Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi dan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas pada bulan Maret 2015.
Timur Tengah

Presiden Palestina Mahmoud Abbas Bertemu Presiden Mesir untuk Bahas Yerusalem

Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi (kiri) dan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas pada bulan Maret 2015. (Foto: Departemen Luar Negeri AS)

Juru bicara Presiden Palestina mengatakan bahwa Ramallah akan terus berunding dengan negara-negara Arab lainnya, termasuk Yordania dan Arab Saudi.

Oleh: Dov Lieber (The Times of Israel)

Presiden Pemerintah Palestina Mahmoud Abbas (kiri) bertemu dengan Presiden Mesir Abdul Fatah al-Sissi di Sharm el-Sheikh pada tanggal 6 November 2017.

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas (kiri) bertemu dengan Presiden Mesir Abdul Fatah al-Sissi di Sharm el-Sheikh pada tanggal 6 November 2017. (Foto: Thaer Ghanaim/Wafa)

Presiden Pemerintah Palestina (PA) Mahmoud Abbas bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fatah El-Sissi di Kairo pada Senin (11/12), untuk mendiskusikan mengenai keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, juga mendiskusikan mengenai hubungan bilateral.

Kedua negara tersebut setuju untuk melanjutkan kerjasama dan perundingan terkait keputusan Trump, menurut sebuah laporan hasil pertemuan, di situs berita resmi PA, Wafa.

“Kami akan terus berunding dengan saudara-saudara Arab kami, terutama dengan Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan pihak-pihak Arab lainnya, untuk melawan bahaya yang akan datang, terutama setelah langkah Amerika yang tidak dapat diterima di Yerusalem,” ujar juru bicara Abbas, Nabil Abu Rudeineh.

Dalam sebuah pidato pada Rabu (6/12) dari Gedung Putih, Trump mengabaikan peringatan dari seluruh dunia, dan tetap menegaskan bahwa setelah terus gagal dalam mencapai perdamaian, terdapat pendekatan baru yang seharusnya sudah lama dilakukan, dan menyatakan keputusannya untuk mengakui Yerusalem sebagai tempat pemerintahan Israel yang berdasarkan pada kenyataan.

Langkah tersebut dipuji oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan oleh para pemimpin yang berada dalam cakupan politik Israel. Trump menekankan bahwa ia tidak menetapkan secara spesifik batas kedaulatan Israel di kota tersebut, dan tidak menyebutkan adanya perubahan dalam status quo di situs-situs suci kota tersebut.

Kemarahan tersebar di negara-negara Muslim dan Arab, termasuk protes di Mesir dan Yordania, yang juga memiliki peran khusus sebagai penjaga resmi dari situs suci Muslim di Yerusalem.

Di Kairo, para mahasiswa dan profesor melakukan demonstrasi di Universitas Al-Azhar yang bergengsi, ujar juru bicara universitas tersebut, dimana foto-foto di media sosial menunjukkan beberapa ratus demonstran.

Puluhan mahasiswa lainnya melakukan protes di dua universitas Kairo lainnya.

Para menteri luar negeri negara-negara Arab pada Sabtu (9/12) meminta Amerika Serikat untuk membatalkan pengakuannya terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan agar komunitas internasional mengakui negara Palestina.

Dalam sebuah resolusi setelah pertemuan darurat di Kairo, para menteri negara anggota Liga Arab mengatakan bahwa Amerika Serikat telah “menarik diri sebagai pendukung dan penengah” dalam proses perdamaian Israel-Palestina dengan langkah yang kontroversial.

Para menteri tersebut bertemu di markas besar Liga Arab di Kairo, untuk menyusun tanggapan atas keputusan AS tersebut.

Para demonstran meneriakkan slogan saat demonstrasi melawan keputusan Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel di masjid Al-Azhar di Kairo

Para demonstran meneriakkan slogan saat demonstrasi melawan keputusan Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel di masjid Al-Azhar di Kairo, pada tanggal 8 Desember 2017. (Foto: AFP Photo/Mohamed El-Shahed)

Para pemuka agama Muslim dan Kristen Mesir telah sama-sama membatalkan jadwal pertemuan dengan Pence, sebagai bentuk protes atas keputusan Yerusalem.

Israel merebut Yerusalem Timur dari Yordania pada Perang Enam Hari tahun 1967, dan kemudian mendudukinya, dalam langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.

Palestina menginginkan wilayah sebelah timur sebagai ibu kota negara mereka di masa depan. Israel mengatakan bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel yang tidak terbagi, dan bahwa hanya di bawah pemerintahan Israel lah, kebebasan beribadah telah diberikan kepada semua kelompok agama.

Sebagian besar komunitas internasional tidak mengakui kota kuno tersebut sebagai ibu kota Israel, dan menegaskan bahwa masalah tersebut hanya bisa diselesaikan dengan perundingan.

AFP berkontribusi untuk laporan ini.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas Bertemu Presiden Mesir untuk Bahas Yerusalem
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top