Puisi Fadli Zon
Berita Politik Indonesia

Puisi Fadli Zon Tak Serang Ulama, Tapi Pihak yang Mempolitisasi Ulama

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon dikecam karena puisi berjudul 'Doa yang Ditukar.' (Foto: Twitter/Fadli Zon @fadlizon)
Berita Internasional >> Puisi Fadli Zon Tak Serang Ulama, Tapi Pihak yang Mempolitisasi Ulama

“Doa sakral, seenaknya kau begal, disulam tambal, tak punya moral, agama diobral” Itulah bait pertama puisi berjudul ‘Doa yang Ditukar’ yang dikarang Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, yang langsung menuai kontroversi. Puisi Fadli Zon yang menyinggung mengenai doa yang sakral, agama yang diobral hingga rezim yang penuh intrik itu disebut ditujukan kepada KH Maimun Zubair (Mbah Moen), yang beberapa waktu lalu salah menyebut nama Prabowo saat berdoa di sisi Presiden Joko Widodo. Fadli pun menuai kecaman, dan tagar #FadliZonBegalUlama pun sempat jadi trending topic di media sosial.

Baca juga: Zon, Zen, dan Seni Mobilisasi di Indonesia

Oleh: Mata Mata Politik

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon menyebut puisi Doa yang Ditukar dia tulis bukan untuk menyinggung KH Maimun Zubair (Mbah Moen), yang pada tanggal 1 Februari 2019 lalu salah menyebut nama Prabowo Subianto saat sedang berdoa di samping Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia membantah tudingan bahwa puisi tersebut dibuat untuk menyindir Mbah Moen atau ulama manapun.

Fadli pun meminta agar media tak menggoreng isu tersebut, dan agar masyarakat memahami puisi dengan pemahaman Bahasa Indonesia yang benar.

“Saya menulis puisi gak ada maksud sedikit pun untuk (menyinggung) Kiai Moen. Justru (puisi) untuk makelar yang mengubah,” kata Fadli seperti dilansir Beritasatu.com, Kamis (7/2).

Fadli menyatakan, dia ingin mengkritik pihak yang “merevisi” doa Mbah Moen, yang direkam pada saat gelaran doa bersama dengan Presiden Jokowi. Dia menilai, justru Mbah Moen yang menyebut nama Prabowo dalam doanya adalah sesuatu sakral, orsinil dan otentik yang berasal dari dalam diri si pendoa.

Baca juga: Negatif dan Keterlaluan, Gelar ‘Cak Jancuk’ Tak Pantas untuk Presiden

Fadli juga menyebut dirinya sangat mengenal sosok sang ulama, yang menurutnya sangat rendah hati dan dihormati. Dia pun menolak seruan banyak pihak yang mempermasalahkan puisinya untuk minta maaf kepada Mbah Moen.

“Minta maaf untuk apa? Jangan digoreng-gorenglah, belajar bahasa indonesia yang baik dan benar. Jadi melihat puisi sebagai puisi,” katanya.

Puisi ‘Doa yang Ditukar’ itupun menarik perhatian Menteri Agama Lukman Hakim, yang langsung menanyakan kepada Fadli perihal siapa sosok “kau” yang dimaksud Fadli dalam bait-bait puisinya.

“Pak @fadlizon Yth. Agar mendapatkan kejelasan, saya mohon tabayyun (klarifikasi): apakah yg dimaksud dengan ‘kau’ pada puisi tsb adalah Simbah Kiai Maimoen Zubaer? #doayangditukar,” tanya Menag via Twitter.

Twit ini pun langsung ditanggapi Fadli dengan sanggahan, bahwa puisinya ditujukan kepada penguasa dan makelar doa, bukan sang ulama.

Terkait puisi yang jadi polemik tersebut, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Priyo Budi Santoso pun membela Fadli. Dia mengatakan dirinya yakin Wakil Ketua DPR RI itu tak ada maksud untuk menyerang Mbah Moen. Dia menilai, Fadli adalah sosok yang selalu menghormati ulama.

Melalui Twitter, Priyo pun mengatakan, mungkin Fadli Zon hanya bermaksud untuk menggoda Ketua Umum PPP, Romahurmuziy, sebagai sesama politikus. Dia pun berharap, masyarakat berhenti mengomentari atau mengipasi isu puisi Fadli Zon ini.

Tak hanya Priyo, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah pun ikut membela Fadli. Menurutnya, seperti dilaporkan Tribunnews.com, isi puisi itu menunjukkan bahwa Fadli gusar pada sosok yang menyeret kyai ke dalam persaingan politik, bukan menyindir kyainya. Fahri juga menilai bahwa seorang ulama seharusnya tidak diperlakukan seperti itu (diseret masuk dalam politik untuk kepentingan pihak tertentu).

Baca juga: Ancam Kebebasan Berpendapat, Implementasi UU ITE Perlu Ditinjau Ulang

“Justru kalau kita ngerti puisi. Atau gak harus mengerti puisi bahwa kemarin FZ itu kasihan pada ulama dan kyai senior yg diseret ke politik berlebihan. Yg dimarahi itu yg menyeret bukan yg diseret. Gak masuk akal orang tua digitukan,” cuitnya di Twitter.

Berikut isi puisi Fadli Zon, ‘Doa yang Ditukar’ yang menimbulkan polemik:

Doa sakral

seenaknya kau begal

disulam tambal

tak punya moral

agama diobral

 

doa sakral

kenapa kau tukar

direvisi sang bandar

dibisiki kacung makelar

skenario berantakan bubar

pertunjukan dagelan vulgar

 

doa yang ditukar

bukan doa otentik

produk rezim intrik

penuh cara-cara licik

kau penguasa tengik

 

Ya Allah

dengarlah doa-doa kami

dari hati pasrah berserah

memohon pertolonganMu

kuatkanlah para pejuang istiqomah

di jalan amanah.

Keterangan foto utama: Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon dikecam karena puisi berjudul ‘Doa yang Ditukar.’ (Foto: Twitter/Fadli Zon @fadlizon)

Puisi Fadli Zon Tak Serang Ulama, Tapi Pihak yang Mempolitisasi Ulama

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top