Perjanjian INF
Global

Putin Balas Ancam Amerika Jika Keluar dari Perjanjian INF

Berita Internasional >> Putin Balas Ancam Amerika Jika Keluar dari Perjanjian INF

Rusia balas mengancam Amerika Serikat atas ultimatum yang mereka keluarkan terkait Perjanjian INF. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, jika Amerika keluar dari perjanjian nuklir itu, Rusia akan mulai mengembangkan rudal nuklir jarak menengah. Dan, setiap negara Eropa di mana Amerika Serikat menempatkan rudal jarak menengah—seperti Polandia atau Romania—akan menjadi target pertama jika terjadi konflik.

Baca Juga: Penarikan Diri Amerika dari Perjanjian INF Bukan Soal Rusia

Oleh: Neil MacFarquhar (The New York Times)

Presiden Vladimir V. Putin memperingatkan pada Rabu (5/12) bahwa Rusia akan merespons dengan cara yang sama jika Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk mengembangkan rudal nuklir jarak menengah baru.

Kepala staf militer Rusia, Jenderal Valery V. Gerasimov, menyuarakan pernyataan tersebut, dan mengatakan bahwa setiap negara Eropa di mana Amerika Serikat menempatkan rudal jarak menengah—seperti Polandia atau Romania—akan menjadi target pertama jika terjadi konflik.

Amerika Serikat telah lama menuduh Rusia yang mengembangkan rudal-rudal tersebut sebagai pelanggaran Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF), yang membatasi rudal jarak menengah berbasis darat. Pada Selasa (4/12), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa Amerika Serikat akan dalam waktu 60 hari memulai proses resmi untuk meninggalkan perjanjian itu, kecuali Rusia membangun kembali kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan perjanjian.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Putin melakukan taktik yang tidak asing, dengan mengeluh bahwa Barat secara tidak adil memilih Rusia untuk apa yang disebutnya “keputusan nekat.”

“Pertama, pihak Amerika mengatakan bahwa mereka bermaksud mundur dari Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah, dan baru kemudian mulai mencari alasan mengapa mereka harus melakukannya,” kata Putin.

“Kami tidak setuju dengan penghancuran kesepakatan ini,” katanya. “Tetapi jika ini terjadi, kami akan bertindak sesuai.”

Dalam pakta tahun 1987 tersebut—yang secara luas dikenal sebagai Perjanjian INF—Rusia dan Amerika Serikat sepakat untuk menghapuskan semua rudal nuklir dan konvensional yang berbasis di darat, serta peluncur mereka, dengan rentang 500 hingga 5.500 kilometer (310 hingga 3.420 mil). Perjanjian itu tidak melarang rudal jarak menengah yang diluncurkan dari pesawat pengebom atau dari laut.

Dalam beberapa tahun terakhir, kedua belah pihak memiliki alasan untuk memikirkan kembali komitmen mereka. Rusia menjadi tidak nyaman karena banyak negara di sepanjang perbatasan selatannya yang luas—termasuk China, India, Pakistan, dan Iran—mulai mengembangkan senjata semacam itu. Tak satu pun dari negara itu yang menandatangani perjanjian tersebut.

Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya mengatakan bahwa Washington telah mematuhi perjanjian itu, sementara Rusia melanggar dengan mengembangkan dan menyebarkan sistem rudal jelajah.

Namun Pentagon telah semakin khawatir tentang perlunya rudal jarak menengah untuk melawan ancaman yang berkembang dari China atas penumpukan militernya di Laut China Selatan.

Mengabaikan fakta bahwa keluhan Amerika Serikat atas sistem rudal jelajah ini sudah dimulai sejak pemerintahan Obama, Putin menuduh Washington memutuskan untuk meninggalkan perjanjian itu dan membenarkan tindakannya dengan menyalahkan Rusia.

“Keputusan itu sudah dibuat sejak lama, hanya diam-diam,” kata Putin, dan menekankan bahwa Kongres telah menyisihkan dana penelitian dan pengembangan untuk rudal dalam anggaran Pentagon.

Jenderal Gerasimov—yang berbicara kepada para atase militer asing yang ditempatkan di Moskow—mengatakan bahwa Amerika Serikat telah melanggar perjanjian itu dengan mengerahkan komponen pertahanan rudal Romania dan Polandia, yang dapat menembakkan rudal jarak menengah. Washington telah menggambarkan komponen-komponen itu sebagai senjata pertahanan terhadap ancaman dari Iran.

“Ini 100 persen salah,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert. “Kami sepenuhnya mematuhi Perjanjian INF dan sekutu NATO kami setuju dengan itu.”

Pernyataan Jenderal Gerasimov kemungkinan akan lebih mencemaskan para pemimpin Eropa, yang sudah khawatir setelah Presiden Trump mengumumkan pada bulan Oktober—dengan konsultasi yang sangat sedikit sebelumnya—bahwa ia berencana untuk membatalkan perjanjian itu.

Baca Juga: Donald Trump: Amerika Akhiri Perjanjian Senjata Nuklir dengan Rusia

Eropa telah lama mengkhawatirkan bahwa persaingan nuklir antara Washington dan Moskow akan terjadi di wilayahnya. Ultimatum 60 hari ini dianggap sebagai upaya oleh pemerintahan Trump untuk meredakan ketakutan Eropa bahwa benuanya akan menanggung akibat dari keputusan tersebut.

Masa depan perjanjian itu merupakan kunci dalam agenda untuk pembicaraan antara Putin dan Trump pada KTT G-20 di Buenos Aires akhir pekan lalu, di mana para ahli berpendapat bahwa hanya diskusi yang terperinci yang dapat menyelamatkan pakta tersebut.

Namun, Trump membatalkan pertemuan itu pada menit terakhir, dengan alasan bahwa Rusia menyita tiga kapal angkatan laut Ukraina dan 24 pelaut di lepas pantai Krimea. Namun para kritikus dengan cepat menekankan bahwa pengumuman itu juga bertepatan dengan pengungkapan baru tentang kesepakatan bisnis yang ia lakukan di Rusia.

Perlombaan senjata yang mahal pada tahun 1980-an—selama periode pemasukan minyak—membantu mempercepat runtuhnya Uni Soviet. Rusia tetap sangat bergantung pada pendapatan dari ekspor minyak, dan sekali lagi menghadapi apa yang bisa menjadi periode panjang harga minyak yang lebih lemah.

Banyak profesional diplomatik dan militer telah meminta baik Amerika Serikat maupun Rusia untuk mengabadikan perjanjian itu. Seruan baru-baru ini datang dari Mikhail Gorbachev, mantan Presiden Uni Soviet, dan George P. Shultz, mantan Menteri Luar Negeri Amerika, yang keduanya membantu merundingkan perjanjian itu.

Dalam sebuah opini bersama yang diterbitkan oleh The Washington Post, mereka mencatat bahwa berbagai pakta senjata telah mencapai tujuan yang sangat mengurangi persenjataan nuklir di kedua sisi. Daripada meninggalkan Perjanjian INF, mereka menulis, kedua pihak harus berusaha memperbaikinya.

“Ada bahaya di mana keuntungan yang dicapai dalam proses mengakhiri Perang Dingin ini, dapat dihapuskan,” tulis mereka. “Meninggalkan Perjanjian INF akan menjadi langkah menuju perlombaan senjata baru, merusak stabilitas strategis, dan meningkatkan ancaman salah perhitungan atau kegagalan teknis yang mengarah pada perang yang sangat merusak.”

Gardiner Harris berkontribusi laporan dari Washington.

Keterangan foto utama: Sehari setelah Washington memberi Rusia ultimatum 60 hari untuk mematuhi sebuah pakta senjata, Presiden Vladimir V. Putin mengatakan bahwa Rusia akan “bereaksi sesuai” terhadap rudal baru Amerika. (Foto: Reuters/Marcos Brindicci)

Putin Balas Ancam Amerika Jika Keluar dari Perjanjian INF

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top