Home » Opini » Retorika Tidak Berbobot dalam Debat Capres 2014
Opini

Retorika Tidak Berbobot dalam Debat Capres 2014

Retorika Tak Berbobot dalam Debat Capres 2014

Debat pilpres seharusnya menjadi ajang ideal untuk mengangkat permasalahan penting serta visi misi yang diusung. Namun bagaimana bila debat capres 2014 hanya menjadi momen unjuk retorika semata?

Oleh Yohanes Sulaiman

Debat capres 2014 terbukti memperkuat elektabilitas pasangan kandidat presiden Prabowo Subianto dan wakil presiden yang mendampingi, Hatta Rajasa. Hatta tampil memukau dalam debat capres yang diselenggarakan pada Minggu, 29/6, sehingga Prabowo memimpin atas kandidat presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam debat kali kedua tersebut.

Menjelang hari pemilihan presiden Indonesia secara langsung pada tanggal 9 Juli, sang jenderal purnawirawan telah mampu mengejar popularitas Jokowi. Sebelum pelaksanaan pemungutan suara, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menjadwalkan lima kali debat pilpres setiap minggunya.

Retorika Tak Berbobot dalam Debat Capres 2014

Kandidat presiden Prabowo Subianto berjalan dalam pengawalan. Foto: Gabrielle Dunlevy/AAP.

Dengan hanya dua pasang kandidat yang berlaga dalam pemilu presiden, debat pilpres tahun ini jauh lebih sengit daripada debat pilpres tahun 2009 antara Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Sukarnoputri, dan Jusuf Kalla. Debat pilpres kala itu diwarnai para pendukung garis keras di kalangan penonton, dengan sorak-sorai slogan masing-masing kandidat yang dielukan seakan berada dalam pertandingan olahraga.

Tentu saja, tingginya antusiasme penonton tidaklah mencerminkan kualitas debat pilpres yang berlangsung. Seperti tiga debat yang sebelumnya, ajang debat kali ini juga diliputi permasalahan yang sama, yakni tak ada satu pun kandidat yang bersedia menyajikan buruknya permasalahan serius bagi warga maupun mendiskusikan masalah aktual.

Misalnya, dalam debat pada Minggu, 29/6 mengenai isu riset dan teknologi serta pengembangan sumber daya manusia, Hatta, pimpinan Partai Amanat Nasional (PAN) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di masa kepemimpinan SBY, melakukan serangan kepada oposisi Jokowi-Kalla mengenai Ujian Nasional (UN). Kalla, yang pernah menjabat sebagai wakil presiden SBY, merespon dengan menekankan bahwa mereka akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan UN, namun tidak akan menghapuskannya.

Meski demikian, tak satupun di antara kedua kandidat yang benar-benar mendiskusikan kekacauan yang terjadi di balik isu yang diangkat, yakni tingginya angka ketidaklulusan siswa. Hal tersebut mungkin saja berlawanan dengan ekspektasi pada umumnya, namun keduanya tentu menyadari dan perlu mempertimbangkan rendahnya kualitas guru di daerah pedalaman Indonesia, sehingga fakta bahwa 99% siswa sekolah menengah mampu lulus UN sangatlah mencengangkan.

Hal yang sama juga terjadi ketika moderator menanyakan solusi yang dapat mereka tawarkan untuk menghentikan kecenderungan para pekerja terampil dari Indonesia ke luar negeri. Kedua kandidat mengabaikan fakta bahwa kebanyakan dari para pekerja tersebut memilih untuk bekerja ke luar negeri karena didorong rasa frustrasi terhadap kerumitan birokrasi dan kesulitan untuk bekerja di lingkungan yang dipenuhi tindak Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

Secara umum, kedua kandidat presiden dan wakil presiden yang berlaga dalam debat pilpres mengatakan hal yang pada dasarnya sama, namun dalam retorika yang berbeda. Keduanya sepakat bahwa pemerintah perlu mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk riste teknologi dan pendidikan, sekaligus memberikan insentif bagi riset di ranah privat. Mereka sepakat bahwa kecenderungan para pekerja terampil untuk bekerja di luar negeri haruslah dihentikan segera. Kedua kandidat berharap pemerintah dapat menarik tenaga kerja dengan keterampilan dan kemampuan cemerlang tersebut agar bersedia bekerja di dalam negeri dengan membayarkan kompensasi yang sesuai.

Selanjutnya, siapakah yang memenangkan debat pilpres pada hari Minggu kemarin? Sejujurnya, debat pilpres yang telah berlangsung sangatlah membosankan sehingga cukup sulit untuk memperhatikan argumen yang berlangsung. Meski Kalla banyak disukai karena gaya bicaranya yang agresif, kali ini Hatta menang tipis dengan poin pembicarannya yang berbobot.

Apabila hasil perhitungannnya tepat, debat pilpres keempat akan menyeimbangkan nilai yang diperoleh kedua pasangan kandidat. Gubernur Jakarta, Jokowi memukau penonton dalam debat pertama dengan kemampuannya memimpin yang sudah tidak diragukan lagi. Pada saat yang sama, Kalla berhasil melakukan pembelaan terhadap Prabowo yang diserang dengan tuduhan keterlibatan dalam kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Secara umum, Jokowi memenangkan debat pilpres ketiga dalam hal kebijakan luar negeri dan keamanan nasional. Jokowi pada saat itu mengusung isu hubungan antara Indonesia dan Australia. Meski kedua pasangan kandidat cenderung tidak berbobot dalam pembicaraan mereka, Jokowi terlihat mampu berbicara dengan terkontrol, bahkan melakukan pukulan telak kepada para penghujatnya bahwa Jokowi mampu menjadi sosok pemimpin yang tegas bila diperlukan.

Prabowo tampil jauh lebih sempurna dalam ajang debat kedua. Saat mengangkat isu pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial, Prabowo melakukan serangan terhadap program-program Jokowi sejak pertama kali berbicara. Jokowi terlihat tidak siap dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan agresif dalam debat pilpres kedua. Meski mampu membalas kekalahan, keseluruhan kesan yang diperoleh dari debat pilpres tersebut ialah bahwa Prabowo memenangkan silat lidah dan Jokowi gagal dalam memanfaatkan momentum.

Debat pilpres kelima diharapkan dapat berlangsung dengan jauh lebih menarik. Jokowi dan Kalla yang kini telah berhasil tampil harmonis diharapkan dapat menjadi tim yang lebih tangguh. Prabowo dan Hatta sebaiknya dapat melakukan serangan dengan lebih agresif apabila ingin mengejar ketertinggalan.

Selain menggairahkan, debat pilpres tak banyak berpengaruh dalam menggarisbawahi isu-isu penting maupun menyoroti perbedaan mencolok antara kedua pasangan kandidat. Sebaliknya, debat pilpres hanyalah menjadi bahan bakar bagi para pendukung berlawanan untuk menunjukkan keahlian masing-masing kandidat dalam beretorika di hadapan publik.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama : Pendukung dari pasangan kandidat Joko Widodo dan Jusuf Kalla hadir dengan penampilan khusus untuk menunjukkan dukungan. Foto: W.F Srihardian/AAP.

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top