Terdapat Sebuah Pesan untuk Trump dalam Pujian Putin untuk Kim Jong-Un
Amerika

Putin Akan Perdayai Trump di KTT Helsinki. Begini Cara Dia Melakukannya

Donald Trump berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa saat sebelum mengumumkan sanksi baru terhadap Korea Utara. (Foto: EPA)
Putin Akan Perdayai Trump di KTT Helsinki. Begini Cara Dia Melakukannya

Pertemuan Trump dan Putin akan berlangsung di Helsinki, namun tampaknya presiden Rusia itu akan lebih siap menuju ke pertemuan ini. Trump dan para penasihatnya harus mengantisipasi tiga pendekatan yang akan dilakukan oleh Putin, yang membuat banyak orang khawatir.

Baca juga: Analisis: Si Elang dan Si Beruang Memperebutkan Suriah

Oleh: David J. Kramer (The Washington Post)

Mungkin akan lebih sulit jika kita harus memprediksi apa yang akan dikatakan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) dan Presiden Rusia pada pertemuan 16 Juli di Helsinki. Tentu saja, Presiden Trump notabene lebih susah diprediksi ketimbang Vladimir Putin yang lebih muda ditebak keinginannya. Dan hal tersebut yang membuat banyak orang khawatir.

Dengan modal pelatihan KGB yang dimilikinya, Putin akan lebih siap menuju ke pertemuan ini. Trump dan para penasihatnya harus mengantisipasi tiga pendekatan yang akan dilakukan oleh Putin.

Pertama, mengamati apa yang dapat bekerja bagi para pemimpin lain, Putin jelas akan mencoba menyanjung dan mengelukan Trump. Putin tentu saja akan memuji Trump mengenai bagaimana ia dapat memenangkan pemilihan presiden yang hanya sedikit berpikir dia akan memenangkannya.

Putin akan menekankan pada kemampuan Trump untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa berubah menjadi budak Washington. Dia akan mengagungkan keterusterangan dan kesiapan Trump untuk melawan norma-norma umum, terutama dengan menentang para sekutunya yang mencoba “memanfaatkan” Amerika Serikat.

Putin akan memuji Trump karena bersedia bertemu dengannya ditengah-tengah penyelidikan Mueller mengenai kemungkinan keterlibatan Rusia dalam kampanye Trump. Pertemuan Trump dan Putin, menurut Putin, akan menunjukkan bahwa tidak ada permasalahan apapun yang tersembunyi diantara kedua pemimpin tersebut.

Putin tentu saja akan mengamini ketidaksukaan Trump kepada media dan saling membandingkan “berita palsu”—seperti berita mengenai penyelidikan Mueller dan dugaan interfensi Rusia pada kampanye 2016. Mereka akan sama-sama setuju bahwa pemberitaan tersebut tidak adil. Dan Putin akan memuji Trump atas kemampuannya untuk tetap berkomunikasi dengan konstituen yang telah membantunya terpilih.

Kedua, Putin akan menyalahkan pemimpin Amerika sebelumnya, Barrack Obama, atas segala permasalahan terhadap hubungan antara AS-Rusia. Tidak mengikut-ikuti pendahulunya dipandang sebagai bentuk kesiapan Trump untuk melakukan apa yang bertentangan dengan yang telah dilakukan oleh Obama. Seperti yang dikatakan sendiri oleh Trump, Obama membiarkan Putin merebut Krimea. Putin akan mengatakan bahwa Obama-lah yang menerapkan sanksi ke Rusia dan menuduh pemerintah Rusia mencampuri urusan pemilu untuk mendiskreditkan legitimasi Trump.

Putin juga akan berargumen bahwa Obama-lah yang seharusnya bertanggung jawab atas Suriah sehingga memaksa Rusia harus ikut mengambil langkah untuk mengamankan posisi pemimpin Suriah Bashar Al-Assad dalam menghadapi para ekstrimis Islam.

Putin akan menyampaikan bahwa mereka memiliki tujuan yang sama di Suriah. Jika Rusia ingin keluar dari negara tersebut maka Rusia akan bersedia mengambil alih. Putin juga akan mengatakan, lupakan urusan kerjasama Rusia-Iran di Suriah.

Putin akan mengklaim bahwa Obama dan Eropa-lah yang berada dibalik revolusi di Ukraina, mendorong beberapa kelompok untuk memaksakan pemberontakan untuk menurunkan presiden mereka sebelumnya, Viktor Yanukovych. Yang menyebabkan Putin harus mengambil langkah alternatif dengan interfensi untuk melindungi rakyat Rusia di Krimea. Pada akhirnya, Putin akan mengatakan, orang-orang Krimea menggunakan bahasa Rusia maka mereka seharusnya merupakan milik Rusia—sebuah poin yang juga dikemukakan sendiri oleh Trump pada pertemuan Kelompok Tujuh (G-7) bulan lalu.

Untuk mencari dukungan Trump dalam lingkungan pengaruh Rusia, Putin akan berargumen bahwa Rusia memiliki kepentingan yang lebih besar di wilayah daripada yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Bayangkan berapa banyak permasalahan yang dapat dihindari bila Obama tidak ikut campur dalam urusan Ukraina.

Jangan lupa, Putin akan menambahkan, bahwa laporan mengenai penyogokan terhadap mantan manajer kampanye Trump Paul Manafort datang dari lingkaran Yanukovych—yang merupakan bagian dari perburuan terhadap kampanye Trump—berawal di Ukraina.

Ketiga, Putin akan mendukung keinginan Trump untuk memecahkan tatanan internasional yang telah ada sejak tujuh dekade, termasuk dalam institusi seperti NATO, Uni Eropa, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan G-7. Putin akan mengklaim bahwa dia dan Trump sudah jengah dengan institusi-institusi tersebut, yang selalu berusaha memblokir Rusia dan mengeksploitasi kebaikan hati AS.

Mari kita mulai dari awal, kata Putin yang akan mendesak Trump, untuk membangun kerjasama terhebat antara Rusia dan Amerika seperti yang belum pernah ada sebelumnya.

Putin akan mengklaim bahwa hanya Trump yang berani mengindahkan institusi-institusi yang tidak lagi relevan tersebut dan membangun pondasi baru dalam hubungan mereka. Pondasi seperti itu harus didasarkan pada dua kekuatan besar, Rusia dan Amerika Serikat, dipimpin oleh dua pemimpin hebat.

Pertemuan Trump dan Putin di Helsinki akan membuka jalan bagi kedua pemimpin tersebut untuk membuat sejarah. Pemimpin Rusia tersebut akan berargumen bahwa negara-negara kecil hanya akan menganggu jalan mereka menuju masa depan yang lebih cerah. Tentu saja, dalam pertemuan Trump dan Putin dapat membuat hubungan Rusia-Amerika hebat kembali.

Baca juga: Pertemuan Amerika-Rusia: Trump Ingin Nyatakan Putin Adalah ‘Sahabat Dekatnya’

Dan jika hal tersebut tidak berjalan lancar, Putih memiliki beberapa penawaran yang dapat diberikan kepada Trump.

Hal paling mengerikan dari kesemua itu adalah bahwa hal ini mungkin saja terwujud. Kemantapan Trump untuk bertemu Putin, teleponnya pada bulan Maret untuk memberikan selamat kepada Putin atas “terpilihnya kembali” dan keinginannya untuk mempercayai sanggahan Putin mengenai ketidakterlibatannya dalam pemilu AS 2016 tidak akan berujung baik.

Kita hanya dapat berharap bahwa ketidakpastian yang menjadi ciri Trump akan menunjukkan bahwa semua kemungkinan ini tidak akan terjadi.

Keterangan foto utama: Donald Trump berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa saat sebelum mengumumkan sanksi baru terhadap Korea Utara. (Foto: EPA)

Putin Akan Perdayai Trump di KTT Helsinki. Begini Cara Dia Melakukannya

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top