Presiden Afghanistan Ajukan Tawaran Damai untuk Taliban
Timur Tengah

Presiden Afghanistan Ajukan Tawaran Damai untuk Taliban

Berita Internasional >> Presiden Afghanistan Ajukan Tawaran Damai untuk Taliban

Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, pada Rabu (28/2) mengajukan tawaran damai untuk Taliban. Proposal tersebut menawarkan Taliban sebuah kesempatan untuk mengakhiri perang di meja perundingan. Sebagai ganti dari gencatan senjata, anggota Taliban yang bersedia meninggalkan kekerasan dapat memiliki “kehidupan yang damai dan penuh penghormatan”. Pengakuan politik, pembebasan tahanan, paspor untuk anggota Taliban dan visa untuk keluarga mereka, serta ruang kantor di Kabul, juga ada di dalam rencana tersebut.

Oleh: Ruchi Kumar (The Hindu)

Setelah bertahun-tahun meningkatnya kekerasan dan semakin banyaknya korban warga sipil di Afghanistan—yang sebagian besar dilakukan oleh pemberontakan Taliban—pemerintah Afghanistan telah menawarkan untuk menegosiasikan kesepakatan damai dengan kelompok tersebut. Presiden Ashraf Ghani mengajukan tawaran yang komprehensif dan agak murah hati kepada Taliban pada Rabu (28/2), di Proses Kabul kedua—sebuah konferensi keamanan internasional.

Proposal tersebut menawarkan Taliban—yang telah memerangi pemerintah sejak tahun 2001—sebuah kesempatan untuk mengakhiri perang di meja perundingan. Sebagai ganti dari gencatan senjata, pemerintah mengatakan, anggota Taliban yang bersedia meninggalkan kekerasan dapat memiliki “kehidupan yang damai dan penuh penghormatan”. Pengakuan politik, pembebasan tahanan, paspor untuk anggota Taliban dan visa untuk keluarga mereka, serta ruang kantor di Kabul, juga ada di dalam rencana tersebut.

    Baca Juga : Ancaman Bom Bern: Seorang Pemuda Afghanistan Ditangkap

Walaupun Taliban belum memberikan tanggapan pasti atas tawaran tersebut, namun mereka menunjukkan kesediaan untuk segera bernegosiasi, sementara secara bersamaan meningkatkan serangan yang lebih kuat terhadap pasukan Afghanistan dan pasukan internasional. Sebenarnya, tawaran tersebut datang langsung setelah Taliban meminta perundingan dengan Amerika Serikat (AS). Dalam sebuah surat terbuka untuk masyarakat Amerika dan Kongresnya, surat tersebut meminta sebuah “resolusi damai”.

“Ini adalah yang paling diharapkan dari penawaran kami,” Javid Faisal, juru bicara Kepala Eksekutif Afghanistan, Abdullah Abdullah, mengatakan kepada wartawan. “Sekarang terserah pada Taliban untuk mengambil langkah selanjutnya,” tambahnya.

Usaha-usaha sebelumnya dalam perundingan damai selama ini belum menghasilkan hasil yang pasti. Namun, tawaran yang terbaru ini menjawab sejumlah tuntutan Taliban. Selain itu, pemerintah saat ini telah menunjukkan beberapa keberhasilan dalam menangani kesepakatan dengan militan. Baru-baru ini, pemerintah Afghanistan mencapai kesepakatan dengan Hizb-e-Islami—sebuah kelompok yang dipimpin oleh Gulbuddin Hekmatyar, mantan panglima perang.

Aspek lain yang menarik dari kesepakatan ini adalah tawaran pemerintah Afghanistan untuk mengizinkan Taliban membuka kantor di Kabul, yang memvalidasi statusnya sebagai kelompok politik. Tawaran ini telah menimbulkan kekhawatiran di antara banyak masyarakat Afghanistan yang melarikan diri dari Kabul, saat berada di bawah rezim Taliban pada paruh kedua tahun 1990-an. Namun, Faisal berpendapat bahwa hal ini bagus untuk proses perdamaian apabila Taliban memiliki kantor di Kabul, yang berlawanan dengan yang ada di Quetta atau Islamabad. “Memiliki kantor di Kabul akan memastikan bahwa prosesnya sepenuhnya milik masyarakat Afghanistan,” katanya. “Ini tidak hanya memberi kita kesempatan untuk memiliki akses langsung terhadap mereka, tapi juga memungkinkan mereka untuk berbicara mengenai pemikiran mereka sendiri tanpa pengaruh pihak lain.”

Perang dan damai

Namun, walau penawaran ini mungkin tampak seperti kemajuan yang besar, terdapat beberapa hambatan nyata, yang berpotensi menggagalkan usaha tersebut. Yang paling menonjol adalah kurangnya kejelasan tentang permintaan paling penting Taliban—penarikan tentara AS. Proposal tersebut merujuk pada “negosiasi… setiap aspek yang diperebutkan dari peran masyarakat internasional terhadap Afghanistan di masa depan”. Hal ini, menurut pendapat analis keamanan, Thomas Ruttig dan Jelena Bjelica, adalah “petunjuk yang jelas bahwa kehadiran atau penarikan pasukan asing dapat ditangani dalam perundingan damai di masa depan”.

    Baca Juga : Peran Indonesia dalam Menyelesaikan Perang dan Damai di Afghanistan

Selain itu, pasukan Afghanistan dan NATO juga telah meningkatkan serangan mereka terhadap Taliban dalam beberapa bulan terakhir, yang menargetkan “markas” kelompok tersebut dan laboratorium obat yang membiayai pemberontakannya. “Tujuan kami adalah untuk membantu mewujudkan solusi damai untuk perang ini,” John Nicholson, komandan pasukan internasional AS di Afghanistan, mengatakan dalam sebuah pertemuan keamanan di Parwan pada Jumat (2/3). “Tapi kita juga tahu bahwa terkadang perdamaian tidak mungkin ada, sampai Anda memberi tekanan lebih pada musuh,” ujarnya menambahkan.

Keterangan foto utama: Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, Wakil Presiden Indonesia Muhammad Jusuf Kalla, dan Ibu Negara Afghanistan Rula Ghani, menghadiri sebuah konferensi kerja sama perdamaian dan keamanan di Kabul, Afghanistan, pada tanggal 28 Februari 2018. (Foto: Reuters/Omar Sobhani)

 

Presiden Afghanistan Ajukan Tawaran Damai untuk Taliban

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top