Puskesmas Keliling Hibiscus, Bantu Berantas Ketidaksetaraan Kesehatan di Indonesia
Berita Tentang Indonesia

Puskesmas Keliling Hibiscus, Bantu Berantas Ketidaksetaraan Kesehatan di Indonesia

Healthcare Innovation Of Mobile Service For Community Of Senen. (Foto: Facebook/Puskesmas Kecamatan Senen)
Home » Berita Tentang Indonesia » Puskesmas Keliling Hibiscus, Bantu Berantas Ketidaksetaraan Kesehatan di Indonesia

Indonesia mengambil langkah yang signifikan untuk meningkatkan akses menuju layanan kesehatan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk memperkenalkan skema cakupan kesehatan nasional. Namun masih banyak lapisan masyarakat yang belum menikmati layanan kesehatan memadai. Ada banyak faktor yang dapat berdampak pada status kesehatan dan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan. Berikut ulasan WHO mengenai ketidaksetaraan kesehatan di Indonesia dan bagaimana pemerintah Indonesia memperbaikinya.

   Baca juga: Indonesia Tempatkan Paramedis Militer untuk Atasi Krisis Kesehatan di Papua

Oleh: WHO

Hampir setiap hari, sebuah mobil van berwarna putih bergambar bunga kembang sepatu berwarna cerah, berangkat dari puskesmas di Senen, sebuah wilayah di Jakarta, Indonesia. Mobil van tersebut tampak biasa dari luar, namun dari dalam, mobil tersebut sebenarnya adalah klinik yang dilengkapi dengan persediaan penting, dan dengan para petugas kesehatan yang siap untuk memberikan layanan kesehatan untuk penduduk setempat.

Indonesia telah mengambil langkah-langkah yang signifikan untuk meningkatkan akses menuju layanan kesehatan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk memperkenalkan skema cakupan kesehatan nasional.

Namun begitu, sebuah laporan WHO, yang dipublikasikan bersama Kementerian Kesehatan Indonesia, menunjukkan bahwa ketidaksetaraan masih tetap ada, dan masih banyak masyarakat—seperti di lingkungan perkotaan Senen—yang tetap berada pada posisi yang kurang beruntung. Usia, jenis kelamin, status ekonomi, tingkat pendidikan, pekerjaan, atau tempat tinggal seseorang, dapat berdampak pada status kesehatan dan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Ketika pemerintah menemukan bahwa hanya 30 persen dari penduduk lokal di Senen menggunakan puskesmas, pemerintah meluncurkan sebuah rencana layanan kesehatan keliling yang disebut Healthcare Innovation Of Mobile Service For Community (Hibiscus), dalam upayanya untuk meningkatkan akses layanan kesehatan. Diluncurkan pada bulan Juli tahun ini, Hibiscus bertujuan untuk mengantarkan layanan berkualitas, misalnya seperti pelayanan pemeriksaan kehamilan, tes HIV, mammogram, imunisasi, pemeriksaan tekanan darah, dan penyuluhan kesehatan, secara langsung kepada lebih dari 120 ribu penduduk setempat.

Widyaningsih (Wida), seorang bidan dan Koordinator Lapangan untuk Hibiscus.

Widyaningsih (Wida), seorang bidan dan Koordinator Lapangan untuk Hibiscus. (Foto: WHO)

“Masalah kesehatan yang kami lihat di puskesmas menunjukkan bahwa anggota masyarakat tidak memprioritaskan tindakan pencegahan kesehatan,” ujar Widyaningsih (Wida), seorang bidan dan Koordinator Lapangan di Hibiscus. “Kita harus proaktif dalam menjangkau dan memberikan penyuluhan kepada mereka. Mereka mungkin tidak bisa datang ke puskesmas, sehingga kita yang datang kepada mereka.”

Memberantas Ketidaksetaraan Kesehatan di Seluruh Indonesia

Bertujuan untuk mengurangi ketidaksetaraan kesehatan dan mengidentifikasi wilayah prioritas dalam upaya bergerak menuju cakupan kesehatan universal, pemerintah pertama-tama harus memahami besarnya dan cakupan ketidaksetaraan di negara mereka. Dari bulan April 2016 hingga Oktober 2017, Kementerian Kesehatan, WHO, dan jaringan pemangku kepentingan, melakukan penilaian terhadap ketidaksetaraan kesehatan di seluruh penjuru negeri di 11 wilayah, seperti kesehatan ibu dan anak, cakupan imunisasi, dan ketersediaan fasilitas kesehatan.

“Walau beberapa masyarakat Indonesia memiliki akses yang mudah untuk mendapatkan layanan kesehatan dan melakukan langkah pencegahan, masyarakat yang lain tidak seberuntung itu,” ujar Siswanto, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan. “Mengawasi ketidaksetaraan adalah bagian penting dalam meningkatkan kesehatan bagi mereka yang kurang beruntung, dan memastikan bahwa negara ini memenuhi komitmennya untuk ‘tidak meninggalkan siapapun.’”

Hasil utama dari penilaian tersebut adalah sebuah laporan baru yang disebut ‘Ketidaksetaraan Kesehatan: Indonesia’, yang merupakan laporan WHO pertama yang menyediakan penilaian komprehensif mengenai ketidaksetaraan kesehatan di negara-negara anggota. Laporan tersebut merangkum data dari lebih dari 50 indikator kesehatan, dan memisahkannya berdasarkan dimensi ketidaksetaraan, seperti status ekonomi rumah tangga, tingkat pendidikan, tempat tinggal, usia, atau jenis kelamin.

   Baca juga: WHO Ungkap Ketimpangan Kesehatan, dengan Indonesia sebagai Contoh

Laporan tersebut menemukan bahwa tingkat kesehatan dan akses menuju layanan kesehatan berbeda-beda di seluruh Indonesia, dan menemukan sejumlah wilayah dimana diperlukan untuk melakukan langkah-langkah. Hal ini mencakup peningkatan pemberian asi eksklusif dan nutrisi pada anak; peningkatan kesetaraan dalam pelayanan pemeriksaan kehamilan dan kelahiran yang didampingi oleh tenaga kesehatan ahli; mengurangi tingkat pria dewasa yang merokok; menyediakan perawatan kesehatan mental dan layanan di berbagai tingkat penghasilan; dan mengurangi ketidaksetaraan dalam akses ketersediaan air dan sanitasi. Selain itu, ketersediaan tenaga kesehatan, terutama dokter gigi dan bidan, masih tidak mencukupi di banyak puskesmas di negara tersebut.

Saat ini Indonesia menggunakan penemuan ini untuk mengembangkan program dan rekomendasi kebijakan yang spesifik, seperti rencana layanan kesehatan keliling di Senen, untuk memberantas ketidaksetaraan yang telah ditemukan.

Indonesia: Sebuah Studi Kasus untuk Negara Lain

Memahami ketidaksetaraan kesehatan di negara-negara adalah langkah penting dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Di antara 17 tujuan lainnya, SDG 3 fokus dalam memastikan kehidupan yang sehat bagi seluruh masyarakat di seluruh usia, sementara SDG 10 menyerukan untuk mengurangi ketidaksetaraan di dalam negeri maupun antara negara-negara.

“Proses pembangunan kapasitas untuk pengawasan ketidaksetaraan kesehatan di Indonesia dan pengembangan laporan ini, dapat digunakan sebagai contoh untuk negara-negara lain, mengenai bagaimana mempersatukan pengawasan ketidaksetaraan kesehatan dengan sistem informasi kesehatan nasional mereka,” ujar Ahmad Reza Hosseinpoor, yang memimpin usaha WHO dalam mengawasi ketidaksetaraan kesehatan.

WHO telah mengembangkan seperangkat sumber daya dan alat untuk mendukung negara-negara anggotanya, untuk melakukan pengawasan ketidaksetaraan kesehatan. Hal ini mencakup Peralatan Penilaian Kesetaraan Kesehatan, sebuah aplikasi perangkat lunak yang membuat negara-negara dapat menilai ketidaksetaraan menggunakan basis data yang dikumpulkan oleh Pengawas Kesetaraan Kesehatan WHO, atau menggunakan data mereka sendiri; langkah demi langkah manual mengenai bagaimana negara dapat menanamkan pengawasan ketidaksetaraan kesehatan dalam sistem informasi kesehatan mereka; dan kode statistik yang dibutuhkan untuk menganalisis survei data rumah tangga untuk mengungkap dimana terdapat ketidaksetaraan.

Keterangan foto utama: Healthcare Innovation Of Mobile Service For Community Of Senen. (Foto: Facebook/Puskesmas Kecamatan Senen)

Puskesmas Keliling Hibiscus, Bantu Berantas Ketidaksetaraan Kesehatan di Indonesia
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top