Balas Dendam, Rusia Usir 23 Diplomat Inggris atas Kasus Keracunan Mata-Mata
Eropa

Balas Dendam, Rusia Usir 23 Diplomat Inggris atas Kasus Keracunan Mata-Mata

Berita Internasional >> Balas Dendam, Rusia Usir 23 Diplomat Inggris atas Kasus Keracunan Mata-Mata

Rusia mengusir 23 diplomat Inggris sebagai bentuk balas dendam, setelah sebelumnya Perdana Menteri Inggris Theresa May mengusir 23 diplomat Rusia yang diduga beroperasi sebagai petugas intelijen di Inggris. Hal ini terjadi seiring ketegangan antara Inggris dan Rusia terus meningkat, setelah senjata saraf digunakan dalam percobaan pembunuhan terhadap bekas mata-mata di wilayah Inggris.

Oleh: Saphora Smith (NBC News)

LONDON—Rusia akan mengusir 23 diplomat Inggris, seiring ketegangan antara kedua negara tersebut terus meningkat, setelah senjata saraf digunakan dalam percobaan pembunuhan terhadap bekas agen ganda di wilayah Inggris.

    Baca Juga : Ahli Kimia: Upaya Pembunuhan Mata-mata Rusia Tak Mungkin oleh Aktor Non-Pemerintah

Rusia mengatakan bahwa mereka juga akan menarik izin bagi Inggris untuk membuka konsulat umum di St. Petersburg, dan akan menutup British Council—sebuah organisasi internasional Inggris untuk hubungan budaya dan kesempatan pendidikan, di Rusia.

Pengumuman tersebut diumumkan tiga hari setelah keputusan Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk mengusir 23 diplomat Rusia yang diduga beroperasi sebagai petugas intelijen di Inggris. Pengusiran tersebut—yang merupakan pengusiran terbesar dalam tiga dekade—”pada dasarnya akan menurunkan kemampuan intelijen Rusia di Inggris untuk tahun-tahun yang akan datang,” kata May.

Pada Sabtu (17/3), dalam sebuah pidato yang disampaikan pada Forum Musim Semi Partai Konservatif di London, May mengatakan bahwa Inggris tidak akan mencari masalah dengan Rusia, namun ancaman terhadap nyawa warga Inggris tidak akan ditoleransi.

Dia mengatakan bahwa Duta Besar Inggris untuk Moskow telah diberitahu oleh pemerintah Rusia, mengenai tindakan yang diambil Rusia sebagai tanggapan atas “penghentian semua kontak tingkat tinggi yang direncanakan antara Inggris dan Federasi Rusia.”

“Mengingat perilaku mereka sebelumnya, kami mengantisipasi tanggapan semacam ini, dan kami akan mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam beberapa hari mendatang, bersama sekutu dan mitra kami,” kata May. “Tapi tanggapan Rusia tidak mengubah fakta dari kasus tersebut. Percobaan pembunuhan terhadap dua orang di tanah Inggris, yang mana tidak ada kesimpulan lain selain bahwa negara Rusia bersalah. Rusia-lah yang berada dalam pelanggaran yang mencolok terhadap hukum internasional dan Konvensi Senjata Kimia.”

Langkah Rusia terhadap Inggris merupakan perkembangan terakhir dalam kebuntuan antara kedua negara tersebut terkait kasus keracunan Sergei Skripal dan putrinya di kota Inggris Salisbury pada pekan lalu, yang telah mencapai titik terendah dalam hubungan diplomatik pasca-Perang Dingin.

Saat menghadiri parlemen Inggris pada Rabu (14/3), May menyalahkan percobaan pembunuhan tersebut pada Rusia.

“Tidak ada kesimpulan lain selain bahwa negara Rusia bersalah atas percobaan pembunuhan terhadap Skripal dan putrinya—dan mengancam nyawa warga Inggris lainnya di Salisbury,” katanya.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa pengusiran tersebut merupakan tanggapan atas “tindakan provokatif dari pihak Inggris, dan tuduhan yang tidak berdasar terhadap Federasi Rusia sehubungan dengan insiden di Salisbury.”

Kementerian tersebut memperingatkan bahwa mereka berhak mengambil tindakan lain untuk melawan Inggris, jika terjadi langkah permusuhan yang lebih lanjut dari pemerintah Inggris.

Teori Baru Kasus Mata-Mata Rusia: Sergei Skripal, Putrinya Yulia, dan Sebuah Koper

Bekas mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya Yulia, berpose di restoran Zizzi di pusat serangan tersebut. (Foto: Supplied/news.com.au)

Duta Besar Inggris, Laurie Bristow, yang dipanggil ke kementerian luar negeri pada Sabtu (17/3), mengatakan bahwa dia diberitahu tentang tindakan pembalasan tersebut.

Saat meninggalkan pertemuan tersebut, dia mengatakan kepada para wartawan bahwa penggunaan racun kimia tersebut bukan hanya serangan terhadap Inggris, namun juga terhadap “sistem dasar dunia internasional, di mana semua negara termasuk Rusia, bergantung pada keselamatan dan keamanan mereka.”

Duta Besar Inggris tersebut mengatakan bahwa Inggris telah memberi Rusia kesempatan untuk menjelaskan bagaimana senjata kimia yang dikembangkan di negara mereka digunakan di tanah Inggris, dan mengumumkan materi tersebut kepada Organisasi Larangan Senjata Kimia, namun Rusia tidak melakukan keduanya.

“Krisis ini telah muncul sebagai akibat dari serangan yang mengerikan di Inggris Raya,” katanya. “Kami akan selalu melakukan apa yang diperlukan untuk membela diri kami, sekutu, dan nilai-nilai kami terhadap serangan semacam ini,” tambahnya.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan pada Sabtu (17/3) bahwa tanggung jawab tetap ada di tangan Rusia untuk memperhitungkan tindakannya dan untuk mematuhi kewajiban internasional.

“Sehubungan dengan perilaku Rusia sebelumnya, kami mengantisipasi tanggapan semacam ini, dan Dewan Keamanan Nasional akan bertemu pada awal minggu depan untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya,” kata juru bicara tersebut.

“Tanggapan Rusia tidak mengubah fakta,” kata juru bicara tersebut. “Rusia adalah negara yang melanggar hukum internasional dan Konvensi Senjata Kimia.”

Berbicara pada Sabtu (17/3), May mengatakan bahwa Inggris akan mempertimbangkan langkah selanjutnya bersama sekutunya dalam beberapa hari mendatang.

“Kami tidak akan pernah mentoleransi ancaman terhadap nyawa warga Inggris dan warga negara lain di tanah Inggris, dari Pemerintah Rusia. Kami dapat diyakinkan oleh dukungan kuat yang telah kami terima dari teman dan sekutu kami di seluruh dunia,” kata May.

Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan pada Jumat (16/3), bahwa sangat mungkin Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri telah membuat keputusan untuk menggunakan racun saraf di tanah Inggris.

“Kami tidak melawan masyarakat Rusia. Tidak akan ada Russophobia sebagai hasil dari apa yang terjadi,” kata Johnson kepada para wartawan.

“Perselisihan kami adalah dengan Kremlin Putin, dan dengan keputusannya—dan kami pikir sangat mungkin bahwa kasus ini merupakan keputusannya—untuk mengarahkan penggunaan racun saraf (agen saraf) di jalanan Inggris, di jalan-jalan di Eropa untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia Kedua,” katanya.

Rusia membantah bahwa mereka terlibat, dan mengatakan bahwa Rusia tidak menanggapi ultimatum May sebelumnya, sampai mereka menerima sampel racun saraf kelas militer, Novichok, yang menurut para penyidik ​​Inggris digunakan dalam serangan tersebut.

Kedutaan Besar Rusia di London mengatakan bahwa pengusiran diplomat tersebut “sama sekali tidak dapat diterima, tidak dapat dibenarkan, dan picik.”

    Baca Juga : Teori Baru Kasus Mata-Mata Rusia: Sergei Skripal, Putrinya Yulia, dan Sebuah Koper

“Semua tanggung jawab atas memburuknya hubungan Rusia-Inggris terletak pada kepemimpinan politik Inggris saat ini,” katanya dalam sebuah pernyataan pada awal pekan ini.

Pengusiran tersebut terjadi sehari setelah polisi Inggris melaksanakan penyelidikan pembunuhan, setelah otopsi mengungkapkan bahwa seorang warga Rusia yang dalam pengasingan dan bersikap kritis terhadap Putin, telah dicekik di rumahnya.

Nikolay Glushkov—yang mayatnya ditemukan pada Senin (12/3)—meninggal akibat “tekanan di leher,” kata Polisi Metropolitan London dalam sebuah pernyataan.

Keterangan foto utama: Petugas yang mengenakan pakaian pelindung, mengamankan tenda forensik polisi yang telah tertiup angin, untuk menutupi bangku di mana Sergei Skripal ditemukan dalam kondisi kritis, pada tanggal 7 Maret 2018. (Foto: Getty Images/Matt Cardy)

Balas Dendam, Rusia Usir 23 Diplomat Inggris atas Kasus Keracunan Mata-Mata

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top