Presiden Rodrigo Duterte Klaim Jadi Sasaran Rencana Pembunuhan
Asia

Presiden Rodrigo Duterte Klaim Jadi Sasaran Rencana Pembunuhan

Presiden Rodrigo Duterte Klaim Jadi Sasaran Rencana Pembunuhan

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan, ia memiliki bukti bahwa ada rencana pembunuhan terhadapnya. Ia mengatakan, memiliki bukti dalam bentuk rekaman yang disediakan oleh negara asing yang tidak disebutkan namanya bahwa sekelompok politisi oposisi, pemberontak Maoi, dan mantan personel militer berencana untuk menggulingkan atau membunuhnya.

Oleh: Jake Maxwell Watts (Wall Street Journal)

Presiden Filipina Rodrigo Duterte dengan tajam mengkritik militer pada hari Selasa (11/9) dan mengklaim dia memiliki bukti adanya rencana pembunuhan terhadapnya, beberapa jam setelah Mahkamah Agung Filipina menolak untuk campur tangan dalam ketegangan politik dengan kritikusnya yang paling vokal.

Pernyataan presiden tersebut dilontarkan setelah manuver hukum selama sepekan sebagai bagian dari usahanya untuk memaksa penangkapan atas Senator Antonio Trillanes IV, dalam sebuah ujian kebebasan peradilan Filipina.

Duterte, dalam sebuah wawancara di televisi pemerintah, mengatakan dia memiliki bukti dalam bentuk rekaman yang disediakan oleh negara asing yang tidak disebutkan namanya bahwa sekelompok politisi oposisi, pemberontak Maoi, dan mantan personel militer berencana untuk menggulingkan atau membunuhnya.

“Seseorang berkata bahwa hal itu adalah rencana mereka sekarang. Jika mereka tidak dapat mencapai tujuan mereka melalui ledakan, mereka akan melakukan pembunuhan,” ujarnya.

Tidak biasanya, Presiden Duterte juga mengkritik angkatan bersenjata dan menantang militer untuk menyingkirkan dirinya dalam kudeta jika mereka menganggapnya tidak layak. “Apabila Anda menginginkan presiden lain, silakan,” katanya, memberi tahu para tentara yang ingin mengusirnya bahwa mereka harus bergabung dengan Trillanes.

Duterte sebelumnya telah mendekati militer, menggandakan gaji untuk jajaran yang lebih rendah, dan berjanji untuk meningkatkan peralatan. Namun, militer telah menolak untuk menangkap Trillanes tanpa surat perintah, suatu sikap yang menentukan batas-batas kepemimpinan Duterte.

Baca Juga: Duterte Salahkan Trump dan Perang Dagangnya Atas Inflasi Filipina

Duterte, 73 tahun, terkenal dengan pidato sarat pernyataan kasar ketika mencela para kritikus, tetapi komentarnya pada hari Selasa (11/9) melampaui keberaniannya yang biasa. Ketika berbicara dengan penasihat hukum utamanya, Duterte membela tindakannya dan mempertanyakan amnesti yang diberikan pada tahun 2011 oleh mantan Presiden Filipina Benigno Aquino III kepada Trillanes atas perannya dalam kudeta yang gagal.

Dia menghubungkan kelompok politik Trillanes dengan dugaan rencana kudeta, dan Duterte mengatakan dia akan mengupayakan deklasifikasi intelijen tentang dugaan rencana pembunuhan terhadap dirinya.

Pengadilan dijadwalkan akan memutuskan pada pekan ini apakah akan mengeluarkan surat perintah untuk menangkap Senator Antonio Trillanes IV. (Foto: Rolex Dela Pena/EPA/Shutterstock)

Mahkamah Agung mengatakan pada hari Selasa (11/9) pagi bahwa mereka akan tunduk pada dua pengadilan yang lebih rendah yang sebelumnya mendengar tuduhan terhadap Trillanes atas rencana kudeta dan pemberontakan, sebelum amnestinya mengabaikan kasus-kasus itu.

Pekan lalu, Duterte mengeluarkan pernyataan sepihak untuk membatalkan pengampunan Trillanes, mengatakan bahwa dokumen itu tidak diajukan dengan benar dan bahwa Trillanes belum cukup mengakui kesalahannya. Duterte berpendapat bahwa pembatalan amnesti berarti persidangan harus terus melanjutkan prosesnya seperti sebelumnya.

Pengadilan dijadwalkan memutuskan pada pekan ini apakah akan mengeluarkan surat perintah untuk menangkap senator, yang bersembunyi di gedung Senat untuk menghindari penangkapan dan mengatakan bahwa Duterte berusaha membungkamnya.

Trillanes mengatakan dia menerima putusan pengadilan, yang mengurangi kemungkinan dia akan ditangkap tanpa surat perintah. Dia mengatakan bahwa Mahkamah Agung telah “sangat dicurigai sebagai bagian dari pemerintahan Duterte” tetapi putusan itu menunjukkan bukti akan adanya “kemiripan atas kebebasan.”

Puluhan pengunjuk rasa telah berjaga-jaga di luar Gedung Senat, tempat Senator Antonio Trillanes IV bersembunyi di kantornya. (Foto: Noel Celis/Agence France-Presse/Getty Images)

Duterte telah memerintahkan militer dan polisi untuk menggunakan segala upaya hukum untuk menangkap Trillanes, senator yang telah menjabat sejak tahun 2007 dan telah membuat jengkel Duterte dengan tuduhan korupsi yang dilakukan presiden dan anggota keluarganya.

Baca Juga: Rodrigo Duterte Diadukan ke Pengadilan Internasional tentang Pembunuhan Saat ‘Perang Lawan Narkoba’

Puluhan tentara dan polisi berusaha menahannya pekan lalu tetapi ditolak masuk ke gedung Senat oleh presiden badan. Trillanes sejak saat itu tinggal di kantor Senat, memesan layanan antar makanan, dan tidur di sofa. Puluhan pengunjuk rasa telah berjaga-jaga di luar Gedung Senat dan mengatakan mereka akan memanggil lebih banyak orang untuk menghadapi polisi jika upaya penangkapan tiba-tiba dilakukan.

Dalam putusannya, Mahkamah Agung mengatakan bahwa permintaan Trillanes untuk putusan pengadilan dan penahanan untuk sementara membatalkan perintah untuk menangkapnya tidak diperlukan karena pemerintah dan militer Filipina telah mengatakan mereka akan mengikuti proses hukum dan menunggu surat perintah pengadilan.

Kedua pengadilan pada awalnya mendengar tuduhan pemberontakan dan kudeta terhadap Trillanes pada tahun 2003 dan 2007. Trillanes telah mengaku bersalah pada saat itu sebagai bagian dari perjanjian amnesti.

Keterangan foto utama: Presiden Filipina Rodrigo Duterte, dalam wawancara di televisi pemerintah, mengatakan bahwa dia memiliki bukti bahwa sekelompok politisi oposisi, pemberontak Maoi, dan mantan personel militer berencana untuk menggulingkan atau membunuhnya. (Foto: Robinson Ninal Jr/Associated Press)

Presiden Rodrigo Duterte Klaim Jadi Sasaran Rencana Pembunuhan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top