggak masalah. Tapi iki presiden mosok dijancuk-jancukno,” kata Henri kepada Detik.com.

Henri mengakui kata jancuk juga bisa berkonotasi positif, tapi secara umum maknanya negatif. Apalagi, menurut dia, jika disematkan kepada presiden yang merupakan lambang negara, itu sangat tidak pantas.

“Dari berbagai versi jancuk itu memang tidak berkonotasi jelek. Tetapi juga tidak semuanya baik. Kalau sekarang ada yang baik dan ada yang jelek ngapain dipakai. Iya kalau orang mengartikan baik. Kalau mengartikan elek piye?” tukas Henri.

Hal senada disampaikan Almuni SMAK Santa Maria Gama Andrea. Seharusnya, menurut dia, julukan itu dihindari saja karena bisa menimbulkan konotasi yang berbeda (dari maksud para pendukung Jokowi yang menjulukinya demikian).

Baca Juga: Jokowi Tersandung-sandung dalam Upayanya Pikat Pemilih Muslim

“Harusnya dilewati dan dihindari perkataan itu, jika disampaikan kepada orang yang tidak kenal akan memiliki konotasi yang berbeda. Meski waktu itu sudah dikolaborasi (diartikan), namun bagi kami tidak pas. Mungkin terbawa suasana atau euforia waktu itu. Intinya kami sangat menyayangkan,” kata Gama seperti dikutip Detik.com.

Tak hanya dari kalangan pendukung Jokowi, kubu oposisi pun heran dengan julukan ‘Cak Jancuk’ tersebut.

“Saya tuh antara percaya dan tidak percaya, apa betul ada gelar itu,” kata Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, Senin. Dia mempertanyakan, apakah Jokowi sendiri bersedia dipanggil ‘Cak Jancuk.’

Namun Fadli menyarankan masyakarat untuk hati-hati menyebut presiden dengan sebutan itu. Ia khawatir, panggilan ‘Cak Jancuk’ nantinya malah dianggap jadi ujaran kebencian.

“Jangan sampai nanti kalau gelar itu diterima terus kita memanggil kepada yang bersangkutan ‘Cak Jancuk’ nanti (dianggap sebagai) hate speech (ujaran kebencian).”

Keterangan foto utama: Joko Widodo menghadiri kampanye pada tanggal 5 Juli 2014, di Jakarta, Indonesia. (Foto: Getty Images/Oscar Siagian)

Negatif dan Keterlaluan, Gelar ‘Cak Jancuk’ Tak Pantas untuk Presiden

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top