presiden jokowi
Berita Politik Indonesia

Presiden Jokowi Perintahkan Perburuan Pembunuh Pekerja di Papua

Berita Internasional >> Presiden Jokowi Perintahkan Perburuan Pembunuh Pekerja di Papua

Presiden Jokowi perintahkan polisi dan militer untuk segera menangkap pelaku pembunuhan puluhan pekerja di Papua. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Tito Karnavian mengatakan tim gabungan yang dipimpin oleh komandan militer dan polisi Papua sedang menuju ke area terjadinya penembakan. Tito memperkirakan bahwa para pemberontak hanya berjumlah antara 30 dan 50 orang dengan membawa 20 senjata.

Baca Juga: Presiden Jokowi Desak Penambang untuk Berpindah ke Pengolahan

Oleh: Linda Yulisman (The Straits Times)

Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo kemarin memerintahkan polisi dan militer Indonesia untuk mengejar dan mengadili para pelaku pembantaian di provinsi Papua, di mana 20 orang diduga ditembak oleh para pemberontak separatis pada hari Minggu (2/12).

Pembunuhan di distrik Nduga, di pusat wilayah di bagian barat pulau Papua Nugini, disebut sebagai tindak kekerasan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir yang menghantam daerah itu, yang telah lama menjadi pusat pemberontakan kemerdekaan tingkat rendah.

“Saya menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi kelompok-kelompok penjahat bersenjata di Papua maupun bagian lain di seluruh negeri, dan kami tidak akan pernah takut,” kata Presiden.

Jokowi mengatakan kepada awak media: “[Insiden] ini bahkan memperkuat tekad kita untuk melanjutkan tugas besar kita membangun Papua.”

Presiden Jokowi juga menginstruksikan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk segera menyelesaikan pembangunan jaringan jalan Trans-Papua yang mencakup sekitar 4.330 kilometer.

Sembilan belas karyawan perusahaan konstruksi milik negara, Istana Karya, tewas dalam insiden di distrik Yigi, Kabupaten Nduga, saat sedang membangun dua jembatan, Kali Aorak dan Kali Yigi, yang merupakan bagian dari jaringan jalan.

Seorang perwira militer kemudian tewas dalam baku tembak antara militer dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), sayap militer dari Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu, menurut Radio Selandia Baru.

Pembunuhan itu terjadi setelah penangkapan 537 orang aktivis oleh polisi dalam unjuk rasa hari Sabtu (1/12) lalu. Tanggal tersebut dianggap oleh banyak orang Papua sebagai hari kemerdekaan mereka dari penjajahan Belanda.

Papua mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 1 Desember 1961, tetapi Indonesia menginvasi wilayah tersebut pada tahun 1963 dan kemudian mencaploknya menyusul referendum yang didukung PBB pada tahun 1969. Sejak itu, Indonesia telah mengalami konflik separatis yang berlangsung lama di kawasan Papua.

Baca Juga: [INFOGRAFIK] Angka Kemiskinan Indonesia Sejak Soeharto hingga Jokowi

Papua hingga kini tetap menjadi wilayah termiskin di Indonesia yang merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, meskipun memiliki sumber daya alam melimpah, terutama emas dan tembaga. Sejak awal pemerintahannya pada akhir tahun 2014, Jokowi telah meluncurkan dorongan infrastruktur yang ambisius, termasuk meningkatkan kelancaran konektivitas di Papua.

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Tito Karnavian mengatakan tim gabungan yang dipimpin oleh komandan militer dan polisi Papua sedang menuju ke area terjadinya penembakan. Tito memperkirakan bahwa para pemberontak hanya berjumlah antara 30 dan 50 orang dengan membawa 20 senjata.

“Dengan mengirim tim yang lebih kuat, kami percaya bahwa kami dapat mengendalikan [situasi] segera,” tuturnya.

Namun Tito mengakui bahwa lokasi berupa hutan yang terbentang luas menimbulkan tantangan dan memungkinkan para pemberontak untuk melarikan diri.

“Kami sudah berkoordinasi untuk meningkatkan keamanan,” tambahnya. Dia juga mengatakan pembangunan infrastruktur di wilayah itu harus terus berjalan, sesuai dengan instruksi Presiden, dan timnya siap untuk memastikan keamanan di sana, termasuk dengan membuka dialog dengan penduduk, di antara langkah-langkah lain.

Amnesty International Indonesia mengatakan pihak berwenang harus melakukan “penyelidikan yang cepat, menyeluruh, independen, dan tidak memihak,” sambil memastikan bahwa semua pihak yang terlibat akan diseret ke pengadilan yang adil tanpa hukuman mati.

“Sangat penting bahwa respon pemerintah terhadap pembunuhan tidak mengarah pada pelanggaran hak asasi manusia lebih lanjut. Pasukan keamanan memiliki rekam jejak kekerasan dan tindakan yang menjijikkan ini seharusnya tidak menjadi pembenaran untuk melakukan hal itu,” menurut direktur eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid dalam sebuah pernyataan.

Linda Yulisman adalah koresponden the Straits Times Indonesia di Jakarta.

Keterangan foto utama: Tentara Indonesia bersiap menaiki helikopter di provinsi Papua kemarin untuk mengambil mayat para pekerja konstruksi yang tewas di distrik Nduga pada hari Minggu, 2 Desember 2018. Sembilan belas karyawan perusahaan konstruksi milik negara, Istana Karya, tewas dalam insiden di kabupaten Yigi, Kabupaten Nduga, saat sedang membangun dua jembatan yang merupakan bagian dari jaringan jalan Trans-Papua. (Foto: Agence France-Presse)

Presiden Jokowi Perintahkan Perburuan Pembunuh Pekerja di Papua

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top