Presiden Myanmar Htin Kyaw yang telah mengundurkan diri. (Foto: AFP/Ye Aung Thu)
Asia

Presiden Myanmar Mengundurkan Diri

Presiden Myanmar Htin Kyaw yang telah mengundurkan diri. (Foto: AFP/Ye Aung Thu)
Home » Featured » Asia » Presiden Myanmar Mengundurkan Diri

Perannya sebagian besar merupakan peran simbolis, dengan adanya Suu Kyi yang mengambil keputusan di pemerintahan sipilnya, di bawah gelar Penasihat Negara yang dia tunjuk untuk dirinya sendiri. Tapi dia tetap saja kepala negara dan sekutu penting dalam negeri untuk Suu Kyi di dalam partainya. Wakil Presiden Myanmar Myint Swe untuk sementara akan mengambil peran tersebut sampai presiden baru dilantik, menurut konstitusi.

Oleh: AFP/Daily Nation

Presiden Myanmar Htin Kyaw mengundurkan diri tiba-tiba pada hari Rabu (21/3) meninggalkan pemimpin de facto negara itu, Aung San Suu Kyi, tanpa orang kepercayaan terdekatnya dan sekutu politik saat dia menghadapi meningkatnya kritik keras internasional atas krisis Rakhine.

Presiden tersebut, teman lama Suu Kyi, pernah bertugas sebagai wakilnya di sebuah kantor yang melarangnya untuk tinggal di bawah konstitusi militer Myanmar.

Peran Simbolis

Perannya sebagian besar bersifat simbolis dengan Suu Kyi yang mengambil keputusan dalam pemerintahan sipilnya, di bawah gelar Penasihat Negara yang dia tunjuk untuk dirinya sendiri.

Tapi dia tetap saja kepala negara dan sekutu penting dalam negeri untuk Suu Kyi di dalam partainya.

    Baca Juga : Bagaimana Kebebasan Pers Terancam di Seluruh Asia Tenggara

Wakil Presiden Myanmar Myint Swe, seorang pensiunan jenderal dekat mantan pemimpin junta Than Shwe, akan sementara mengambil peran tersebut sampai presiden baru datang, menurut konstitusi.

Para pengamat mengatakan hal ini kemungkinan akan membuat sebagian pihak di Partai Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Suu Kyi muak dan, dalam teori, keputusan dapat didukung—atau ditahan—saat ini.

Spekulasi telah beredar selama berbulan-bulan tentang kesehatan Htin Kyaw (72), yang akhir-akhir ini berat badannya turun dan mengalami masalah jantung di masa lalu.

Tujuh Hari

“Presiden Myanmar U Htin Kyaw mengundurkan diri pada tanggal 21 Maret 2018,” kata pernyataan di halaman Facebook resmi presiden.

Kantornya tidak memberikan banyak rincian mengapa ia mengundurkan diri hari Rabu (21/3), hanya mengatakan bahwa “ia ingin beristirahat dari tugasnya saat ini”.

Ia menambahkan bahwa seorang pemimpin baru akan dipilih “dalam tujuh hari kerja”.

Tak lama setelah pengumuman tersebut, Ketua Majelis Rendah dan sekutu Suu Kyi, Win Myint, mengundurkan diri dari posisinya, memperkecil kemungkinannya untuk mengambil alih kantor sipil tertinggi Myanmar.

“Siapa pun yang dia pilih sebagai presiden akan menjadi seseorang yang dia percaya sepenuhnya,” kata analis independen Richard Horsey.

“Kepercayaan itu adalah dasar dari dia yang menjadi pusat kekuasaan di Myanmar. Dia tidak memiliki kekuatan di bawah konstitusi. Setiap kekuatan berasal dari hubungannya dengan presiden.”

Htin Kyaw, presiden sipil pertama negara itu sejak tahun 1962, dihormati oleh masyarakat luas dan terlihat setia kepada Suu Kyi tanpa pamrih, yang mengatakan dia akan memerintah “di atasnya” setelah dia terpilih pada tahun 2016.

Krisis Rohingya

Dia telah berdiri teguh di sisi Suu Kyi, bahkan ketika reputasi pemimpin Myanmar tersebut telah rusak di dunia internasional, karena tidak mendukung komunitas Muslim Rohingya yang teraniaya.

Tindakan keras militer telah memaksa sekitar 700.000 warga Rohingya melarikan diri ke perbatasan ke kamp-kamp kotor di Bangladesh, dalam apa yang PBB cap sebagai “pemberantasan etnis” dengan kemungkinan “tanda genosida”.

Militer membenarkan operasi militernya sebagai tanggapan sah dari serangan militan Rohingya terhadap pos polisi pada bulan Agustus.

Pemerintahan sipil berada dalam transisi pengurusan pembagian kekuasaan dengan tentara yang masih memiliki kekuatan politik dan ekonomi yang besar.

Tentara mengontrol tiga kementerian utama—urusan rumah, perbatasan, dan pertahanan—secara efektif memberikan mereka kekuasaan penuh untuk melakukan operasi keamanan apa pun yang mereka pilih.

Mereka juga memiliki seperempat kursi legislatif yang diperuntukkan bagi perwiranya, memberi militer hak veto secara de facto atas perubahan konstitusional apapun.

 Aung San Suu Kyi

Pembela Suu Kyi mengatakan bahwa tangan pemerintahannya terikat oleh militer tetapi para kritikus tetap berpendapat bahwa ia dapat dan seharusnya berbuat lebih banyak untuk menentang dugaan kekejaman tentara, khususnya di Negara Bagian Rakhine.

Di dalam negeri Suu Kyi masih menikmati dukungan populer yang luas tetapi, dua tahun di dalam pemerintahan, partainya telah mengecewakan harapan setinggi langit dari perkembangan pesat dan pertumbuhan ekonomi, sementara krisis Rakhine telah menyusun kembali narasi internasional negara tersebut.

    Baca Juga : Krisis Rohingya: Aung San Suu Kyi Hadapi Tuduhan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

Htin Kyaw adalah putra seorang penyair yang terhormat dan telah membantu menjalankan yayasan amal Suu Kyi sebelum mengambil alih kepresidenan.

Menurut sebuah biografi resmi, dia belajar di Institut Ilmu Komputer Universitas London dari 1971 hingga 1972.

Dalam karir yang bervariasi ia bekerja sebagai guru universitas dan juga memegang posisi di kementerian keuangan dan perencanaan nasional dan kementerian luar negeri pada akhir 1970-an dan 80-an sebelum pensiun dari tugas pemerintahan ketika militer memperketat cengkeramannya.

Keterangan foto utama: Presiden Myanmar Htin Kyaw yang telah mengundurkan diri. (Foto: AFP/Ye Aung Thu)

Presiden Myanmar Mengundurkan Diri
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top