Warga Palestina
Timur Tengah

Popularitas Hamas Meningkat di Kalangan Warga Palestina

Berita Internasional >> Popularitas Hamas Meningkat di Kalangan Warga Palestina

Hamas semakin populer di kalangan warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Ini mencerminkan hasil temuan jajak pendapat, dengan mayoritas warga Palestina (53 persen) memiliki pandangan negatif terhadap Otoritas Palestina. Ketika diminta untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab atas kondisi memburuk di Gaza, responden menempatkan beban kesalahan (43 persen) pada PA dan Abbas, dengan sisanya 65 persen warga Palestina merasa tidak puas.

Baca juga: Israel ‘Bunuh Komandan Hamas’ Saat Baku Tembak di Gaza

Oleh: Jula Altmann (Media Line)

Survei terkini yang dilakukan oleh Pusat Palestina untuk Penelitian dan Survei Kebijakan menunjukkan kenaikan yang signifikan bagi popularitas Hamas di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Yang paling mengejutkan, survei tersebut menunjukkan bahwa jika pemilihan presiden diadakan hari ini, dan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dan Presiden Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas saling berhadapan, maka sang pendahulu akan menang dengan 49 persen suara (naik dari 45 persen tiga bulan) lalu) dibandingkan dengan 42 persen yang terakhir (turun dari 47 persen tiga bulan lalu).

Sehubungan dengan pemilihan parlemen, jajak pendapat, yang mensurvei 1.270 warga Palestina di kedua wilayah, mengungkapkan bahwa faksi Fatah Hamas dan Abbas hampir menemui jalan buntu dengan yang sebelumnya diproyeksikan menerima 35 persen suara (turun dari 36 persen tiga bulan lalu) dibandingkan dengan 34 persen yang terakhir (naik dari 27 persen tiga bulan yang lalu).

“Sudah menjadi fakta yang lama diketahui bahwa Hamas sangat populer di Tepi Barat,” kata mantan anggota parlemen Israel Dr. Einat Wilf kepada The Media Line. “Tidak ada pemilihan yang dilaksanakan karena suatu alasan: Hasilnya pasti. Sudah menjadi asumsi yang berkuasa sejak saya di Knesset [Parlemen Israel] bahwa Hamas akan memenangkan pemilihan, jika hal tersebut akan dilaksanakan.

“Satu-satunya yang mencegah Hamas mengambil alih Tepi Barat, baik dengan pemilihan atau dengan kekerasan, adalah Israel,” tegasnya.

Brig Jend (Purn.) Shlomo Brom, seorang Senior Fellow di Institut Studi Keamanan Nasional yang berbasis di Tel Aviv, menyampaikan pendapatnya kepada The Media Line bahwa kenaikan popularitas Hamas “sebagian besar karena kegagalan pemerintah di Ramallah dan [mengakibatkan] penurunan dukungan Palestina untuk Abbas, dan bukan karena apa yang telah dilakukan Hamas. ”

Ini mencerminkan hasil temuan jajak pendapat, dengan mayoritas warga Palestina (53 persen) memiliki pandangan negatif terhadap PA. Ketika diminta untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab atas kondisi memburuk di Gaza, responden menempatkan beban kesalahan (43 persen) pada PA dan Abbas, dengan sisanya 65 persen warga Palestina merasa tidak puas.

“Ada banyak alasan untuk ini,” Brom menjelaskan, “beberapa karena gaya kepemimpinannya dan rezim semi-otoriter di Tepi Barat, di samping perlakuannya terhadap Gaza karena sanksi yang diberlakukan PA telah sangat memperburuk situasi sosio-ekonomi masyarakat kantong tersebut.

“Selain itu,” lanjutnya, “agenda kerjasama keamanan, dialog dan negosiasi Abbas dengan Israel gagal, oleh karena itu masyarakat lebih memilih agenda lawan yang dimiliki Hamas.”

Baca juga: Opini: Pengkhianatan terhadap Rakyat Palestina, oleh Fatah atau Hamas?

Awal pekan ini, ribuan warga Palestina muncul di Kota Gaza untuk sebuah unjuk rasa menandai ulang tahun ke-31 pembentukan Hamas. Dalam pidatonya di acara tersebut, Haniyeh menyatakan keinginannya untuk menempa persatuan Palestina yang sulit dipahami dan mengadakan pemilihan umum dalam waktu tiga bulan.

Namun, Dr. Wilf dan Brom keduanya skeptis akan hal ini terjadi. “[Haniyeh] ingin menciptakan persepsi di antara masyarakat Palestina bahwa dia bekerja untuk rekonsiliasi karena dia tahu Hamas sangat populer saat ini,” Brom menegaskan.

“Ini adalah buku pedoman Hamas: Bermainlah dengan baik, katakan Anda menginginkan pemilihan, dan kemudian ketika mereka mendapatkan [pemilihan suara] seperti yang diinginkan mereka malah akan menggunakan kekerasan—mereka akan ‘memotongnya di lutut,’ seperti kata ungkapan,” Dr. Wilf menambahkan.

Setelah muncul sebagai pemenang dalam pemilihan Palestina terakhir yang diadakan pada 2006, Hamas secara paksa mengusir Fatah dari Jalur Gaza hanya beberapa bulan kemudian dalam perang internasional. Sejak itu, para pihak berselisih tentang cara mengakhiri perpecahan intra-Palestina; hal tersebut tentunya melupakan fakta bahwa mesikpun kedua pihak telah menandatangani banyak perjanjian rekonsiliasi, semuanya gagal terwujud.

 

Keterangan foto utama: Militan Hamas Palestina menghadiri latihan militer dalam persiapan menghadapi konfrontasi yang akan datang dengan Israel di Jalur Gaza selatan, 25 Maret 2018. (Foto: REUTERS/IBRAHEEM ABU MUSTAFA)

Popularitas Hamas Meningkat di Kalangan Warga Palestina

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top