Putin dan Kremlin Belum Siap untuk Hadapi Serangan Amerika-Uni Eropa
Eropa

Putin dan Kremlin Tak Siap Hadapi Serangan Amerika-Uni Eropa

Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin di Moskow pada 17 Maret 2015. (Foto: AFP/Getty Images/Sergei Ilnitsky)
Berita Internasional >> Putin dan Kremlin Tak Siap Hadapi Serangan Amerika-Uni Eropa

Amerika Serikat dan para sekutunya telah memutuskan untuk membiarkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk merasakan perilaku pahitnya sendiri. Tampaknya Kremlin tidak siap hadapi serangan Amerika-Uni Eropa, menurut jurnalis Rusia, Konstantin Eggert.

    Baca juga: Analisis: 5 Cara Militer Amerika Hancurkan Rusia dalam Perang

Oleh: Konstantin Eggert (Deutsche Welle)

Rapat Dewan Keamanan pada Senin (9/4) jauh dari kata membosankan, ketika Duta Besar Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya, berhadapan dengan rekan-rekannya dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris, Nikki Haley dan Karen Pierce, masing-masing, dan perwakilan dari Swedia, Belanda, dan Polandia.

Terjadi pertukaran peran yang mengejutkan dalam pembahasan serangan senjata kimia pada Sabtu (7/4), yang dilancarkan oleh pasukan pemerintah Suriah di kota Douma: Amerika Serikat dan sekutu Uni Eropa-nya melancarkan serangan ke Nebenzya dengan meninggalkan retorika yang selalu menjadi ciri khas para diplomat Rusia.

Drama di Dewan Keamanan PBB berlangsung beberapa jam setelah runtuhnya bursa saham Moskow. Saham perusahaan milik negara Rusia dan lembaga keuangan seperti Sberbank, serta aset yang dimiliki oleh miliarder Kremlin yang ramah, Oleg Deripaska, menukik tajam. Menurut berbagai perkiraan, kapitalisasi perusahaan milik oligarki Rusia turun $12-16 miliar (€9,7-13 miliar) dalam beberapa jam. Rubel (mata uang Rusia) juga mengalami penurunan, kehilangan sekitar 10 persen nilainya.

Ini adalah hasil dari keputusan Departemen Keuangan AS pada Jumat (6/4) untuk menerbitkan daftar baru individu dan perusahaan Rusia untuk dihukum di bawah Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi. Sanksi baru itu menyerang lingkaran internal Presiden Rusia Vladimir Putin jauh lebih keras daripada putaran sebelumnya.

Terlepas dari Deripaska dan pemimpin Gazprom, Alexei Miller, orang-orang yang ditargetkan termasuk mantan ajudan Putin Alexei Dyumin (yang dianggap di Moskow menjadi bintang politik dan calon menteri pertahanan), serta miliarder lain, Kirill Shamalov, yang dikabarkan menjadi (mantan) menantu Putin.

Miller memasang wajah pemberani di depan umum. Sanksi ditetapkan, berarti “kami telah melakukan segalanya dengan benar,” katanya. Ini adalah kebijakan standar yang diharapkan dari para loyalis Kremlin di saat-saat seperti ini.

Di balik keberanian itu, bagaimanapun, ada kebingungan—maka sikap diam mencolok Putin pada hari ketika saham Rusia jatuh, bersama dengan mata uang nasional, dan nasib mitra utama Timur Tengah Moskow, Suriah, berada dalam situasi yang berbahaya.

Juru bicaranya, Dmitry Peskov, hanya mengatakan dua hal: bahwa pemerintah Rusia akan menemukan cara untuk mendukung para oligarki yang terserang, dan bahwa Presiden AS Donald Trump salah untuk menyebut diktator Suriah sebagai “binatang buas.” Mempertimbangkan keadaan saat ini, hal itu tidak cukup.

Terkejut

Kremlin tidak memiliki banyak ‘senjata’ yang dapat digunakan untuk melawan serangan diplomatik dan ekonomi besar-besaran yang dilakukan oleh Washington dan sekutunya. Lebih dari dua bulan yang lalu, para menteri Rusia, deputi boneka Duma, dan para propagandis menertawakan “daftar Kremlin” yang diluncurkan pada akhir Januari oleh Departemen Keuangan AS.

Orang-orang Amerika yang bodoh ini hanya ‘menyalin dan menempel’ direktori telepon Moskow, kata mereka. Ternyata mereka tertawa terlalu cepat.

Daftar itu ternyata serupa dengan daftar eksekusi yang ditangguhkan. Mereka yang ‘sial’ dipilih, dengan acak, menurut aturan yang hanya diketahui oleh Gedung Putih. Di Washington, saat-saat ini hanya sedikit yang akan membela Rusia. Terlebih lagi, perasaan Trump yang sebenarnya bagi Putin—sebersahabat apa pun—sama sekali tidak relevan dalam suasana seperti ini.

Amerika, Inggris, dan para sekutunya telah mulai mengerahkan senjata yang sama yang telah digunakan Kremlin yang telah begitu berhasil melawan mereka selama bertahun-tahun: membantah segalanya, bersikap kasar di depan umum, dan menyerang dengan keras di tempat yang menyakitkan.

Dalam kasus kelas penguasa Rusia, yang diserang adalah aset dan kebebasan untuk bepergian. Bersamaan dengan mata uang rubel, kepercayaan terakhir antara Moskow dan kota-kota besar Barat akhirnya runtuh. Ketika Emmanuel Macron pergi ke forum ekonomi internasional tahunan di St. Petersburg, dia akan datang bukan untuk mendukung pemimpin Rusia, tetapi untuk menanyakan apakah Rusia bersedia mengubah perilaku internasionalnya.

    Baca juga: Rusia: Ada Kemungkinan Bentrokan Militer dengan Amerika di Suriah

Saya yakin bahwa presiden Prancis itu akan mendapatkan jawaban “nyet” (‘tidak’ dalam bahasa Rusia) yang kuat. Putin tidak akan mundur. Salah satu guru ideologis dari Kremlin, asisten Putin, Vladislav Surkov, telah menerbitkan sebuah artikel majalah berjudul The Loneliness of the Half-Breed, atau “Rasa Kesepian dari Si Darah Campuran.”

Tesisnya sederhana: “Kesendirian geopolitik adalah keadaan normal bagi Rusia.” Negara tersebut tidak membutuhkan sekutu. Setelah merebut Krimea dari Ukraina pada tahun 2014, Moskow mengakhiri lebih dari 300 tahun upaya untuk membaratkan diri. Dan ini, menurut pendapat penulis, adalah hal yang normal, bahkan bagus. Rusia akhirnya menjadi dirinya sendiri: bukan Barat dan bukan Timur—namun “berdarah campuran.”

Tapi keberanian kosong itu mirip dengan retorika yang digunakan oleh Miller, CEO Gazprom. Baik struktur ekonomi Rusia maupun suasana hati elit penguasanya, tidak pernah terjerat erat dengan Barat seperti sekarang ini. Dan tidak pernah sejak akhir Perang Dunia II, dukungan internasional terhadap kepemimpinan Rusia serendah ini.

Mengutip lelucon terkenal dari mendiang pemimpin oposisi Boris Nemtsov, Anda hanya dapat memainkan peran Josef Stalin jika Anda meninggalkan gaya hidup Roman Abramovich. Orang-orang yang memerintah dan memiliki Rusia belum siap untuk ini. Vladimir Putin, mungkin, akan menyelesaikan masa jabatan keempatnya di Kremlin. Namun kemenangan “pemilihan ulang” pada tanggal 18 Maret, sekarang sudah sangat dirusak oleh peristiwa dalam beberapa minggu terakhir.

Konstantin Eggert adalah seorang jurnalis dan kolumnis tamu asal Rusia untuk DW Rusia.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin di Moskow pada 17 Maret 2015. (Foto: AFP/Getty Images/Sergei Ilnitsky)

Putin dan Kremlin Tak Siap Hadapi Serangan Amerika-Uni Eropa

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top