Reuni 212
Berita Politik Indonesia

Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi

Berita Internasional >> Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi

Rizieq Shihab berpidato di kerumunan massa Reuni 212. Ia menyerukan, tidaklah Islami untuk memilih pihak yang mendukung seorang penista agama. Seruannya itu dimaksudkan terhadap Ahok dan Jokowi.

Baca juga: Kembalinya Ulama Buronan Indonesia Didukung oleh Kelompok Islam Garis Keras

Oleh: Amanda Hodge dan Nivell Rayda (The Australian)

Ulama Islam radikal Indonesia, yang berada di balik desakan untuk memenjarakan mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama karena kasus penodaan agama, telah menyatakan bahwa sangat tidak Islami untuk memilih pihak yang mendukungnya, serangan terselubung pada Presiden Joko “Jokowi” Widodo, pada reuni 212 hari Minggu (2/12). Hal tersebut menyiapkan panggung untuk upaya pemecah-belahan lain yang pahit atas pemilihan presiden Indoensia 2019 yang dipengaruhi oleh politik Islam.

Rizieq Shihab berpidato di depan kerumunan besar, yang diperkirakan polisi “berjumlah ratusan ribu orang,” yang berkumpul di lapangan Monumen Nasional Jakarta Pusat hari Minggu (2/12) dengan pesan yang sudah direkam sebelumnya dari Arab Saudi, di mana dia melarikan diri pada tahun 2017 setelah menghadapi tuduhan makar dan pornografi terkait dengan dugaan pesan teks eksplisit.

Keamanan berlangsung ketat di aksi umum untuk menandai ulang tahun dari apa yang disebut sebagai Gerakan 212, nama yang diambil dari tanggal 2 Desember 2016, waktu perhelatan demonstrasi Jakarta di mana sekitar setengah juta orang menuntut mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama, politisi keturunan China-Kristen yang mengikuti pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017 dan kemudian dipenjara karena kasus penistaan agama.

Polisi tambahan juga dikerahkan ke kedutaan Australia mulai tengah malam pada hari Sabtu (1/12) setelah para pengunjuk rasa, pada unjuk rasa hari Jumat (30/11) terhadap pemindahan lokasi kedutaan Australia di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, menyerukan Gerakan 212 untuk membantu mereka menduduki kantor diplomatik tersebut.

Sementara disebut sebagai reuni aksi non-politik, acara kemarin terlihat jelas sangat partisan karena melibatkan banyak pemain politik di balik kampanye calon presiden oposisi untuk mengalahkan kandidat presiden petahana Jokowi pada pilpres April 2019 mendatang.

Lawan main Jokowi, Prabowo Subianto berbicara kepada hadirin, mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka sementara secara hati-hati menghindari pelanggaran hukum pemilihan. Dia menyerahkan peluang tersebut kepada para ulama seperti Rizieq, yang mengatakan kepada orang-orang yang membawa spanduk untuk Front Pembela Islam pimpinannya serta spanduk kelompok pro-khalifah terlarang Hizbut Tahrir, bahwa sudah waktunya untuk “ganti presiden.”

“Mari kita ubah negara ini dari negara yang penuh dengan orang-orang berdosa dan penista agama, menjadi negara yang diberkati Tuhan. Pesan saya adalah pada pemilihan presiden dan legislatif 2019, haram untuk memilih calon presiden dan anggota legislatif yang didukung oleh partai-partai yang mendukung para penista agama,” secara jelas merujuk pada Jokowi dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP), yang mengusung Jokowi dalam pilpres 2019 dan 2014 sekaligus Ahok dalam pilkada DKI Jakarta 2017 sebelum dijatuhi hukuman penjara. “Mari kita pilih calon presiden yang didukung oleh para ulama.”

Spesialis Hukum Indonesia Universitas Melbourne Tim Lindsey mengatakan bahwa aksi umum itu adalah pengingat akan meningkatnya pengaruh politik Islam di Indonesia dan fakta bahwa kelompok Islam garis keras, meskipun tidak cukup kuat untuk membentuk pemerintahan sendiri, dapat mengatur agenda politik.

“Sekarang, ini adalah fakta politik arus utama Indonesia bahwa tidak ada seorang politikus yang baik yang mampu mengabaikan apa yang dipikirkan oleh para Islamis garis keras tentang isu-isu dan itu adalah warisan dari kampanye Ahok,” kata Profesor Lindsey. “Jokowi sepenuhnya menyadari hal itu, kehilangan rekan sejawatnya yang dekat [dan mantan wakil gubernur] Ahok karena politik agama.”

Baca juga: Opini: Jika Demokrasi Indonesia Bermasalah, Masih Ada yang Lebih Parah

Jokowi mengejutkan banyak orang beberapa bulan lalu dengan memilih sebagai calon wakil presiden Ma’ruf Amin untuk mendampinginya dalam pilpres 2019, seorang ulama yang memberikan bukti menguatkan atas dakwaan terhadap Ahok. Pilihan itu dilihat sebagai upaya untuk menetralkan serangan politik dari kelompok Islam garis keras yang juga menyerangnya pada pilpres 2014 ketika ia pertama kali mengikuti ajang pemilihan presiden melawan Prabowo.

Namun, dosen politik di Universitas Paramadina Jakarta Hendri Satrio mengatakan bahwa jumlah pemilih yang tinggi menunjukkan bahwa taktik itu tidak berhasil. “Ini menunjukkan upaya Jokowi untuk meningkatkan kredibilitas Islamnya dengan memilih Ma’ruf sebagai pasangan cawapres, meyakinkan pengacara Rizieq Shihab untuk beralih posisi, pendiriannya tentang masalah Palestina, dan kebijakan luar negerinya yang tidak berjalan,” katanya.

Sementara aksi 212 kemarin akan memberikan dorongan suara kepada Prabowo, pertanyaannya adalah apakah dia dapat mempertahankan momentum, seperti yang dilakukan Gerakan 212 dengan menyatukan orang-orang Indonesia melawan Ahok menjelang pemilu pemilihan gubernur Jakarta tahun 2017.

“Aksi itu memang menginstruksikan kembali retorika polarisasi ke dalam kampanye kepresidenan dan melemahkan beberapa upaya Jokowi untuk menjangkau seluruh jurang identitas, tetapi tidak menandakan perubahan besar dalam hal kampanye,” kata Ed Aspinall, ahli politik Asia Tenggara di Universitas Nasional Australian. “Kami sudah tahu bahwa kelompok tersebut akan memobilisasi massa di belakang Prabowo, seperti yang mereka lakukan pada tahun 2014. Tantangan bagi Prabowo adalah untuk menjangkau di luar kelompok itu.”

Amanda Hodge adalah koresponden the Australian untuk Asia Tenggara. Berbasis di Jakarta, Hodge telah meliput perang, pengungsi, serangan teror, bencana alam, serta pergolakan sosial dan politik mulai dari Afghanistan hingga Sri Lanka. Hodge memulai karir jurnalismenya pada tahun 1995 di surat kabar Messenger di Adelaide.

Keterangan foto utama: Ribuan umat Islam Indonesia berdemonstrasi di Jakarta, 2 Desember 2018. (Foto: AFP)

Reuni 212: Kelompok Garis Keras Gunakan Kartu Islam terhadap Jokowi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top