Proyek Bendungan Akan Hancurkan Surga Satwa Sumatra
Berita Politik Indonesia

Proyek Bendungan Akan Hancurkan Surga Satwa Sumatra

Berita Internasional >> Proyek Bendungan Akan Hancurkan Surga Satwa Sumatra

Tidak banyak yang tahu tentang proyek bendungan yang akan dibangun di Sumatera Utara, di tengah-tengah hutan di dekat Sungai Bila. Proyek bendungan ini, yang rencananya akan dimulai pada tahun 2020, bisa sangat menghancurkan ekosistem berbagai satwa langka yang ada di hutan tersebut. Termasuk habitat Harimau Sumatra yang sudah nyaris punah.

Baca Juga: Jubir: Probowo Mungkin Akan Tinjau Kembali Proyek China jika Terpilih

Oleh: Gregory Mccann dan Haray Sampurna Munthe (Asia Times)

Masyarakat umum telah mengetahui tentang situasi genting kera besar yang paling baru teridentifikasi di dunia—orangutan Tapanuli—di Ekosistem Batang Toru. Di sana, pembangunan bendungan yang didukung China sedang berlangsung, skema pembangunan yang masih dipertanyakan ini telah menyebabkan orangutan melarikan diri dari hutan dan masuk ke lahan pertanian di dekatnya.

Ini adalah situasi yang sangat memprihatinkan, apalagi karena hutan ini merupakan rumah bagi spesies lain yang terdaftar oleh IUCN sebagai spesies yang sangat terancam punah, seperti harimau Sumatra.

Namun tidak banyak orang yang tahu tentang bendungan baru yang muncul di ekosistem hutan yang relatif tidak dikenal ini, tidak jauh dari Batang Toru—Ekosistem Bukit Hadabuan. Di sana, di tengah rimba hutan hujan tropis, di mana para siamang bermain dan di mana burung enggang badak dan enggang hitam berkokok di atas kanopi hutan, survei oleh perusahaan hidroelektrik Korea baru saja selesai, dan pembangunan bendungan yang disebut sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air Siborpa akan dimulai pada tahun 2020.

Bendungan ini diberi nama seperti nama air terjun Siborpa yang akan hancur karena bendungan itu akan dibangun di Sungai Bila, dekat dengan air terjun tersebut. Hal ini terdengar sangat kejam, menamai pembunuh dengan nama korbannya.

Air Terjun Bila yang ada di samping Sungai Bila. (Foto: Haray Sampurna Munthe)

Sepengetahuan kami, tidak ada satu pun ilmuwan atau turis Barat yang pernah melihat air terjun ini, yang aksesnya mengharuskan mereka melalui tebing sempit dan bergerigi menuju ke Sungai Bila, yang mengalir ke tenggara ke kota Rantau Prabat di provinsi Sumatra Utara dan kemudian meluncur melalui perkebunan kelapa sawit sebelum bermuara Selat Malaka.

Daerah Hadabuan Hill bukanlah taman nasional atau tempat perlindungan satwa liar; sekitar setengahnya dianggap sebagai hutan desa. Pada dasarnya daerah ini adalah pegunungan curam yang terlalu sulit untuk ditanami dengan cepat dan mudah, maka dari itu tidak ada konversi besar-besaran menjadi perkebunan kelapa sawit karena topografi yang menantang.

Yayasan PRCF, Habitat ID (dipimpin oleh Gregory McCann), dan organisasi akar rumput lokal, Harimau Sumatera Rangers (dipimpin oleh Haray Sampurna Munthe), telah memasang kamera pengintai di daerah itu, serta melakukan patroli hutan sesekali, dalam tiga tahun terakhir ini. Sejauh ini, kami telah mengkonfirmasi keberadaan harimau, macan dahan, kucing marmer, kucing emas, tapir Malaya, beruang madu, monyet daun, burung laughingthrush Sumatera yang dapat terbang dengan cepat, dan sejumlah besar satwa liar lainnya.

Tempat ini benar-benar merupakan harta nasional.

Seekor harimau Sumatra memeriksa kamera pengintai. (Foto: Gregory McCann)

Seekor burung endemik laughingthrush Sumatra yang terancam punah hinggap di dahan di atas tanah hutan. (Foto: Gregory McCann)

Daerah ini mungkin merupakan tanah sisa yang terlupakan yang berisi spesies-spesies langka, tetapi bukan berarti Bukit Hadabuan tidak terdeteksi oleh radar pengembang lokal dan internasional.

Pembangunan Bendungan Siborpa yang berkekuatan 114 megawatt tidak hanya akan memisahkan daerah ini dari Sungai Bila dan menhancurkan air terjun Siborpa yang indah, tetapi serangkaian jalan akses kemungkinan akan dibangun melalui hutan yang masih alami ini, dan memaksa harimau, tapir, dan rangkong kabur seperti bagaimana bendungan Batang Toru mengusir orangutan Tapanuli.

Bahkan, seorang penduduk desa memberi tahu kami bahwa ada harimau yang baru-baru ini berjalan ke perkemahan tenda para insinyur survei Korea, yang langsung berlari ketakutan. Ini adalah kisah yang menarik, tetapi tidak mungkin terulang ketika peralatan konstruksi berat mulai bekerja dan barak pekerja terbangun dengan kokoh.

Tiga puluh atau 40 tahun yang lalu, Batang Toru dan Bukit Hadabuan, yang berjarak sekitar 70 kilometer, dihubungkan oleh hutan dataran rendah, yang merupakan salah satu alasan mengapa kami berpikir mungkin ada bukti atas laporan penduduk desa bahwa orangutan pernah terlihat di Hadabuan Hill dalam beberapa tahun terakhir.

Selama ekspedisi tahun 2017 kami, kami membawa ahli primata Julia Mörchen, kandidat PhD dari Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi di Leipzig, Jerman, untuk menilai kemungkinan kehadiran orangutan. Dia menemukan bahwa berlimpah dan beragamnya buah yang ditemukan di semua ketinggian (lebih dari 93 buah dan bunga didokumentasikan, dari kisaran 300 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut), serta tingginya keberadaan dari setidaknya lima spesies primata yang berbeda, membuat daerah ini unik dan memenuhi kriteria menjadi habitat yang baik untuk orangutan.

Baca Juga: Kampanye Pilpres 2019: Harga Pangan Jadi Sorotan

Meskipun kami mengumpulkan beberapa laporan independen dari penduduk desa setempat yang melihat orangutan dan sarang mereka atau mendengar “teriakan panjang” orangutan laki-laki di berbagai lokasi di sekitar Hadabuan Hill, singkatnya periode waktu dari ekspedisi ini tidak memungkinkan kami untuk mengumpulkan bukti langsung dari kehadiran kera besar. Oleh karena itu, jelas bahwa kita memerlukan ekspedisi kedua khusus orangutan dengan pendekatan strategis yang berbeda dan menghabiskan lebih banyak waktu di daerah tersebut dengan jumlah orang yang jauh lebih sedikit, yang akan memungkinkan kita untuk mensurvei area tersebut secara khusus dan lebih detail.

Kemungkinan besar orangutan ada di Hadabuan Hill beberapa dekade lalu—pertanyaannya adalah apakah jumlah populasinya masih sama atau malah beberapa individu saja yang masih tersisa. Menurut Mörchen, individu-individu ini kemungkinan besar termasuk spesies yang baru dikenal dari orangutan Tapanuli, Pongo tapanuliensis. Namun, mengingat ketinggiannya, populasinya mungkin akan sangat rendah. Tapi, orangutan atau bukan, daerah Hadabuan Hill adalah permata biologis yang layak mendapat perlindungan penuh dari bendungan, perkebunan kelapa sawit, dan pemburu yang sekarang mengancamnya.

Ini adalah tempat di mana harimau bermata magis menarik monyet dan siamang jatuh dari pohon melalui kemampuan hipnotisnya, dan yang begitu terkenal adalah “sihir” ini menyebabkan komunitas primata seperti siamang dan monyet tidur di dahan yang menjorok ke sungai sehingga jika mereka jatuh di malam hari, mereka setidaknya akan memiliki kesempatan bertarung untuk bertahan hidup di sungai yang mengalir deras.

Harimau dan pahatan di batu

Laporan-laporan anekdotal juga menceritakan bagaimana di malam hari harimau mencuri ikan yang baru saja dibersihkan di tempat perkemahan di mana para nelayan hanya berjarak satu lengan jauhnya, kucing-kucing besar itu biasanya bersembunyi dengan cara berendam di sungai atau berjongkok rendah di dalam kesuraman dedaunan di dekatnya. Beberapa harimau, menurut cerita itu, tidak mau merangkak terlalu dekat ke perkemahan, mereka akan mencakar-cakar tanah beberapa kali secara terus menerus dengan cakar perkasa mereka, meminta ikan sungai yang lezat dari para penyusup manusia, sampai para penyusup itu melemparkan beberapa ikan ke sang raja hutan tersebut.

Dan tidak hanya margasatwa, sungai, dan hutan yang menarik dalam ekosistem yang kurang dikenal ini. Pahatan batu, yang mungkin berasal dari zaman purba, sebelum Islam datang ke daerah itu, telah ditemukan bersama dengan ukiran di tebing batu kapur di samping Sungai Bila. Ukiran di batu itu sangat tidak mungkin untuk diketahui berasal dari tahun berapa, sehingga gambar dari ukiran harus dibandingkan secara stylistik dengan ukiran serupa lainnya dari wilayah tersebut.

Ukiran batu yang berbentuk serangga dan burung enggang ini agak tidak biasa, dan mungkin lebih baik dipikirkan oleh arkeolog profesional. Ada kemungkinan bahwa lebih banyak ukiran akan ditemukan, sementara beberapa ribu meter di atas sungai itu, di desa Lobu Tayas, ukiran batu besar yang menggambarkan raja atau dewa kuno telah ditemukan dan dipelihara oleh penduduk desa. Melihat ini semua, Hadabuan Hill bisa dibilang merupakan kekayaan alam sekaligus budaya bagi Indonesia.

Peninggalan batu dengan ukiran yang menggambarkan seekor serangga dan mungkin burung enggang di Sungai Bila. (Foto: Haray Sam Munthe)

Pahatan batu kuno di Desa Lobu Tayas yang menggambarkan raja atau dewa kuno. (Foto: Haray Sampurna Munthe)

Kami menyebutnya “tanah sisa,” tetapi Hadabuan Hill harus menjadi salah satu tempat tercantik di Sumatra. Melihat daerah ini akan dirusak oleh pembangunan bendungan hidroelektrik yang penggunaan dan nilainya masih dipertanyakan memunculkan kekhawatiran. Kita telah melihat apa yang telah dilakukan bendungan di daerah tropis: ini seperti paceklik yang telah merusak keanekaragaman hayati, menyebabkan ekosistem mati, rusak, dan tenggelam. Ini tidak dapat dibiarkan terjadi pada hotspot keanekaragaman hayati lain di Indonesia.

Apakah ada harapan? Ada rencana apa? Kami ingin memasang beberapa kamera pengintai di dalam dan di sekitar lokasi konstruksi bendungan untuk menunjukkan kepada pemerintah bahwa spesies yang dilindungi negara seperti harimau dan tapir berada di daerah ini, agar mereka mempertimbangkan kembali proyek ini. Kami telah memulai kampanye crowdfunding untuk membantu membayarnya.

Bisnis besar hampir selalu menang dalam situasi seperti ini; mungkin para harimau bisa membantu kita dengan melakukan sihir mereka dan menghentikan pembangunan Bendungan Siborpa.

 

Gregory McCann adalah Koordinator Proyek untuk LSM Habitat ID dan penulis “Called Away by a Mountain Spirit: Journeys to the Green Corridor”

Haray Sampurna Munthe adalah pendiri dari Sumatran Tiger Rangers.

Keterangan foto utama: Sungai Bila di Sumatra terancam oleh proposal bendungan besar. (Foto: Gregory McCann)

Proyek Bendungan Akan Hancurkan Surga Satwa Sumatra

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top