Puisi Fadli Zon
Berita Politik Indonesia

Sindiran dalam Puisi Fadli Zon Menghina dan Menurunkan Derajat Ulama

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. (Foto: Twitter/Fadli Zon @fadlizon)
Berita Internasional >> Sindiran dalam Puisi Fadli Zon Menghina dan Menurunkan Derajat Ulama

Puisi berjudul ‘Doa yang Ditukar,’ yang ditulis politikus Partai Gerindra Fadli Zon menuai kontroversi dengan beberapa pihak yang menuding isinya menyindir KH Maimun Zubair (Mbah Moen), yang pada awal Februari lalu salah menyebut nama Prabowo saat berdoa di sisi Presiden Joko Widodo. Puisi Fadli Zon pun menuai kecaman. Polemik ini ramai dibicarakan di media sosial, sehingga tagar #FadliZonBegalUlama pun sempat jadi trending topic.

Baca juga: Zon, Zen, dan Seni Mobilisasi di Indonesia

Oleh: Mata Mata Politik

Walaupun Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyatakan bahwa puisi ‘Doa yang Ditukar’ ditulis bukan untuk merendahkan KH Maimun Zubair (Mbah Moen), sebagian masyarakat dan tokoh publik mendesak wakil ketua DPR RI itu untuk minta maaf. Salah satunya adalah Ketua Muslimat PP NU Khofifah Indar Parawansa.

Dia berharap, Fadli mau minta maaf untuk menunjukkan sikap seorang negarawan.

“Jika beliau berkenan minta maaf, itu akan menjadi referensi betapa bahwa memang kita harus membangun diri sebagai sosok negarawan. Tapi seringkali yang muncul adalah sosok politisi,” katanya seperti dikutip Tribunnews.com, Sabtu (9/2).

Khofifah menyebut Fadli mungkin sedang khilaf (hingga menulis puisi tersebut). “Tidak ada manusia yang tidak khilaf,” ujarnya.

Tak hanya Khofifah, Ketua Umum PPP Romahurmuziy pun menuntut Fadli minta maaf. Selain itu, dia juga meminta semua orang menunjukkan sikap hormat kepada ulama dan berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan.

Baca juga: Cak Jancuk: Julukan Vulgar untuk Presiden Jokowi yang Picu Kontroversi

“Ini belum berkuasa saja, adab mereka kepada ulama sepuh yang paling dihormati aja seperti itu, entah bagaimana kalau mendapat kekuasaan,” kata Rommy soal polemik puisi Fadli Zon, seperti dilansir Detik.com.

Dia pun mengkritik Fadli yang membuat puisi soal kesalahan Mbah Moen menyebut nama Prabowo saat berdoa di sisi Presiden Joko Widodo (Jokowi), petahana pada Pilpres 2019 mendatang.

“Bukan kali ini saja mereka menghina ulama. Saat ada ijtima ulama memberikan opsi untuk memilih Cawapres dari kalangan ulama, mereka tidak mengindahkan,” ujar Rommy.

Sebelumnya, kelompok pendukung pasangan calon petahana Jokowi-Ma’ruf Amin, Relawan Millenial Jokowi Ma’ruf (Remaja), juga mengecam puisi Fadli Zon. Mereka menuntut Fadli meminta maaf, dan mengancam akan menempuh jalur hukum jika Fadli menolak.

“Sebagai santri, kami akan menerima permintaan maaf Fadli Zon jika dilakukan secara ikhlas, tertulis, dan terbuka. Jika tidak, kami akan menempuh jalur hukum,” kata Ketua Umum Remaja, Misbahul Ulum.

Menurut Misbahul, isi puisi tersebut adalah penghinaan yang tak pantas dilontarkan seorang anggota dewan.

“Sebagai Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon harusnya sadar bahwa ia mewakili wajah rakyat Indonesia. Tidak layak bagi seorang pejabat publik menghina. Apalagi jika ditujukan kepada ulama sepuh yang dihormati semua kalangan seperti Mbah Moen,” katanya.

Tak hanya Misbahul, putri presiden keempat Indonesia Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid pun mengecam Fadli Zon terkait puisinya.

“Saya tidak pernah mengomentari pak @fadlizon sebelum ini. Namun kali ini kalau “kau” dalam puisinya adalah Mbah Moen, sudah keterlaluan menyindir Mbah Moen sebagai membegal doa,” cuitnya di Twitter.

Fadli pun menanggapi cuitan Alissa dengan mengajaknya mengadakan diskusi puisi.

Ketua Korbid Keumatan DPP Partai Golkar Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi juga ikut dalam barisan pengkritik Fadli. “Doa tidak untuk dipolemikan. Doa tidak untuk dipuisikan. Tidak untuk diributkan,” kata TGB seperti dilansir Tribunnews.com, Kamis (7/2).

Baca juga: “Yang Gaji Kamu Siapa” Memang Upaya Penggiringan Opini Publik

Mengenai polemik puisi ini, Putra Mbah Moeh, Taj Yasin Maimoen, berpendapat bahwa Fadli Zon sudah menurunkan derajat ulama dengan menganggap Mbah Moen bisa didikte.

“Okelah ‘kau’ (dalam puisi) itu bisa dikembalikan ke beberapa orang tidak menyebut nama, Mas Fadli juga sudah mengklarifikasi bahwa tidak ditujukan pada Kiai Maimoen. Tapi yang saya sayangkan, Mas Fadli kenapa sih bikin (puisi) seperti ini, yang bikin gaduh… (Fadli Zon) mestinya memberikan contoh baik pada masyarakat, tidak menimbulkan kerisauan bahkan kemarahan,” kata Taj Yasin dalam sebuah wawancara televisi yang dikutip Tribunnews.com.

Sementara itu, Fadli Zon sendiri telah mengklarifikasi bahwa puisinya tak ditujukan untuk menyerang Mbah Moen, tapi untuk menyindir pihak yang meminta ulama tersebut meralat doanya.

Berikut isi puisi Fadli Zon, ‘Doa yang Ditukar’ yang dituding digunakan untuk menghina Mbah Moen:

Doa sakral

seenaknya kau begal

disulam tambal

tak punya moral

agama diobral

 

doa sakral

kenapa kau tukar

direvisi sang bandar

dibisiki kacung makelar

skenario berantakan bubar

pertunjukan dagelan vulgar

 

doa yang ditukar

bukan doa otentik

produk rezim intrik

penuh cara-cara licik

kau penguasa tengik

 

Ya Allah

dengarlah doa-doa kami

dari hati pasrah berserah

memohon pertolonganMu

kuatkanlah para pejuang istiqomah

di jalan amanah.

Keterangan foto utama: Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. (Foto: Twitter/Fadli Zon @fadlizon)

Sindiran dalam Puisi Fadli Zon Menghina dan Menurunkan Derajat Ulama

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top