Protes Irak Meletus, Kesempatan Perdana Menteri untuk Kembali Menjabat Sirna
Timur Tengah

Protes Irak Meletus, Kesempatan Perdana Menteri untuk Kembali Menjabat Sirna

Home » Featured » Timur Tengah » Protes Irak Meletus, Kesempatan Perdana Menteri untuk Kembali Menjabat Sirna

Harapan Perdana Menteri Haider al-Abadi untuk kembali menjabat sirna. Protes Irak menghancurkan kemungkinan menang Abadi yang didikung oleh Amerika Serikat ini. Protes besar-besaran yang telah menewaskan 15 orang ini, ditibankan oleh pihak oposisi sebagai kesalahan Abadi.

Oleh: Ahmed Rasheed dan Raya Jalabi (Reuters)

Protes-protes keras di kota Irak, Basra, mengakhiri kesempatan Perdana Menteri Haider al-Abadi yang didukung Amerika Serikat (AS) untuk memenangkan masa jabatan kedua, dan menghancurkan harapan Washington untuk membentuk pemerintahan berikutnya.

Lima belas orang telah tewas ketika memprotes pemadaman listrik, air yang tercemar, layanan yang buruk, dan dugaan korupsi di kota kedua Irak, di mana banyak dari mereka bentrok dengan pasukan keamanan.

Para sekutu dan pemimpin politik dari lembaga agama menyalahkan Abadi atas kekacauan itu, dan memberikan ancaman terhadap aliansi yang ia bentuk dengan ulama populis Moqtada al-Sadr.

Baca Juga: Agresivitas John McCain di Timur Tengah: Bom Iran hingga Perang Irak

Aliansi dengan Sadr—yang blok Saeroonnya menang dalam pemilihan pada bulan Mei tetapi tidak mampu membentuk pemerintahan—menawarkan kepada Abadi peluang terbaiknya untuk tetap menjadi perdana menteri.

Namun Sadr telah mengecam manajemen Krisis Basra, dan sedang berada dalam pembicaraan lanjutan dengan koalisi Fatih—yang dipimpin oleh komandan milisi Syiah yang didukung Iran, Hadi al-Amiri—untuk membentuk aliansi baru, sumber-sumber yang dekat dengan pembicaraan itu mengatakan kepada Reuters.

Kesepakatan antara Fatih dan Saeroon dapat memberi Iran—musuh AS—peluang untuk mendapatkan lebih banyak pengaruh di Irak, tetangga Arab yang paling penting.

“Pembicaraan antara Fatih dan Saeroon sangat serius dan dapat mengarah pada terobosan dalam krisis politik segera,” kata anggota parlemen Razzaq al-Haidari, yang merupakan anggota Organisasi Badr Amiri.

Kedua pihak masih merundingkan rinciannya, kata sumber itu. Tetapi satu sumber senior di Fatih mengatakan bahwa kompromi telah disetujui, di mana keduanya akan menarik kandidat utama mereka untuk jabatan perdana menteri.

“Itulah yang kami (Saeroun dan Fatih) sepakati, jadi Amiri telah menarik pencalonannya. Dan kami sepakat bahwa Abadi tidak memenuhi syarat untuk masa jabatan kedua,” kata sumber itu.

Seorang pengunjuk rasa Irak berpose di depan Konsulat Iran yang terbakar di Basra, Irak, pada tanggal 7 September 2018. (Foto: Reuters/Essam al-Sudani)

Sadr dan Amiri setuju pada Rabu (12/9) untuk mempercepat pembentukan pemerintah. Rincian lengkap pembicaraan mereka tidak tersedia, tetapi koalisi tersebut terlihat sudah dekat.

“Kegagalan Abadi dalam mengelola krisis Basra benar-benar meyakinkan Sadr, bahwa mendukung Abadi akan membahayakan status dan popularitasnya di antara jutaan pengikutnya,” kata analis yang berbasis di Baghdad, Ahmed Younis.

Amerika Serikat mendukung Abadi karena melihatnya sebagai seorang moderat yang dapat menstabilkan negara yang dilanda politik sektarian dan bergolak tersebut. Tapi Washington mungkin salah perhitungan, dan tidak mempersiapkan alternatif lain.

Runtuhnya pencalonan Abadi akan mengurangi kekuasaan AS atas politik di Irak, di mana ia bersaing dengan Iran. Teheran terus meningkatkan pengaruhnya di negara itu, sejak invasi yang dipimpin AS menggulingkan Saddam Hussein pada tahun 2003.

ABADI DIMINTA UNTUK MENINGGALKAN BASRA

Protes di selatan Irak—pusat minyak utama negara itu—menandai penolakan terhadap badan-badan politik yang telah memegang kekuasaan dengan dukungan Amerika Serikat dan Iran, meskipun gagal meningkatkan kehidupan orang-orang.

Selama kunjungan pada Senin (10/9) ke Basra—yang berada di jantung mayoritas Muslim Syiah Irak—Abadi disambut oleh pengunjuk rasa yang menuntut agar dia meninggalkan kota tersebut. Kantor Abadi tidak bisa dimintai komentar.

Baca Juga: Irak Serang Ruang Operasi ISIS di Suriah

Keuntungan politik dari kemenangan Abadi atas kelompok militan ISIS di Irak tahun lalu—dengan dukungan AS—terbukti berumur pendek, dan masalah di Basra telah memberikan fokus tajam pada kegagalan pemerintah.

“Pesan dari Basra keras dan jelas untuk semua elit politik,” kata Ali al-Mawlawi, kepala Penelitian di Al Bayan Center yang berbasis di Baghdad. “Mereka menyadari, bahwa ada bom waktu.”

Sadr menggambarkan dirinya sebagai seorang nasionalis ganas yang menentang campur tangan AS dan Iran di Irak, tetapi harus memberikan Iran beberapa ruang untuk manuver dalam kemitraan dengan blok Amiri.

Demonstran Irak berlari selama protes dekat gedung kantor pemerintah di Basra, Irak, pada tanggal 5 September 2018. (Foto: Reuters/Alaa al-Marjani)

Iran berusaha mempertahankan kepentingannya di Irak dan di tempat lain di Timur Tengah, setelah Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir internasional dengan Teheran, dan memutuskan untuk memberlakukan kembali sanksi keras terhadap musuhnya itu.

Tidak ada jaminan bahwa Teheran dapat membentuk lanskap politik Irak tanpa perjuangan. Banyak pemilih yang mendukung Sadr dalam pemilu, kecewa dengan elit politik yang didukung Iran yang mereka tuduh korupsi.

Persatuan Sadr dan Abadi rapuh sejak awal, dan sudah menunjukkan tanda-tanda ketegangan sebelum para pemimpin Saeroon, dan kemudian Fatih, menyerukan pada Sabtu (8/9) agar Abadi mengundurkan diri setelah sidang parlemen darurat di Basra.

“Itu adalah pernyataan kami, bahwa ini adalah akhir bagi Abadi dan masa jabatan keduanya,” kata sumber senior di Fatih.

Politisi Lama Diserang Kritik

Dengan jelas merujuk pada Abadi dan yang lain, ulama terkemuka Syiah di Irak, Ayatollah Agung Ali al-Sistani—yang campur tangannya dapat menjatuhkan para politisi—mengecam pengabaian terhadap Basra, dan menyerukan untuk mengakhiri para politisi lama tersebut.

Brett McGurk, utusan senior AS yang berada di Irak minggu lalu, mencoba menggalang dukungan untuk Abadi di antara berbagai faksi.

Namun Iran juga telah mencoba membentuk pemerintahan berikutnya di Irak. Delegasi senior Iran telah berada di ibu kota Baghdad selama beberapa bulan, berusaha meyakinkan faksi-faksi Syiah yang terpecah, untuk bersatu di belakang satu calon perdana menteri.

Mojtaba Khamenei—putra Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Ayatollah Ali Khamenei—juga telah mengunjungi Baghdad untuk melakukan pembicaraan dengan Amiri dan Maliki, kata tiga sumber politik.

Keberhasilan Iran belum pasti. Para pengunjuk rasa di Basra membakar konsulat Iran dan meneriakkan, “Iran keluar, keluar”—sebuah peringatan adanya risiko jika terlalu dekat dengan pengaruh dari luar.

Iran dan Amerika Serikat juga akan menghadapi tugas yang sulit dalam mencoba mempromosikan calon perdana menteri yang tampaknya tidak bergantung pada mereka, dan berada di luar badan-badan politik yang banyak disalahkan oleh warga Irak atas masalah di Basra.

“Cara orang Amerika dan Iran memandang Irak sampai sekarang adalah, bahwa jika mereka mendukung kuda mereka, maka mereka dapat mengendalikan negara itu,” kata Renad Mansour, seorang ahli Irak di wadah pemikir Chatham House di London.

“Apa yang dikatakan oleh koalisi potensial baru ini—atau setidaknya apa yang dikatakan oleh para pendukung Sadr—adalah bahwa kita tidak memiliki masalah dengan urusan internasional. Tetapi Anda tidak bisa lagi memperlakukan kami sebagai proksi Anda. Kami bukan proksi Anda, kami sekutu Anda.”

Penyuntingan oleh Michael Georgy dan Timothy Heritage.

Keterangan foto utama: Asap membumbung dari gedung Dewan Gubernur di Basra, Irak, pada tanggal 6 September 2018. (Foto: Reuters/Essam al-Sudani)

Protes Irak Meletus, Kesempatan Perdana Menteri untuk Kembali Menjabat Sirna

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top