Prancis Nyatakan Penembakan di Pasar Natal sebagai Tindakan Terorisme
Eropa

Prancis Nyatakan Penembakan di Pasar Natal sebagai Tindakan Terorisme

Berita Internasional >> Prancis Nyatakan Penembakan di Pasar Natal sebagai Tindakan Terorisme

Seorang pria bersenjata meneror Pasar Natal di Strasbourg, Prancis, pada hari Rabu (12/12). Penembakan itu menewaskan paling dua orang dan melukai 12 orang. Pemerintah Prancis kemudian menetapkan aksi penembakan di Pasar Natal Strasbourg itu sebagai aksi terorisme. 

Oleh: Elian Peltier Aurelien Breeden (The New York Times)

Baca Juga: Penembakan di Tepi Barat, 7 Orang Terluka, 1 Bayi Lahir Prematur

Aksi penembakan mematikan di sebuah pasar jalanan Strasbourg yang ramai merupakan aksi terorisme, demikian pernyataan para petugas Prancis pada hari Rabu (12/12). Ratusan petugas polisi tengah melakukan perburuan atas pria bersenjata pelaku penembakan, buronan yang digambarkan sebagai seorang kriminal penjahat kampung halaman yang teradikalisasi.

Pria bersenjata itu menewaskan paling tidak dua orang dan melukai 12 orang pada aksi penembakan hari Selasa (11/12) malam di pasar Natal yang terkenal di Strasbourg, sebuah kota berpenduduk lebih dari seperempat juta jiwa di perbatasan timur laut Prancis dengan Jerman.

Rémy Heitz, jaksa Paris yang menangani penyelidikan terorisme secara nasional, mengatakan pada konferensi pers di Strasbourg bahwa para saksi telah mendengar penyerang berteriak “Allahu akbar” (“Tuhan Maha Besar” dalam bahasa Arab). Heitz juga mengaku bahwa target dan profil tersangka telah dijustifikasi dalam investigasi pembukaan terorisme.

Para petugas mengatakan tersangka memiliki rekam jejak yang luas dan pernah menjalani hukuman penjara. Lebih dari 700 anggota pasukan keamanan sedang mencari tersangka di Strasbourg, kata Menteri Dalam Negeri Prancis.

“Dia telah dipenjara beberapa kali dan dikenal oleh administrasi penjara karena radikalisasi dan perilakunya yang sering berdakwah,” kata Heitz tentang tersangka, yang diidentifikasi sebagai Chérif Chekatt, 29 tahun, lahir di Strasbourg. Ia dibebaskan dari penjara pada akhir tahun 2015.

Pada hari Rabu (12/12) malam, pihak berwenang Prancis memanggil para saksi, mengeluarkan pemberitahuan yang menyertakan gambar dan deskripsi fisik Chekatt. Pemberitahuan itu meminta orang-orang yang mungkin telah melihatnya agar menghubungi polisi tetapi memperingatkan mereka untuk tidak mengkonfrontasi tersangka, menyebutnya “berbahaya.”

Chekatt adalah salah satu dari sekitar 20 ribu orang yang telah ditandai oleh dinas keamanan Prancis atas kemungkinan radikalisasi. Chekatt juga ditandai dengan “Fiche S” atau File S, kata Heitz. Empat orang di gerombolan tersangka telah ditahan semalam, tambahnya.

Serangan hari Selasa (11/12) malam terjadi di salah satu pasar Natal paling populer di Prancis, menimbulkan kekacauan di antara ribuan orang yang berdesakan di sekitar kios-kios penjual di lingkungan bersejarah Strasbourg.

Pihak berwenang awalnya mengatakan bahwa pria bersenjata itu telah menewaskan tiga orang, tetapi Heitz kemudian merevisi jumlah korban tewas, yang menyebutkan bahwa dua orang telah tewas dan satu orang dianggap mati otak. Enam orang telah terluka parah, katanya.

Para pejabat kota mengatakan dua orang yang tewas adalah warga negara Prancis dan warga negara Thailand. Di antara mereka yang terluka adalah putri dari pasangan yang memiliki kios keju di Rue des Orfèvres, sebuah jalan sempit di dekat katedral kota, tempat penyerang melepaskan tembakan.

Tersangka penembakan, Chérif Chekatt. (Foto: Kepolisian Prancis)

“Hari ini putri kami Jeanne menjadi korban seorang pengecut,” tulis Christelle Lorho di Facebook. “Kami beruntung bahwa putri kami masih berada di antara kami.”

Penembakan itu mengingatkan akan serangan lain dalam beberapa tahun terakhir oleh ekstremis Islam di Prancis, Belgia dan bagian lain Eropa. Benjamin Griveaux, juru bicara pemerintah Prancis, mengatakan setelah pertemuan kabinet di Paris pada hari Rabu (12/12) bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memperingatkan bahwa “ancaman teroris masih berada di jantung kehidupan bangsa kita.”

Pasar Strasbourg telah lama menjadi target ISIS dan Al Qaeda, yang dipandang sebagai simbol liburan “kafir.” Tahun 2000, sebuah sel terorisme yang berbasis di Frankfurt merencanakan untuk menyerang pasar, tetapi komunikasinya telah disadap dan rencana tersebut akhirnya digagalkan.

Baru-baru ini, pada musim gugur 2016, sekelompok pria yang ditempatkan oleh lengan operasi eksternal ISIS di Suriah berencana untuk menyerang pasar. Petugas Prancis menembus sel tersebut dan menggagalkan serangan, tetapi peristiwa itu telah mendorong Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk mengeluarkan peringatan perjalanan, memperingatkan dugaan ancaman terhadap berbagai peristiwa liburan di Eropa.

Pasar tetap ditutup pada hari Rabu (12/12), meninggalkan pusat kota sebagian besar kosong dan ditutup oleh pasukan keamanan. Pusat olahraga, lembaga budaya, dan banyak toko di daerah itu ditutup, dan pemeriksaan keamanan terus diperkuat.

Beberapa saksi serangan pertama bertanya-tanya apakah kepanikan pada hari Selasa (11/12) malam terkait dengan protes “Rompi Kuning” yang telah berubah menjadi kekerasan dalam beberapa pekan terakhir.

“Ini mungkin pasar Natal terbesar di Prancis. Anda tidak akan pernah berpikir tentang serangan ketika Anda mendengar suara tembakan pertama,” kata Marc Meyer, 32 tahun, yang berdiri di dekat pohon Natal raksasa di pasar ketika ia melihat kerumunan panik bergegas berlari ke arahnya sekitar jam 8 malam.

Jamel Beli, yang duduk di teras terdekat ketika dia mendengar suara tembakan pertama, juga mengira kelompok Rompi Kuning berada di balik kehebohan itu.

“Saat itu sangat, sangat ramai,” kata Beli, 42 tahun. “Itu bisa saja merupakan pembantaian.”

Jaksa Heitz mengatakan bahwa pria bersenjata itu pertama kali terlihat tidak lama sebelum jam 8 malam di Rue des Orfèvres, di jantung pasar Natal. Pelaku kemudian bergerak melalui beberapa jalan, menyerang dengan pistol dan pisau ke manapun dia bergerak.

Empat tentara yang sedang berpatroli segera menembaknya, melukai lengannya, kata Heitz, tetapi penyerang melarikan diri dan naik taksi ke daerah lain Strasbourg. Supir taksi mengatakan kepada polisi bahwa pria bersenjata itu telah menggambarkan serangan itu kepadanya dan mencoba untuk membenarkannya. Setelah keluar dari taksi, penyerang dihadang oleh lebih banyak petugas polisi, yang menembaknya tetapi tak lama kemudian kehilangan jejaknya.

Laporan supir taksi membantu polisi mengidentifikasi Chekatt sebagai tersangka, kata Heitz. Hari Selasa (11/12) pagi, sebelum serangan, polisi menggerebek rumah Chekatt dalam penyelidikan pembunuhan yang tidak terkait dan menemukan sebuah granat, sebuan senapan, amunisi, dan beberapa buah pisau. Chekatt tidak berada di rumah selama serangan itu.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan kepada radio Prancis Inter bahwa ada kemungkinan tersangka telah melarikan diri ke Jerman, tepat di seberang sungai Rhine dari Strasbourg, dan bahwa pemeriksaan perbatasan telah diperkuat.

Sebuah memorial didirikan di Strasbourg untuk mengenang para korban serangan. (Foto: EPA/Shutterstock/Ronald Wittek)

Nuñez mengatakan bahwa Chekatt tidak pernah dihukum karena terorisme dan tampaknya tidak mencoba pergi ke Suriah, karena beberapa orang lain dalam daftar pengawasan terorisme Eropa telah melakukannya.

Namun, jaksa Heitz mengatakan bahwa tersangka memiliki catatan kriminal yang luas, dengan 27 tuduhan, sebagian besar atas perampokan dan penyerangan di Prancis, Jerman, dan Swiss.

Huruf S dalam daftar file S merujuk pada “La Sûreté de l’État” atau keamanan negara. Daftar itu tidak berarti bahwa seseorang telah dihukum atau bahkan dicurigai atas tindakan pelanggaran tertentu. Sebaliknya, daftar ini membantu pasukan keamanan Prancis untuk melacak berbagai macam orang yang dianggap berpotensi menimbulkan ancaman keamanan, dalam beberapa kasus hanya karena mereka kenal dengan orang lain yang berada di bawah pengawasan.

“File S dapat menargetkan individu yang tidak begitu berbahaya, dan itu hanya digunakan untuk mengawasi gerakan dan perjalanan mereka di seluruh negeri,” kata Nuñez. “Ini bukan kriteria bahaya.”

Penembakan itu bukan pertama kalinya membuat Strasbourg bergulat dengan konsekuensi pemuda yang teradikalisasi.

Delphine Rideau, kepala Maison des Adolescents, sebuah organisasi di Strasbourg yang membantu pemuda setempat dan terlibat dalam pencegahan radikalisasi, mengatakan bahwa ada beberapa kasus individu radikal di Strasbourg, meskipun tidak semuanya melakukan kekerasan.

“Kami telah melihat para penjahat kecil yang tiba-tiba menjadi radikal, dan beberapa penjahat yang lain terisolasi, terabaikan, dan mengalami kejatuhan,” katanya.

Salah satu pria bersenjata di aula konser Bataclan, salah satu lokasi serangan bulan November 2015 di dan sekitar Paris, berasal dari daerah Strasbourg. Tahun 2016, petugas intelijen Prancis menahan tujuh pria, lima dari mereka berasal di Strasbourg, yang sedang bersiap untuk “beraksi dalam waktu dekat.”

Robert Hermann, presiden Strasbourg Eurométropole, kelompok dewan kota di kawasan itu, mengatakan bahwa pasar Natal adalah acara paling aman di kota itu sepanjang tahun, tetapi “risiko nol” merupakan hal yang mustahil. Departemen Bas-Rhin, yang mencakup Strasbourg, memiliki kurang dari 2 persen dari total populasi Prancis, tetapi sekitar 10 persen orang ditandai dengan File S, katanya, menambahkan bahwa pemantauan setiap orang sepanjang waktu merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan.

“Beberapa di antaranya merupakan kelompok intelektual yang mengajak orang-orang berpindah agama, sementara yang lain adalah ideolog yang akan mengambil tindakan, beberapa orang lain mendapatkan radikalisasi di penjara,” kata Hermann. “Profil tersangka utama bahkan lebih kompleks.”

Pasar Natal Strasbourg, yang dimulai pada tahun 1570, adalah salah satu acara musim dingin yang paling populer di Prancis. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar itu telah menarik lebih dari 2,5 juta pengunjung setiap tahun. Pihak berwenang telah memperketat keamanan, termasuk dengan mengerahkan petugas polisi yang menyamar.

Walikota Strasbourg Roland Ries mengatakan pada konferensi pers bahwa ia berencana untuk membuka kembali pasar pada hari Kamis (13/12) jika kondisi keamanan telah memungkinkan. Satu jalan dibuka kembali untuk umum pada hari Rabu (12/12) sore, dan puluhan orang meletakkan bunga di mana penembakan itu terjadi.

“Hari ini kita sedang berduka,” kata Ries. “Tapi saya berharap, kita segera bisa melanjutkan kehidupan normal kita.”

Baca Juga: Demonstrasi Setelah Penembakan ‘Black Friday’ di Amerika, Polisi Salah Sasaran

Elian Peltier melaporkan dari Strasbourg dan Aurelien Breeden melaporkan dari Paris.

Kontributor laporan: Rukmini Callimachi.

Keterangan foto utama: Rabu, 12 Desember 2018, petugas polisi melakukan pencarian atas pria bersenjata pelaku penembakan fatal di pasar Natal di Strasbourg, Prancis. (Foto: EPA/Shutterstock/Patrick Seeger)

Prancis Nyatakan Penembakan di Pasar Natal sebagai Tindakan Terorisme

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top