Putin Masih Mendominasi di Suriah, dan Tim Trump Nampaknya Tahu Itu
Amerika

Putin Masih Mendominasi di Suriah, dan Tim Trump Nampaknya Tahu Itu

Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) berjabatan tangan dengan Presiden Suriah Bashar Assad di kediaman Bocharov Ruchei di resor Laut Hitam Sochi. Foto: Kremlin Pool via AP/Mikhail Klimentyev)
Home » Featured » Amerika » Putin Masih Mendominasi di Suriah, dan Tim Trump Nampaknya Tahu Itu

Terlepas dari kekuatan militer Amerika yang luar biasa, Presiden Rusia, Vladimir Putin masih mendominasi dan memegang kartu terbaik di Suriah, menurut para analis. Militer Rusia memiliki akar kuat di Suriah, di mana dukungannya selama bertahun-tahun telah membantu memperkuat kekuasaan diktator Bashar al-Assad.

    Baca juga: Terlepas dari Serangan Udara, Amerika Kalah dalam Permainan Jangka Panjang Suriah

Oleh: Greg Walters (Vice News)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan serangan udara AS pada fasilitas senjata kimia Suriah Jumat (13/4) malam.

Keputusan Trump, yang didukung oleh sekutu Prancis dan Inggris, terjadi setelah berhari-hari musyawarah tentang bagaimana menanggapi penggunaan senjata kimia rezim Suriah terhadap pemberontak di pinggiran ibu kota negara itu, Damaskus.

Laporan awal menggambarkan ledakan dan gumpalan asap membubung di luar Damaskus, menurut laporan Reuters.

Pengumuman Trump datang dengan sebuah pesan kepada dua pendukung asing utama Suriah, Rusia dan Iran, untuk berhati-hati terhadap negara yang mereka jaga. Kedua negara telah membantu menopang kediktatoran Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Sekarang, keputusan Trump untuk menggunakan kekuatan mendorongnya dan timnya melawan kenyataan pahit, analis mengatakan: Terlepas dari kekuatan militer Amerika yang luar biasa, Presiden Rusia, Vladimir Putin masih mendominasi dan memegang kartu terbaik di Suriah.

Putin masih mendominasi karena militer Rusia memiliki akar kuat di Suriah, di mana dukungannya selama bertahun-tahun telah membantu memperkuat kekuasaan diktator Bashar al-Assad. Di negara di mana kebijakan AS cenderung membingungkan dan kontradiktif, Rusia telah berfokus secara tunggal untuk menjaga Assad tetap berkuasa, kata analis, membuat setiap serangan AS tidak terlalu berisiko atau tidak cukup kuat.

Awal pekan ini, Trump mengejek Rusia di Twitter dengan pesan yang mengatakan rudal Amerika akan datang.

“(Ancaman itu) tak akan memulai perang yang sebenarnya, karena Putin memiliki keuntungan,” kata Ilan Goldenberg, pejabat Departemen Luar Negeri AS di bawah Presiden Barack Obama. “Trump pada dasarnya menantang orang-orang Rusia untuk menanggapi dengan tweet yang sangat tidak bertanggung jawab ini. Kami memiliki lebih banyak senjata, tetapi apakah kami benar-benar ingin terlibat dalam perang habis-habisan dengan mereka? Tidak.”

Ini adalah yang kedua kalinya dalam waktu kurang dari setahun di mana pemerintahan Trump telah meluncurkan rudal di Suriah yang dimana Putin masih mendominasi di kawasan itu, sebagai tanggapan terhadap penggunaan senjata kimia.

Terakhir kali Trump menanggapi konflik Suriah pada April 2017, meluncurkan 59 rudal Tomahawk di Shayrat Airbase milik Suriah untuk menghalangi Assad menggunakan senjata kimia lagi.

Namun yang jelas pesan itu tidak diterima: laporan serangan senjata kimia terus muncul ke permukaan. Untuk mendapatkan perhatian Assad dan rekan-rekannya, dia harus melakukan lebih banyak dan lebih konsisten, kata analis.

Tetapi dengan keterlibatan militer yang lebih besar, akan ada risiko yang lebih besar, terutama dalam konflik yang rumit dan kacau.

“Saya takut dengan seluruh situasi pada titik ini,” kata Goldenberg. “Sebagai seseorang yang mendukung kebijakan Suriah yang lebih intervensionis selama bertahun-tahun, saya harus mengatakan, bahwa kapal telah berlayar.”

Tidak jelas bagaimana pemerintahan Trump dapat menciptakan keseimbangan antara perang simbolis, serangan satu kali, dan perang habis-habisan dengan Rusia. Karenanya, para analis pada umumnya mengharapkan AS untuk berbuat lebih daripada sekedar serangan kecil dan terbatas.

Tetapi hal itu juga dilengkapi dengan serangkaian risikonya sendiri. Putin mungkin hanya dapat mengklaim kemenangan dalam duel rudal terbatas dengan hanya mencegat beberapa Tomahawks Amerika dan mencegahnya mencapai target di Suriah, kata analis kepada Vice News sebelum serangan diumumkan.

Duta besar Rusia untuk Lebanon mengatakan Rusia akan menanggapi setiap serangan AS di Suriah dengan menembak jatuh rudal AS.

    Baca juga: 7 Hal Penting Terkait Serangan Udara Suriah oleh Aliansi Amerika

“Barat lebih kuat, tetapi juga lebih berani menghadapi risiko, dan Putin tahu itu,” kata Anna Borshchevskaya, yang berspesialisasi dalam peran Rusia di Timur Tengah di Institut Washington untuk Studi Timur Dekat.

“Putin menempatkan Barat ke posisi di mana ia harus mengambil risiko atau mundur. Dia merasakan, dengan benar, bahwa Barat takut bertindak, dan dia menggunakan keuntungan itu.”

Terlebih lagi, dilihat sebagai pihak yang berseberangan Amerika Serikat dalam konflik militer akan menimbulkan efek pada citra domestik, Putin sebagai pemimpin dunia yang kuat yang melawan kekuatan Barat yang agresif, kata para analis.

Pertumbuhan ekonomi Rusia lamban, dan sanksi AS baru-baru ini telah mendatangkan malapetaka di pasar keuangan Rusia, sehingga menyebabkan mata uang negara itu, rubel, menjadi kacau.

“Kebijakan luar negeri yang agresif semakin menjadi sumber legitimasi domestik Putin,” kata Borshchevskaya. “Putin memiliki sedikit hal lain untuk ditawarkan di dalam negeri kepada publik selain dari narasi ‘benteng terkepung,’ (yakni) narasi bahwa Barat adalah pihak yang dekaden dan tidak bermoral dan agresif.”

Joshua Pollack, ahli senjata nuklir dan editor Nonproliferation Review, mengatakan setiap konflik langsung antara AS dan Rusia bisa dengan cepat lepas kendali.

“Saya pikir itu akan menjadi bencana, bencana besar, bagi pasukan militer AS dan Rusia untuk saling terlibat satu sama lain,” kata Pollack. “Belum ada yang tahu cara melakukan pertahanan area untuk rudal jelajah, jadi skenario ini berarti bahwa Rusia akan berada bawah serangan AS. Berapa banyak rudal yang berhasil lolos akan menjadi hal terakhir dalam pikiran siapa pun.”

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) berjabatan tangan dengan Presiden Suriah Bashar Assad di kediaman Bocharov Ruchei di resor Laut Hitam Sochi. Foto: Kremlin Pool via AP/Mikhail Klimentyev)

Putin Masih Mendominasi di Suriah, dan Tim Trump Nampaknya Tahu Itu

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top