Raja Baru Malaysia: Pembela Islam yang Familiar dengan Kerumitan Politik
Asia

Raja Baru Malaysia: Pembela Islam yang Familiar dengan Kerumitan Politik

Berita Internasional >> Raja Baru Malaysia: Pembela Islam yang Familiar dengan Kerumitan Politik

Malaysia akan memilih seorang raja baru. Apa saja kekuasaannya kelak dan siapa saja kandidatnya? Sultan Abdullah dari Pahang adalah kandidat favorit, tetapi Sultan Ibrahim bin Sultan Iskandar dari Johor juga berpeluang tinggi.

Oleh: Tashny Sukumaran (South China Morning Post)

Sembilan penguasa Melayu di Kerajaan Malaysia akan memilih raja baru mereka, atau Yang di-Pertuan Agong, pada hari Kamis (24/1), hanya beberapa pekan setelah raja sebelumnya, Sultan Muhammad V, mengundurkan diri secara mengejutkan setelah berminggu-minggu spekulasi. Momen ini adalah pertama kalinya kepala negara Malaysia turun tahta. Para pakar dan orang dalam percaya bahwa Agong baru kelak tampaknya adalah penguasa negara bagian Pahang, Sultan Abdullah. Yang terpenting, mengapa monarki begitu penting bagi Malaysia?

Baca Juga: Sultan Pahang Terpilih sebagai Raja Baru Malaysia

  1. Kekuatan apa yang dimiliki oleh Agong?

Agong berfungsi sebagai kepala negara Malaysia, tidak berbeda dengan peran yang dimainkan ratu di Inggris dan berbagai teritorinya. Peran Agong sebagian besar bersifat seremonial karena meskipun memiliki kekuasaan konstitusional yang luas, ia harus melaksanakannya atas saran kabinet. Agong harus menyetujui pengangkatan individu untuk berbagai peran pemerintah senior, termasuk perdana menteri.

Sebagai kepala negara, Agong juga dapat mengeluarkan pengampunan kerajaan penuh, seperti dalam kasus ikon demokrasi Anwar Ibrahim pada tahun 2018, ketika mantan raja Sultan Muhammad V menghapus bersih catatannya dari berbagai tuduhan sodomi dan korupsi.

Meskipun para penguasa sebelumnya memiliki kekuasaan lebih besar, pada tahun 1983 dan 1993 Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengesahkan amandemen konstitusi yang membatasi jangkauan mereka, melucuti mereka dari kemampuan untuk menyetujui undang-undang yang disahkan di parlemen, menghilangkan kekebalan mereka dari tuntutan hukum, dan mendirikan pengadilan khusus untuk menuntut mereka jika diperlukan.

Mahathir Mohamad, perdana Menteri Malaysia yang membatasi kekuasaan para penguasa. (Foto: Bloomberg)

Apa yang menjadikan Agong sebuah institusi budaya dan simbol yang kuat bagi rakyat adalah tanggung jawabnya untuk melindungi Islam di Malaysia yang mayoritas Muslim, yang merupakan faktor kunci di balik berlanjutnya dukungan luas bagi bangsawan di antara warga negara, meskipun semakin banyak orang Malaysia mengkritik penggunaan Akta Hasutan (Sedition Act) peninggalan era kolonial untuk menekan komentar negatif dari publik tentang institusi kerajaan.

Baru-baru ini, monarki Malaysia menjadi lebih vokal tentang politik, sehari setelah pemilihan umum 2008 yang penting ketika Partai Pakatan Rakyat yang saat itu menjadi oposisi memenangkan negara bagian Perak. Setelah tiga anggota dewan membelot, Sultan Perak menolak untuk mengizinkan menteri utama membubarkan majelis negara, yang mengakibatkan krisis konstitusi dan negara kemudian kembali ke pemerintahan.

Para penguasa kemudian lebih vokal pada gerakan politik, seperti pada tahun 2015 ketika mereka merilis pernyataan bersama yang menyerukan dilakukannya penyelidikan dengan cepat terhadap skandal korupsi global 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

  1. Bagaimana Agong dipilih?

Agong dipilih oleh dewan penguasa yang terdiri dari saudara-saudaranya, yang disebut Majlis Raja-Raja (Conference of Rulers), yang mencakup empat gubernur negara bagian yang dapat menghadiri bagian dari konferensi tetapi tidak dapat memilih. Masing-masing dari sembilan sultan, yang mengawasi negara bagian yang berbeda, bergiliran menjadi raja selama lima tahun dengan sistem rotasi. Di bawah konstitusi, hanya ada tiga kasus di mana penguasa yang berikutnya dalam daftar rotasi dapat tidak dapat dilantik, yakni jika penguasa tersebut masih di bawah umur, jika Majlis Raja-Raja melalui pemungutan suara rahasia memutuskan bahwa ia tidak cocok dengan alasan kelemahan pikiran atau tubuh atau alasan lain untuk menjalankan fungsi-fungsi raja, maupun jika dia menolak untuk mengambil posisi raja. Jika ini terjadi, jabatan raja kemudian akan pindah ke penguasa berikutnya yang berada dalam daftar. Saat ini, anggota keluarga kerajaan Pahang akan naik tahta berikutnya, diikuti oleh Johor dan Perak. Secara historis belum ada nama yang dicoret dari daftar pemilihan bergilir, kecuali untuk tahun 1984 ketika Johor dan Perak berganti giliran setelah Sultan Perak meninggal beberapa bulan sebelum pelantikan.

  1. Di balik hubungan bergejolak antara Perdana Menteri Mahathir Mohamad dengan para anggota kerajaan

Mahathir Mohamad, yang juga menjabat sebagai perdana menteri dari tahun 1981 hingga 2003 dan kembali terpilih setelah memimpin koalisi Partai Pakatan Harapan menuju kemenangan pada tahun 2018, memiliki hubungan yang kurang baik dengan para bangsawan setelah upayanya untuk membatasi kekuasaan mereka. Perselisihan besar pertama Mahathir dengan para sultan terjadi pada tahun 1983, ketika dia memaksa mereka untuk melepaskan hak untuk memveto undang-undang baru dengan menahan persetujuan melalui amandemen konstitusi.

Raja Malaysia Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah membaca Alquran setelah mendirikan shalat maghrib dengan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad pada tahun 1999. (Foto: AFP)

Satu dekade kemudian, Mahathir lebih lanjut membatasi kekuasaan mereka dengan mengakhiri kekebalan mereka dari tuntutan hukum setelah pengaduan tentang perilaku yang salah. Tahun 2018, setelah pemilihan umum yang untuk pertama kalinya dalam 61 tahun pemerintahannya mantan koalisi pemerintahan Barisan Nasional digulingkan, terdapat spekulasi luas bahwa istana telah menunda sumpah Mahathir sebagai perdana menteri.

Bulan Juni 2018, pemerintah Malaysia dan Agong mencapai jalan buntu mengenai penunjukan pengacara etnis India Tommy Thomas sebagai jaksa agung, posisi yang biasanya diperuntukkan bagi anggota ras mayoritas Melayu-Muslim, meskipun konstitusi tidak menentukan ras, jenis kelamin, atau persyaratan agama tertentu untuk peran tersebut. Agong menyetujui penunjukan tersebut setelah dua minggu. Baru-baru ini, Mahathir membidik keluarga kerajaan Johor mengenai masalah tanah, kemudian membuat pernyataan publik tentang pentingnya “aturan hukum.”

Bentrokannya dengan keluarga kerajaan Johor, khususnya, telah didokumentasikan dengan baik dan dimulai pada tahun 1980-an. Meski demikian, Mahathir telah menekankan bahwa dia bukan anti-monarki. Bulan Januari, Mahathir bertemu dengan Sultan Johor untuk pertama kalinya sejak kembali berkuasa dalam sebuah pertemuan tertutup yang sangat dipublikasikan.

Pernyataan yang terus diulang adalah bahwa Mahathir memiliki hubungan yang ramah dengan tujuh agong yang telah ia layani. “Jika sultan tidak menyukai saya, tidak apa-apa. Saya tidak meminta orang untuk menyukai saya, saya hanya akan membela apa yang benar,” katanya kepada This Week in Asia pada tahun 2017.

Baca Juga: Kutip Trump, Mahathir Mohamad Larang Atlet Israel Masuk Malaysia

  1. Siapa yang akan dipilih pada hari Kamis?

Hari Kamis (24/1), Majlis Raja-Raja akan memilih Agong baru. Para pengamat percaya bahwa tidak mungkin para penguasa akan melanggar tradisi sehingga Sultan Pahang, Sultan Abdullah Shah, diperkirakan akan naik tahta. Seorang tokoh olahraga terkenal karena keterlibatannya dengan FIFA dan berbagai federasi hoki, Sultan Abdullah adalah putra mahkota Pahang hingga ketika ayahnya turun pada awal bulan Januari 2019 dengan alasan kesehatan yang buruk.

Namun, yang lain percaya bahwa mungkin Sultan Ibrahim Sultan Iskandar dari Johor dapat menjadi Agong. Tahun 2016, penguasa Johor, yang memiliki beberapa bisnis dan merupakan penggemar sepeda motor, mengatakan bahwa ia telah melewatkan kesempatan untuk menjadi Agong karena menghormati sistem rotasi. Dia bertemu dengan Mahathir segera setelah pengunduran diri Sultan Muhammad V.

Keterangan foto utama: Sultan Abdullah bin Sultan Ahmad Shah dari negara bagian Pahang diperkirakan akan meneruskan tahta Kerajaan Malaysia. (Foto: AP)

Raja Baru Malaysia: Pembela Islam yang Familiar dengan Kerumitan Politik

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top