Problematika Surga Indonesia: ‘Mereka Hasilkan Banyak Uang, Kami Masih Miskin’
Berita Politik Indonesia

Problematika Surga Indonesia: ‘Mereka Hasilkan Banyak Uang, Kami Masih Miskin’

Pemandangan udara dari surga Raja Ampat, Indonesia. (Foto: Shutterstock)
Home » Berita Politik Indonesia » Problematika Surga Indonesia: ‘Mereka Hasilkan Banyak Uang, Kami Masih Miskin’

Pulau-pulau di Raja Ampat disebut sebagai surga pariwisata terindah di Indonesianamun penduduk setempat merasa takut pemerintah mengecewakan mereka, dan juga gagal melestarikan lingkungannya, ketika bernafsu menjadikannya sumber penghasilan melalui pariwisata.

Oleh: Deutsche Welle

Gubuk bambu di pantai Pasir Putih dengan pohon palem di Raja Ampat, Papua, Indonesia

Gubuk bambu di pantai Pasir Putih dengan pohon palem di Raja Ampat, Papua, Indonesia. (Foto: Shutterstock)

Pemandangan pantai berpasir putih, terumbu karang berwarna-warni dan perairan sewarna pirus yang membentang sepanjang 67.000 kilometer persegi di ujung timur Indonesia, pulau-pulau yang sempurna itu mungkin paling mirip dengan surga yang bisa kita temukan di dunia nyata. “Sungguh luar biasa, kami pernah ke jutaan pulau dan saya akan mengatakan ini yang paling indah,” kata Angelika Redweik-Leung dari Kanada, di sebuah pos pengamatan, di atas kelompok pulau di Pianemo.

Raja Ampat di Papua—yang berarti Empat Raja—terdiri dari 1.500 pulau dan merupakan rumah bagi sekitar 1.400 jenis ikan dan 600 spesies karang—menjadikannya salah satu habitat laut paling kaya keanekaragaman hayatinya di bumi. Pemerintah Indonesia bermaksud mengubah kawasan ini menjadi hotspot pariwisata, membangun hotel, restoran dan investasi di pelabuhan baru.

Tapi di sebuah pulau yang dikelilingi pohon palem sekitar dua jam perjalanan dengan kapal dari ibu kota Raja Ampat, Waisai, penduduk desa masih tinggal di pondok sederhana yang kekurangan listrik dan air bersih, sementara sekolah menengah terdekat berjarak beberapa mil jauhnya. Warga setempat mengatakan bahwa mereka tidak melihat adanya perbaikan dalam kehidupan mereka meskipun terjadi peningkatan dramatis pada pengunjung.

Menurut perkiraan pemerintah, sekitar 15.000 wisatawan sekarang datang ke daerah tersebut setiap tahun—meningkat dari 5.000 pada tahun 2010. “Mereka telah menyakiti kami masyarakat adat, membawa tanah, air dan hutan kami. Kami merasa dikhianati,” Paul Mayor, kepala suku Byak Betew pulau itu, mengatakan tentang kampanye wisata pemerintah. “Itu tanah kita, laut kita, yang sekarang merupakan tujuan wisata kelas dunia, tapi kita tidak mendapat apa-apa dari arus masuk wisatawan,” tambahnya.

Mayor juga mengkritik pihak berwenang karena gagal melindungi ekosistem unik kawasan ini dengan benar, yang mengarah ke sebuah kecelakaan kapal pesiar pada bulan Maret yang merusak 13.500 meter persegi terumbu karang murni. Caledonian Sky seberat 4.200 ton kandas di dekat pulau Kri yang membawa 102 penumpang dan 79 awak, namun setengah tahun kemudian tidak ada yang dianggap bertanggung jawab.

Periset dari Universitas Papua, yang menilai dampak kecelakaan tersebut, mengatakan pemulihan terumbu yang rusak bisa menelan biaya sebesar $16,2 juta. Kepala pariwisata untuk Raja Ampat, Yusdi Lamatenggo, mengatakan bahwa perusahaan yang mengoperasikan kapal tersebut—Noble Caledonia—akan dipanggil untuk segera hadir di pengadilan namun sejauh ini mereka belum bertanggung jawab atau membayar ganti rugi apapun.

Pemandangan udara dari surga Raja Ampat, Indonesia

Pemandangan udara dari surga Raja Ampat, Indonesia. (Foto: Shutterstock)

Sementara itu, dia mengatakan, langkah-langkah diambil untuk mencegah kecelakaan lebih lanjut dengan menetapkan rute kapal pesiar yang jelas dan pelabuhan kelas dunia. Namun kecelakaan tersebut telah memicu perasaan ketidakpercayaan dan eksklusi yang sering dirasakan oleh penduduk asli Papua Melanesia. Wilayah yang kaya sumber daya itu dianeksasi oleh Jakarta pada tahun 1969 dan sebagian besar orang Papua merasa bahwa mereka belum mendapatkan bagian kekayaan alamnya. Militer tetap memiliki pengaruh berat di wilayah ini dan secara teratur menahan pembangkangan.

Setelah menjabat pada 2014, presiden Joko “Jokowi” Widodo berjanji untuk mempercepat pembangunan di Papua, namun banyak penduduk setempat bersikeras bahwa mereka telah dilupakan.

“Tidak ada perubahan,” kata Ariel Fakdawer, kepala desa Saukabu di Raja Ampat. “Festival Raja Ampat tahunan, misalnya, menarik ribuan turis tapi kami tidak mendapatkan apapun dari itu. Kami masih miskin, tapi penyelenggara festival semacam itu, orang luar, mereka telah menghasilkan banyak uang,” tambahnya.

Ikan kakap kuning di Raja Ampat

Ikan kakap kuning di Raja Ampat. (Foto: Shutterstock)

Kelompok masyarakat adat mengatakan bahwa mereka memerlukan satelit komunikasi, listrik, infrastruktur yang lebih baik, dan hak untuk memerintah sendiri berdasarkan hukum adat. “Pemerintah tidak pernah memenuhi kebutuhan kita karena mereka tidak mengerti apa yang kita inginkan,” kata Mayor. “Saya percaya pemerintah harus mendekati kita dengan mengingat kebutuhan budaya kita, mereka harus berbicara dengan kita masyarakat adat,” tegasnya.

Tapi tidak semua orang menentang promosi Raja Ampat ke seluruh dunia. Warga Desa Medzke Karoswaf menjelaskan: “Ini adalah dunia modern, kita tidak bisa hidup terisolasi seperti di dalam gua selamanya Kita harus berpikiran terbuka, suka atau tidak, kita tidak hidup sendiri di dunia ini.”

Problematika Surga Indonesia: ‘Mereka Hasilkan Banyak Uang, Kami Masih Miskin’

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Bentrokan Dekat Tambang Emas Papua Tewaskan Satu Polisi, Enam Lainnya Terluka - Mata Mata Politik

Beri Tanggapan!

To Top