Presiden Ukraina
Eropa

Presiden Ukraina Siap Lakukan Dialog ‘Format Normandia’ dengan Rusia

Berita Internasional >> Presiden Ukraina Siap Lakukan Dialog ‘Format Normandia’ dengan Rusia

Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengatakan negaranya siap untuk mengadakan pembicaraan dengan Rusia untuk deeskalasi konflik di Selat Kerch. Dia juga mengatakan bahwa pemerintah Rusia “harus menarik pasukannya yang ditempatkan di perbatasan Rusia-Ukraina dan menarik sejumlah besar kapal perang dari Laut Azov.” Ukraina juga meminta Jerman dan sekutunya untuk meningkatkan kehadiran angkatan laut mereka di Laut Hitam untuk mencegah Rusia melakukan agresi lebih lanjut di wilayah tersebut.

Baca juga: Ukraina kepada NATO: ‘Bantu Kami Lawan Rusia’

Oleh: Tamila Varshalomidze (Al Jazeera)

Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengatakan pemerintahannya siap untuk mengadakan pembicaraan dengan Rusia dalam “format Normandia” untuk mengurangi konflik antara kedua negara di Selat Kerch. Komentar Poroshenko datang pada hari Minggu (2/12), sehari setelah Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas kemungkinan pembicaraan empat arah antara Ukraina, Rusia, Prancis, dan Jerman pada KTT G20 di Argentina.

Keempat negara itu membentuk “Normandy Four” untuk menyelesaikan konflik di timur Ukraina yang melibatkan pemberontak yang didukung Rusia.

Poroshenko mengatakan kepada kantor penyiaran Prancis France 24 bahwa Merkel menyetujui proposal tersebut dalam pembicaraan mereka.

“Kami tentu akan ambil bagian dalam pertemuan format Normandia di tingkat penasihat politik, di mana kami akan mengajukan pertanyaan mendesak: persyaratan bagi Federasi Rusia untuk mengembalikan militer dan kapal kami, serta membuka Selat Kerch,” katanya. “Kami menuntut [dari Rusia]: berhenti melanggar hukum internasional, karena [hal itu] mungkin memiliki konsekuensi lebih lanjut,” tutur Poroshenko.

Dia juga mengatakan bahwa pemerintah Rusia “harus menarik pasukannya yang ditempatkan di perbatasan Rusia-Ukraina dan menarik sejumlah besar kapal perang dari Laut Azov.”

Ukraina juga meminta Jerman dan sekutunya untuk meningkatkan kehadiran angkatan laut mereka di Laut Hitam untuk mencegah Rusia melakukan agresi lebih lanjut di wilayah tersebut.

‘Rusia senantiasa menolak mengadakan pembicaraan’

Volodymyr Fesenko, direktur Penta Center for Political Studies di Kiev, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Ukraina selalu mendukung dilakukannya negosiasi.

“Rusia terus-menerus menolaknya. Poroshenko mencoba berbicara dengannya tepat setelah insiden di Selat Kerch, tapi Putin menolaknya. Kemudian, para menteri luar negeri dari format Normandia bertemu di Berlin, tetapi kami diberitahu bahwa pihak Rusia menolak untuk membahas situasi Kerch,” katanya. “Sekarang, sudah jelas mengapa. Rusia menghalangi pembicaraan karena menunggu berakhirnya pemilihan presiden [31 Maret 2019] di Ukraina.”

Dia juga mengatakan bahwa tanpa pembicaraan format Normandia, tidak akan ada Perjanjian Minsk “dan setidaknya sebagian implementasi dari perjanjian tersebut.”

Baca juga: Apa yang Perlu Anda Ketahui tentang Konflik Rusia-Ukraina di Laut Azov

“Semua pertanyaan serius telah diselesaikan hanya dalam format Normandia. Tanpa mediator seperti Jerman, tidak akan ada kemajuan,” katanya.

Oleksiy Haran, kepala penelitian di Yayasan Inisiatif Demokrasi Ilko Kucheriv, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Ukraina tidak mungkin melakukan pembicaraan dengan Rusia tanpa pihak ketiga.

“Setiap kali kami melakukan pembicaraan bilateral, Rusia melanggarnya. Tidak ada kepercayaan kepada Rusia,” kata Haran.

Keretakan antara Rusia dan Ukraina kian intensif setelah pemerintah Ukraina menggulingkan presiden yang didukung Rusia, Viktor Yanukovich, pada tahun 2014. Masalah itu berubah menjadi konflik menyusul aneksasi Rusia di Semenanjung Krimea serta perebutan wilayah Donetsk dan Luhansk di timur oleh pemberontak yang didukung Rusia pada tahun yang sama.

Konflik antara dua negara negara tetangga tersebut kembali memanas pada hari Minggu (25/11) setelah patroli perbatasan Rusia memblokir tiga kapal militer Ukraina agar tidak dapat bepergian dari Laut Hitam ke Laut Azov melalui Selat Kerch, yang merupakan perairan internal bersama kedua negara menurut persetujuan tahun 2003.

Pada hari Sabtu (1/12), Poroshenko, yang percaya bahwa pemerintah Rusia ingin menaklukkan seluruh Ukraina, mengatakan ada lebih dari 80 ribu tentara Rusia di negaranya dan sekitarnya.

Kremlin telah menuduh presiden Ukraina mempermainkan konflik dengan Rusia untuk mengamankan dukungan pemilu dalam pemilihan presiden yang akan datang.

Keterangan foto utama: Presiden Ukraina Petro Poroshenko menginginkan pemerintah Rusia menarik pasukan mereka di sepanjang perbatasan Rusia-Ukraina. (Foto: Reuters)

Presiden Ukraina Siap Lakukan Dialog ‘Format Normandia’ dengan Rusia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top