Rompi Kuning
Eropa

Protes Rompi Kuning Anti-Macron Prancis Berubah Jadi Mematikan

Berita Internasional >> Protes Rompi Kuning Anti-Macron Prancis Berubah Jadi Mematikan

Orang-orang Prancis rupanya sangat membenci presiden mereka, Emmanuel Macron. Hal itu mereka tunjukkan dengan turun ke jalan, membakar kota Paris dan sampai menimbulkan keributan dan kerusuhan. Protes yang dilakukan oleh kelompok Rompi Kuning itu telah berubah menjadi kerusuhan yang mematikan.

Oleh: Alex Ward (Vox)

Baca Juga: Trump Kritik Protes Prancis karena Tidak Fokus pada Prioritas Trump

Prancis tengah terbakar.

Negara tersebut saat ini berada dalam cengkeraman protes dan kerusuhan meluas yang telah menyebabkan bentrokan dengan polisi, ratusan orang terluka, dan kerusakanharta senilai ribuan dolar AS.

Protes dimulai sekitar tanggal 17 November 2018, ketika para pengendara Prancis yang mengenakan rompi kuning memimpin demonstrasi 280 ribu orang di seluruh negeri untuk menentang kenaikan pajak atas bahan bakar gas dan solar. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan pajak gas baru awal tahun 2018 sebagai bagian dari rencana yang lebih luas untuk meminimalkan ketergantungan Prancis pada bahan bakar fosil.

Pajak akan meningkatkan harga bahan bakar sekitar 30 sen per galon dan akan terus meningkat selama beberapa tahun ke depan, kata pemerintah Prancis. Bahan bakar gas sudah dipatok sekitar US$7,06 per galon di Prancis.

Gerakan protes, yang dikenal sebagai gilets jaunes, bahasa Prancis untuk memakai “rompi kuning” yang dikenakan para pengunjuk rasa, telah memblokir jalan-jalan dan tol, membakar mobil, dan bersitegang dengan polisi sebagai respon terhadap kenaikan harga.

Dalam beberapa hari terakhir, para pengunjuk rasa telah mulai mengarahkan kemarahan mereka pada keadaan ekonomi Prancis juga, dan pada kepemimpinan Macron pada umumnya.

Hari Sabtu (1/12) merupakan salah satu hari terburuk kerusuhan, dengan kerusuhan besar ketiga di Paris digambarkan oleh beberapa orang sebagai “perang perkotaan” dan “kerusuhan terburuk dalam satu generasi.” Sekitar 133 orang terluka, termasuk aparat penegak hukum, dan sekitar 412 orang telah ditangkap. Kementerian Dalam Negeri Prancis mengatakan pihaknya harus mengerahkan 37 ribu petugas polisi, 30 ribu petugas pemadam kebakaran, dan 30 ribu polisi bersenjata yang merupakan anggota pasukan bersenjata kementerian, untuk memukul mundur protes itu.

Namun gerakan itu telah menyebar ke banyak bagian negara, dan dalam beberapa kasus telah berubah mematikan.

Para pengunjuk rasa selama protes “Rompi Kuning” di Paris, tanggal 1 Desember 2018. (Foto: Getty Images/Veronique de Viguerie)

Hari Sabtu (1/12), seorang pengunjuk rasa di kota pelabuhan selatan Marseille melemparkan tabung gas air mata melalui jendela sebuah rumah, menewaskan seorang wanita berusia 80 tahun. Tiga orang lainnya juga tewas sejak protes dimulai, menurut polisi.

Kelompok jaket kuning juga memblokir akses ke 11 pom bensin untuk perusahaan energi Prancis, Total, sehingga mengurangi pendapatan bagi 75 dari 2.200 pom bensin perusahaan. Pemerintahan Macron memperkirakan toko dan restoran telah kehilangan antara 20 dan 50 persen dari pendapatan yang mereka harapkan sejak demonstrasi dimulai.

Protes tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, tapi justru terus meningkat. Pemerintah Prancis mengatakan sekitar 136 ribu orang berpartisipasi dalam protes nasional pada hari Minggu (2/12). Pada hari Senin (3/12), siswa di 100 sekolah di seluruh negeri berdemonstrasi menentang reformasi pendidikan.

Gerakan yang tumbuh telah menarik perhatian banyak orang di seluruh dunia, termasuk setidaknya seorang selebriti Amerika dengan beberapa kecenderungan anti-Barat:

Pamela Anderson @pamfoundation 6:49 PM – Dec 3, 2018

“Saya membenci kekerasan, tetapi apa artinya kekerasan dari semua orang ini dan membakar mobil mewah, dibandingkan dengan kekerasan struktural para elit Prancis dan global?”

Hal itu jelas sangat mengganggu pemerintah Macron, yang telah membuat sedikit kemajuan dalam menghentikan aksi protes.

Macron menulis di Twitter pada hari Sabtu (1/12) bahwa dia akan “selalu menghormati protes” dan “akan selalu mendengarkan oposisi,” tetapi menambahkan: “Saya tidak akan pernah menerima kekerasan.”

Macron mengadakan pertemuan keamanan dengan staf puncaknya pada hari Senin (3/12). Perdana Menteri Prancis kemudian berencana untuk bertemu dengan perwakilan gerakan “rompi kuning” pada hari Selasa (4/12).

Tetapi pajak gas atau perubahan pendidikan tidak lagi tampak seperti alasan utama orang Prancis melakukan protes. Aksi protes itu terjadi sebagian besar karena Macron sendiri.

Mengapa begitu banyak orang Prancis yang tidak puas dengan Macron

Jeff Lightfoot, seorang pakar Prancis di lembaga pemikir Atlantic Council di Washington, DC, mengatakan kepada penulis pekan lalu bahwa ada dua alasan utama mengapa Macron telah menjadi sosok yang tidak popular di Prancis.

Alasan pertama adalah dia tidak memiliki basis politik. Dia adalah seorang teknokrat Paris yang mengendarai gelombang ketidakpuasan terhadap partai politik Prancis tradisional untuk meraih kemenangan presiden pada bulan Mei 2017.

Macron belum mendapatkan banyak dukungan di luar daerah perkotaan. Jadi salah satu beban politik terbesar Macron adalah dia tidak memiliki dukungan yang dapat diandalkan jika situasi berubah menjadi buruk.

Gas air mata menyelubungi para pengunjuk rasa saat mereka bentrok dengan polisi anti huru-hara selama demonstrasi “Rompi Kuning” di Paris, tanggal 1 Desember 2018. (Foto: Getty Images/Veronique de Viguerie)

Alasan kedua, patut disayangkan bagi Macron, adalah bahwa hal-hal telah berubah kian buruk secara ekonomi di Prancis.

Ekonomi Prancis sedang tumbuh, tetapi dengan sangat lambat. Sebagian besar pertumbuhan terpusat di kota-kota besar, seperti Paris. Sebaliknya, kawasan lainnya di pinggiran dan di komunitas pedesaan belum mengalami banyak keuntungan. Terlebih lagi, penduduk pedesaan Prancis lebih bergantung pada mobil daripada penduduk perkotaannya, itulah sebabnya banyak di wilayah tersebut yang paling marah dengan pajak gas.

“Tanyalah seorang warga Paris, baginya tidak ada satu pun dari masalah ini mengganggunya, karena dia tidak membutuhkan mobil,” tutur Marco Pavan, seorang sopir truk dan taksi di sebuah kota kecil dekat perbatasan Prancis-Swiss, kepada The Washington Post pada hari Sabtu (1/12). “Kami tinggal di sisi gunung,” dia melanjutkan, “Di sini tidak ada bus atau kereta api untuk membawa kami ke mana saja. Kami harus punya mobil.”

Kemarahan orang-orang dengan kalangan elit telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, kata Lightfoot, sebagian karena Macron dapat dipandang sombong dan tak tersentuh. “Dia secara terbuka mengolok-olok orang,” ujar Yves Rollet, seorang pensiunan Prancis, kepada The Washington Post pada hari Sabtu (1/12).

Hal itu tidak membantu Macron, dalam upaya untuk mereformasi ekonomi Prancis, memangkas manfaat yang sudah berlangsung lama, dan mengakhiri perlindungan tenaga kerja. Misalnya, Macron mempermudah perusahaan untuk merekrut dan memecat karyawan dan melawan serikat pekerja untuk mengakhiri subsidi bagi sektor-sektor tertentu.

Itulah sebabnya sebagian orang melihat Macron sebagai presiden orang kaya, kata Lightfoot: Dia memulai perubahan yang dapat dengan mudah ditangani oleh banyak orang kaya di negara itu, tapi tidak demikian halnya dengan orang-orang miskin di Prancis.

Baca Juga: Protes di Paris: ‘Kami Tidak Sanggup Membeli Makan’

Api menjilat-jilat di jalanan ketika para pengunjuk rasa bentrok dengan polisi anti huru-hara selama demonstrasi “Rompi Kuning” di Paris, tanggal 1 Desember 2018. (Foto: Getty Images/Veronique de Viguerie)

Artinya, Macron akan berada di persimpangan dengan para pengunjuk rasa untuk beberapa waktu, terutama karena dia tidak memberikan indikasi bahwa dia akan mengabulkan tuntutan mereka. Dengan demikian, hal itu mungkin akan menjadi kesempatan emas bagi beberapa pesaing politiknya, seperti politisi sayap kanan Marine Le Pen, yang memicu ketegangan dengan mengklaim bahwa Macron dapat menembaki para pengunjuk rasa. Pasa pesaingnya dapat mengambil keuntungan dari ketidakpuasan publik dan menjadi alternatif utama untuk menggantikan Macron.

Yang menjadi kekhawatiran utama bagi para pengamat Prancis ialah apa yang akan terjadi, tidak hanya dalam beberapa hari ke depan, tetapi juga di masa depan. “Beberapa tahun yang akan datang akan menjadi tantangan berat [bagi Prancis],” kata Lightfoot.

Keterangan foto utama: Para pengunjuk rasa di Paris selama demonstrasi ketiga “Rompi Kuning” tanggal 1 Desember 2018. (Foto: Getty Images/Veronique de Viguerie)

Protes Rompi Kuning Anti-Macron Prancis Berubah Jadi Mematikan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top