Raja Salman 'Turun Gunung' Pasca Pembunuhan Jamal Khashoggi
Timur Tengah

Raja Salman ‘Turun Gunung’ Pasca Pembunuhan Jamal Khashoggi

Berita Internasional >> Raja Salman ‘Turun Gunung’ Pasca Pembunuhan Jamal Khashoggi

Raja Salman melakukan serangkaian kunjungan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini menyusul skandal internasional atas pembunuhan Jamal Khashoggi, jurnalis Saudi yang menetap di Amerika Serikat dan sering menulis kritikan untuk Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Hal ini secara luas dilihat sebagai krisis diplomatik terburuk yang dihadapi kerajaan itu sejak serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Oleh: AFP/CBS News

Raja Arab Saudi Salman memulai kunjungan domestik yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Selasa (6/11), seiring negara itu bergulat dengan krisis internasional atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Raja berusia 82 tahun itu bergabung dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman di provinsi tengah Qassim, menurut televisi pemerintah, seiring ia memulai apa yang disebut media Saudi sebagai kunjungan ke “beberapa wilayah” di kerajaan itu.

Raja Salman juga akan mengunjungi wilayah utara Hail dalam kunjungan pertamanya sejak ia menaiki takhta paling kuat di Timur Tengah pada tahun 2015, surat kabar Sabq yang pro-pemerintah melaporkan.

Kantor berita milik negara Arab Saudi, SPA, telah mengunggah tweet belasan foto dari kunjungan tersebut yang menunjukkan raja dan putra mahkota bertemu para pejabat daerah.

Di Qassim, Raja Salman akan meluncurkan proyek kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur, serta memeriksa “kondisi warga dan mengetahui kebutuhan mereka,” kata surat kabar Saudi Gazette.

Tidak jelas apakah Pangeran Mohammed akan menemaninya selama sisa kunjungannya, yang dilakukan seiring Arab Saudi menghadapi kemarahan internasional atas pembunuhan Khashoggi pada tanggal 2 Oktober di konsulatnya di Istanbul.

Baca Juga: Misteri Pembunuhan Khashoggi: Erdogan Sebagai Letnan Columbo

Setelah pada awalnya bersikeras bahwa Khashoggi meninggalkan Konsulat tanpa cedera, pihak berwenang Saudi mengatakan bahwa dia terbunuh dalam sebuah argumen yang berubah menjadi perkelahian, sebelum akhirnya Arab Saudi menerima apa yang dikatakan Turki sejak awal—bahwa dia terbunuh dalam serangan yang direncanakan.

Hal ini secara luas dilihat sebagai krisis diplomatik terburuk yang dihadapi kerajaan itu sejak serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Pembunuhan itu mencemari citra global Pangeran Mohammed yang berusia 33 tahun—yang merupakan penguasa dan pewaris de facto—meskipun kerajaan itu dengan keras menyangkal bahwa dia terlibat.

Para penguasa Saudi tampaknya menopang dukungan domestik, termasuk di dalam keluarga kerajaan, menyusul krisis tersebut.

Raja Salman bulan lalu memerintahkan dimulainya kembali pembayaran bonus tahunan kepada semua pekerja pemerintah dimulai dari awal tahun depan. Bonus tersebut sebelumnya telah ditunda di bawah langkah-langkah penghematan pada tahun 2016 di tengah harga minyak yang rendah.

Dalam beberapa pekan terakhir, para nasionalis Saudi telah berusaha untuk melakukan pawai berkaitan dengan pangeran tersebut, dengan puisi dan lagu yang memuji-muji di media sosial, seiring para pejabat lokal telah menepis krisis Khashoggi dan menyebutnya sebagai konspirasi Barat.

Baca Juga: Staf Arab Saudi Rusak Kamera CCTV Setelah Pembunuhan Khashoggi

Keterangan foto utama: Raja Salman dari Arab Saudi dan putranya Putra Mahkota Mohammed bin Salman membuka kunjungan domestik raja, pada 6 November 2018, di Qassim, dalam foto yang diunggah ke Twitter oleh media pemerintah Arab Saudi SPA. (via CBS News)

Raja Salman ‘Turun Gunung’ Pasca Pembunuhan Jamal Khashoggi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top