Terungkap: Rahasia Terburuk Israel dan Persekutuannya dengan Mesir
Timur Tengah

Terungkap: Rahasia Terburuk Israel dan Persekutuannya dengan Mesir

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi (kanan) berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dalam pertemuan mereka sebagai bagian dari upaya untuk menghidupkan kembali proses perdamaian Timur Tengah menjelang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, AS, 19 September 2017, dalam foto dari Kepresidenan Mesir. (Foto: The Egyptian Presidency/Handout via Reuters)
Home » Featured » Timur Tengah » Terungkap: Rahasia Terburuk Israel dan Persekutuannya dengan Mesir

Jika intervensi militer Israel di Sinai merupakan sebuah rahasia, hal itu merupakan sebuah rahasia terburuk dalam sejarah Israel. Seperti bantahan yang dilakukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri pada tahun 2016, yang membual pada pertemuan Partai Likud tentang langkah berani yang diambil Israel untuk melindungi dirinya dari “teroris Sinai.” Watak brutal dan korup pemimpin Mesir bukanlah sesuatu yang dapat dibenahi oleh rudal maupun jet Israel. Israel tidak dapat sendirian menjaga Sisi agar tetap berkuasa.

Oleh: Richard Silverstein (Middle East Eye)

Minggu lalu, Kepala Biro Mesir New York Times, David Kirkpatrick, mempublikasikan sebuah isu mengejutkan mengenai kampanye rahasia terburuk Israel yang sampai sekarang masih berlangsung, untuk melawan pemberontak ISIS di wilayah Sinai Utara.

Rahasia terburuk tersebut bermula sejak tahun 2011, para militan—yang merupakan gabungan dari warga Bedouin yang tidak puas dengan operasi ISIS—telah melancarkan serangan terhadap sasaran di selatan jalan raya di dekat Eilat, dan menyerang sasaran militer Mesir di Sinai utara.

Kickpatrick menekankan rahasia terburuk tersebut mencakup usaha besar yang dilakukan oleh Mesir dan Israel untuk menyembunyikan upaya gabungan mereka. Dia menegaskan di dua bagian dalam laporan tersebut, bahwa media Israel tidak dapat melaporkan sebagian besar serangan tersebut karena penyensoran militer.

Dia menunjuk satu serangan pesawat tak berawak Israel pada tahun 2013 yang menewaskan lima pejuang ISIS, seolah ini adalah serangan gabungan pertama di Sinai. Tapi ternyata tidak. Serangan pesawat tanpa awak pertama terjadi pada 2012 yang membunuh pada militan ISIS di Sinai.

Dia kemudian menambahkan: “Itu.. pada tahun 2015, ketika Israel memulai serangkaian serangan udara, kata Pemerintah AS, yang mereka klaim sebagai pembunuhan terhadap daftar panjang para pemimpin militan.” Ini juga tidak terlalu tepat, meskipun detail mengenai gambaran operasi Israel dan alasan yang mendasari aliansi rahasia terburuk Israel-Mesir akurat.

Rahasia Terburuk Israel

Jika intervensi militer Israel di Sinai merupakan sebuah rahasia, hal itu merupakan sebuah rahasia terburuk dalam sejarah Israel. Seperti bantahan yang dilakukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri pada tahun 2016, yang membual pada pertemuan Partai Likud, tentang langkah berani yang diambil Israel untuk melindungi dirinya dari “teroris Sinai”.

Meskipun benar sensor militer Israel menahan laporan tentang pidato perdana menteri itu, namun saat itu berita tersebut muncul di berita TV dan ditampilkan di YouTube.

Anggota keluarga menghadiri pemakaman seorang petugas bernama Khaled Al-Maghrabi, yang dibunuh dalam serangan bom bunuh diri di titik perkumpulan tentara di Sinai. (Foto: Reuters)

Anggota keluarga menghadiri pemakaman seorang petugas bernama Khaled Al-Maghrabi, yang dibunuh dalam serangan bom bunuh diri di titik perkumpulan tentara di Sinai. (Foto: Reuters)

Israel tidak memulai operasi di Sinai pada tahun 2015 atau bahkan 2013. Faktanya, rahasia terburuk yang ditunjukkan dengan serangan itu dimulai sejak tahun 2012 (lebih lanjut mengenai ini akan dibahas kemudian), ketika Mohamed Mursi masih memimpin Ikhwanul Muslimin (dia dikudeta oleh junta militer tahun 2013). Ini mempersulit narasi  yang dijelaskan oleh NYT, terkait sebuah aliansi bilateral, yang sejauh yang Israel tahu, untuk mendukung pemerintahan militer Mesir.

Meskipun benar bahwa Israel lebih memilih Jenderal yang kuat untuk melawan pemimpin seperti Morsi, faktnya adalah bahwa Israel memandang Islam radikal di Sinai sebagai ancaman, sebelum Abdel Fattah al-Sisi memimpin Mesir.

Steven A Cook, pengamat Eni Enrico Mattei untuk studi Timur Tengah dan Afrika di Dewan Hubungan Luar Negeri, mengatakan kepada saya: “Ketika Morsi berkuasa, kepresidenan Mesir meninggalkan berkas Israel ke Intelijen Umum dan Kementerian Pertahanan. Masuk akal bahwa Pasukan keamanan Israel dan Mesir berkoordinasi tanpa Morsi mengetahuinya, yang mungkin baik-baik saja dengannya.”

Cook juga menunjukkan bahwa komentar yang berkaitan dengan artikel NYT tersebut telah membuat koordinasi Mesir di era-Sisi dengan Israel telihat sebagai sebuah kesepakatan militer yang lebih besar daripada yang sebenarnya. “Orang-orang Mesir telah melakukan ribuan serangan, sementara jumlah Israel tidak diragukan lagi jauh lebih rendah.”

Kickpatrick juga mengatakan: “Tidak jelas apakah tentara Israel atau pasukan khusus mereka telah menginjakkan kaki di perbatasan Mesir, yang dapat meningkatkan risiko pembongkaran.”

Ini juga tidak benar. Pada tahun 2011, dalam sebuah serangan berani yang berasal dari Sinai, para penyerang melewati perbatasan untuk memasuki Israel dan menyemburkan api besar di jalan raya selatan dekat Eilat. Sebuah bus dan beberapa kendaraan sipil diserang dan tujuh orang Israel terbunuh termasuk seorang tentara.

    Baca juga: Persekutuan Rahasia: Israel Lakukan Serangan Udara di Mesir dengan Persetujuan Kairo

Setelah itu, para penyerang tersebut menyusup balik ke perbatasan Mesir sambil dikejar-kejar oleh militer Israel dan polisi perbatasan. Sementara itu, angkatan bersenjata Mesir juga sedang memburu para militan. Ketika kedua angkatan bersenjata bertemu, tentara Israel membuka tembakan dan membunuh lima polisi Mesir.

Mesir dengan cepat menyingkirkan permasalahan itu. Tidak ada media Mesir yang melaporkan tentara mereka terbunuh oleh tentara Israel yang telah menginvasi Mesir dalam rangka mencari teroris Sinai. Perdana Menteri Ehud Barak mengajukan permintahaan maaf dan semuanya kembali berjalan normal.

Alex Fisherman melaporkan pelanggaran Israel terhadap kedaulatan Mesir dalam harian Israel, Yediot Achronot. Blogger Israel bernama Idan Landau juga mempublikasikan serangkaian pengungkapan. Saya juga mempublikasikan beberapa tulisan blog mengenai permasalahan tersebut, dimulai dari tahun 2011.

Sumber Paling Terpercaya

Ada juga serangan Israel ilegal lain ke Mesir. Mossad menculik seorang warga Palestina, Wael Abu Rida, di Sinai, dan memenjarakannya di Israel. Meskipun intelijen Mesir bekerja sama dalam penangkapan tersebut, agen Israel-lah yang masuk ke wilayah Mesir dan menfasilitasi operasi disana.

Pada tahun 2012, saya juga melaporkan bahwa tentara Israel melewati garda depan Mesir untuk membendung aliran pengungsi Afrika yang memasuki Israel melalui Sinai.

Bagaimana saya bisa mengetahui semua ini? Karena sampai tahun 2014, seorang pensiunan Jenderal Israel dan Menteri Pertahanan menjadi sumber paling terpercaya saya dalam melaporkan berita mengenai kepentingan keamanan nasional Israel. Saya tidak dapat menyibak identitasnya sampai—tiba sebelum kematiannya pada tahun 2016—dia mengizinkan saya untuk menunjukkan identitasnya.

Saya menunjukkan identitasnya untuk pertama kalinya disini. Dia adalah Binyamin Ben-Eliezer.
Ben-Eliezer naik menjadi salah satu tentara berpangkat tinggi di angkatan bersenjata Israel, Brigadir Jenderal. Selama masa itu, sebuah kontroversi menggoncangnya saat pasukannya dituduh membantai 250 tentara perang Mesir selama perang 1967, meskipun itu tidak berarti bahwa dia merupakan satu-satunya tentara Israel yang dituduh dengan dakwaan kejahatan perang tersebut.

Setelah dia pensiun, dia memasuki dunia politik dengan bergabung bersama Partai Buruh dan naik ke salah satu jabatan paling tinggi, menjadi Menteri Pertahanan di bawah pemerintahan Ariel Sharon pada tahun 2001. Dia secara khusus dekat secara politik dengan Barak, Tapi kekalahan terakhir dalam pemilu tahun 2000 melawan Likud Sharon, Partai Buruh mulai mengalami penurunan.

Angakatan bersenjata militer terlihat di Sinai Utara, Mesir, pada 1 Desember 2017. (Foto: Reuters)

Angakatan bersenjata militer terlihat di Sinai Utara, Mesir, pada 1 Desember 2017. (Foto: Reuters)

Peristiwa ini difasilitasi secara umum oleh aliansi politik yang mencurigakan dan persatuan pemerintah nasional yang diprakarsai oleh Barak.

Ben-Eliezzer kemudian beralih dari lingkaran Barak dan meninggalkan dunia politik pada tahun 2012. Saat itu, dia telah menderita kegagalan ginjal dan menghadapi tuduhan korupsi yang diajukan oleh polisi Israel.

Namun dalam empat tahun selanjutnya, dia memberikan saya beragam sudut pandang cerita besar yang tidak dapat dipublikasikan di Israel, karena perintah peradilan atau penyensoran militer.

Ben-Eliezer lah yang datang kepada saya dengan cerita serangan pesawat tanpa awak pertama di Sinai pada tahun 2012. Dia juga mengungkapkan kebohongan yang disembunyikan oleh Mesir dan Israel kepada media mengenai serangan teror di Selatan Israel seperti yang diceritakan diatas.

Kebohongan itu dilakukan atas pertimbangan bahwa Israel merasa malu dengan fakta bahwa pejuang  Sinai berhasil menembus pertahanan mereka; dan Mesir juga malu karena Israel berhasil menembus pertahanan mereka dan membunuh lima pegawai militer mereka.

Inilah beberapa cerita yang terkait dengan kampanye Israel di Sinai dan hubungan yang berkembang dengan Mesir yang diterbitkan sebelum 2015: Serangan pesawat tanpa awak Sinai pertama di Israel membunuh seorang militan Badui (2012); Israel melanggar kedaulatan Mesir yang membunuh empat militan Sinai (2013); Israel dan Mesir Junta: Bulu Burung (2013); Israel mendorong kudeta militer Mesir dan mendesak jenderal untuk tidak menegosiasikan kekuasaan mereka setelahnya (2013).

Narasi yang salah

Jelas bahwa sumber NYT tidak mengikuti seluruh sejarah mengenai keterlibatan Israel di Sinai. Mereka mengetahui beberapa bagian dari cerita tersebut, dan menggunakannya untuk membuat narasi untuk mengembangkan ketertarikan mereka.

Apakah kepetingan AS? Anda akan menemukan dalam cerita NYT yang menekankan aliansi erat antara petinggi militer Mesir dengan Israel dalam konteks meningkatkan hubungan dekat antara Israel dengan negara-negara Sunni yang dipimpin oleh Arab Saudi.

Cerita itu juga menekankan nilai dari operasi gabungan Mesir-Israel, mengklaim operasi anti-terror Israel telah membendung gelombang kejahatan Islam yang diprediksi dapat meruntuhkan kekuasan junta militer.

    Baca juga: Bergabung Lawan ISIS, Hubungan Hamas dan Mesir Kian Erat

Bagaimanapun, argumen tersebut menjadi terlalu jauh. Israel sama sekali tidak menghentikan atau bahkan menghambat pemberontakan Islam. Paling sekadar merusaknya sedikit, itu pun sangat kecil. ISIS hampir setiap hari menyerang baik militer maupun penduduk sipil.

Seperti yang dicatat dalam laporan Haaretz, watak brutal dan korup yang dimiliki Pemimpin Israel bukanlah sesuatu yang dapat dibenahi menggunakan rudal atau jet Israel. Israel tidak dapat mendukung sisi untuk tetap berkuasa sendirian. Pada akhirnya dia kan bernasib sama dengan Mubarak sebelumnya, baik dengan ataupun tanpa dukungan Israel.

Jika tokoh demokratis atau populis pernah menjabat menjadi penguasa di Mesir, baik dia maupun penduduk Mesir akan mengingat bahwa Israel-lah yang membantu sang koruptor dan pembunuh itu menjaga kekuasaannya.

Demikian pula, ketika Kerajaan Arab Saudi suatu hari digulingkan, siapa pun yang menggantikannya akan mengingat aliansi korup yang dipalsukan antara monarki yang korup dan kleptokratis dan sekutunya Israel.

Terungkap: Rahasia Terburuk Israel dan Persekutuannya dengan Mesir

Sebuah bendera Israel (kiri) berkimar di samping bendera Mesir di persimpangan Nitzana, di sepanjang perbatasan Israel dengan gurun Sinai Mesir, seperti yang terlihat dari wilayah Israel. (Foto: Reuters/Ronen Zvulun)

Diktatorisme yang tak bertahan lama

Sungguh mengherankan bahwa AS berusaha menceritakan narasi yang melengkung berbelok ini. Bertolak belakang dengan apa yang diyakini oleh intelijen AS dan Israel, bukan hal yang baik bahwa Israel menempa aliansi ini dengan unsur-unsur paling kejam dan represif di dunia Arab.

Jikapun hal tersebut dapat membantu Israel, itu hanya akan berlangsung dalam jangka pendek. Kediktatoran dan orang-orang kuat militer memiliki kehidupan yang terbatas di belahan dunia ini, seperti yang ditunjukkan oleh kejadian baru-baru ini. Begitu mereka digulingkan, mereka yang mengikuti tidak akan melihat Israel dengan baik.

Tapi dalam cerita seperti ini, yang melibatkan sejumlah besar ketidaksukaan, kebingungan dan keburukan oleh politisi dan pejabat intelijen, hal tersebut tidak berhasil.

Wartawan dan editor mereka harus menyadari bahwa di masyarakat tertutup seperti Mesir dan Israel (ya, untuk semua orang liberal di luar sana, bahkan di Israel), informasi penting berasal dari sumber-sumber non-konvensional yang harus diperlakukan dengan hormat yang sama untuk sumber arus utama. sumber yang dianggap sah oleh media.

Dalam masyarakat seperti Israel, yang memberlakukan sanksi pidana terhadap pembuka rahasia dan bentuk lainnya dari sudut pandang konsensus keamanan, standar jurnalistik harus memperhitungkan hal ini.

Keterangan foto utama: Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi (kanan) berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dalam pertemuan mereka sebagai bagian dari upaya untuk menghidupkan kembali proses perdamaian Timur Tengah menjelang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, AS, 19 September 2017, dalam foto dari Kepresidenan Mesir. (Foto: The Egyptian Presidency/Handout via Reuters)

Terungkap: Rahasia Terburuk Israel dan Persekutuannya dengan Mesir
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top