Rusia Akhirnya Buka Suara Menentang Pengakuan Yerusalem Trump
Eropa

Rusia Akhirnya Buka Suara Menentang Pengakuan Yerusalem Trump

Presiden AS Donald Trump (kanan) dengan Rabi dari Tembok Barat Shmuel Rabinowitz di Tembok Barat, di Kota Tua Yerusalem pada 22 Mei 2017. (Foto: Flash90/Nati Shohat)
Home » Featured » Eropa » Rusia Akhirnya Buka Suara Menentang Pengakuan Yerusalem Trump

Rusia mengemukakan ketidak-setujuannya atas pengakuan Yerusalem Trump dan mendukung pernyataan Paus Fransiskus, bahwa bahwa status quo Yerusalem, yang merupakan tempat ziarah dan pemujaan bagi orang Yahudi, Kristen dan Muslim, harus dihormati.

Oleh: John Owen Nwachukwu (Daily Post)

Rusia akhirnya mengungkapkan ketidak-setujuannya dengan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Duta Besar Rusia untuk Vatikan, Alexander Avdeyev, membuat posisi negaranya jelas terkait masalah tersebut.

Avdeyev ingat bahwa Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik, dalam salah satu pernyataannya yang baru-baru ini, mengatakan bahwa status quo Yerusalem, yang merupakan tempat ziarah dan pemujaan bagi orang Yahudi, Kristen dan Muslim, harus dihormati.

Duta Besar tersebut mengatakan kepada Sputnik, “Ini adalah kota yang terdiri dari tiga agama Ibrahim dan tidak boleh dipolitisasi dengan pengakuan sebagai ibukota.”

“Saya menarik perhatian pada kenyataan bahwa pernyataan ini dibuat oleh Paus, yang biasanya mengekspresikan posisinya dengan sangat hati-hati agar tidak menyinggung siapapun.

Duta besar Rusia untuk Vatikan, Alexander Avdeyev

Duta besar Rusia untuk Vatikan, Alexander Avdeyev. (Foto: RIA Novosti)

“Jadi kita bisa melihat ketidaksepakatan yang jelas dengan keputusan AS di sini. Kami punya pendapat yang sama.”

Diplomat tersebut juga mengatakan bahwa Rusia dan Vatikan memiliki pandangan serupa mengenai dunia dan ancaman yang ditimbulkannya di abad ke-21.

“Kami memiliki banyak kesamaan dalam visi kita tentang ancaman dan bahaya abad ke-21. Ini adalah isu penting yang menyatukan kita.”

“Pertama-tama, saya berbicara tentang ancaman terorisme, kriminal, agama atau separatis lainnya. Ancaman kedua adalah melemahnya rezim non-proliferasi.

“Yang menjadi perhatian khusus adalah perdagangan narkoba dan pemisahan menjadi kaya dan miskin di dunia.”

Duta Besar Rusia tersebut menambahkan bahwa Gereja Orthodok Rusia dan Gereja Katolik Roma prihatin atas penghancuran nilai-nilai moral dan etika peradaban Kristen.

Keterangan foto utama: Presiden AS Donald Trump (kanan) dengan Rabi dari Tembok Barat Shmuel Rabinowitz di Tembok Barat, di Kota Tua Yerusalem pada 22 Mei 2017. (Foto: Flash90/Nati Shohat)

Rusia Akhirnya Buka Suara Menentang Pengakuan Yerusalem Trump
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top