rompi kuning
Eropa

Protes Rompi Kuning Menjalar ke Belgia dan Belanda

Berita Internasional >> Protes Rompi Kuning Menjalar ke Belgia dan Belanda

Protes rompi kuning yang berlangsung secara besar-besaran di Prancis telah menjelar ke negara-negara Eropa lainnya. Ratusan orang berunjuk rasa di Belgia dan Belanda. Walau tidak mengalami kenaikan bahan bakar seperti di Prancis, mereka sama-sama menyerukan ekonomi yang lebih adil.

Baca Juga: Dukungan Kontroversial Donald Trump atas Protes Rompi Kuning Paris

Oleh: Lorne Cook dan Mike Corder/AP

Polisi Belgia menembakkan gas air mata dan semprotan air kepada para demonstran rompi kuning. Para demonstran itu menyerukan agar Perdana Menteri Charles Michel setelah mereka berusaha menembus barikade anti huru-hara, seiring gerakan yang dimulai di Prancis membuat jejaknya pada hari Sabtu (8/12) di Belgia dan Belanda.

Para pengunjuk rasa di Belgia melempar batu, marka jalan, kembang api, api suar dan objek lainnya ke ara blokade polisi yang memblokade pergerakan masuk mereka ke area lokasi kantor Michel, dan gedung pemerintahan serta parlemen lainnya.

Juru bicara kepolisian Brussels Ilse Van de Keere mengatakan bahwa ada sekitar 400 pengunjuk rasa berkumpul di area itu.

Setelah 100 orang ditahan, kebanyakan karena membawa objek-objek berbahaya seperti kembang api atau pakaian yang bisa digunakan sebagai pelindungan dalam kerusuhan dengan polisi.

Alasan untuk protes ini tidak sepenuhnya jelas. Baik Belgia maupun Belanda tidak ada yang mengajukan kenaikan harga bahan bakar—katalis untuk demonstrasi besar-besaran yang merusak di Prancis dalam minggu-minggu terakhir.

Alih-alih, para demonstran sepertinya setidaknya mendukung—setidaknya sebagian—gerakan populis yang marah terhadap kebijakan pemerintah secara umum dan apa yang mereka lihat sebagai melebarnya jarak antara politisi arus utama dan para pemilih yang menempatkan mereka di kekuasaan. Beberapa di Belgia seperti hanya berniat untuk mengonfrontasi polisi.

Sebelumnya di Brussels, polisi menggunakan semprotan merica dan bekukan fisik terhadap sekelompok kecil pengunjuk rasa yang berusaha untuk menerobos barikade yang memblok akses mereka ke Parlemen Eropa dan institusi utama Uni Eropa lainnya.

Unjuk rasa itu, yang dimulai di lokasi lain di sekitar kora dan bergerak ke alun-alun Eropa, mengganggu jalan dan lalu lintas rel pada hari-hari paling ramai menjelang Natal.

Berjalan di belakang sebuah spanduk yang bertuliskan “social winter is coming” para pengunjuk rasa menyerukan “(Presiden Prancis Emmanuel) Macron, Michel mengundurkan diri.”

Puluhan orang digeledah begitu mereka tiba, dan polisi memperingatkan warga agar menjauh dari area unjuk rasa.

Ratusan polisi dikerahkan. Minggu lalu, para pengunjuk rasa rompi kungin bentrok dengan polisi dan membakar dua mobil polisi di area yang ama. Lebih dari 70 orang ditangkap.

Di kota Belanda, Rotterdam, ratusan pengunjuk rasa mengenakan rompi dengan warna yang mencolok yang tlah menjadi simbol suatu pergerakan bergerak dengan damai menyebrangi Jembatan Erasmus di pusat kota. Mereka menyanyikan sebuah lagu tentang Belanda dan membagikan bunga kepada orang-orang yang lewat.

Dua saudari Beb dan Ieneke Lambermont, berusia 76 dan 67 tahun, berada di antara para pengunjuk rasa.

“Anak-anak kami adalah pekerja keras tapi mereka harus membayar berbagai jenis pajak. Anda tidak bisa lagi mendapatkan rumah. Kondisinya tidak berjalan baik bagi masyarakat Belanda,” ujar Ieneke. “Tunjangan sosial yang ada saat kami tumbuh besar sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

“Pemerintah tidak mendukung rakyat. Mereka hanya mendukung kepentingan mereka sendiri,” lanjutnya.

Sekitar 100 pengunjuk rasa berkumpul dalam demonstrasi damai di luar kantor parlemen di Den Haag. Setidaknya dua pengunjuk rasa ditangkap oleh polisi di pusat Amsterdam.

Jan Dijkgraaf, editor dari sebuah “surat kabar perlawanan” Belanda telah menyerukan unjuk rasa damai di Amsterdam dan Rotterdam.

Dijkgraaf mengatakan masyarakat mendambakan masa lalu yang lebih adil dalam sejarah Belanda, menjabarkannya sebagai “perasaan bersatu, tapi juga menjaga para pencari suaka dengan baik, saling menjaga satu sama lain.”

Baca Juga: Protes Rompi Kuning Paris, Prancis Pertimbangkan Status Darurat

Pengunjuk rasa lainnya lebih ekstrem—dalam suatu reli kecil dan tidak-rusuh minggu lalu di Den Haag, seorang pengunjuk rasa mengibarkan bendara bersejarah Belanda yang telah menjadi simbol kelompok kanan garis keras—dan Dijkgraaf mengatakan beberapa demonstran tidak senang dengan rencananya yang moderat.

Namun dia mengatakan kekerasan seperti yang terjadi minggu lalu di Prancis dan—dalam porsi yang lebih kecil di Belgia—tidak akan berhasil di Belanda.

“Warga Belanda tidak seperti orang Prancsi—Anda membakar 100 mobil dan mendapatkan apa yang Anda inginkan,” ujarnya dalam wawancara telepon minggu lalu. “Jika Anda membakar 100 mobil di sini, Anda tidak akan pernah diizinkan berunjuk rasa lagi dan tidak ada apa-apa lagi yang bisa terjadi.”

Keterangan foto utama: Gerakan “Rompi Kuning” menjadi aksi protes kolektif atas masalah yang telah melanda Prancis selama bertahun-tahun. (Foto: Reuters/Stephane Mahe)

Protes Rompi Kuning Menjalar ke Belgia dan Belanda

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top