Rusia di Era Putin: Dari Negara Buangan Bangkit Menjadi Negara Adidaya
Eropa

Rusia di Era Putin: Dari Negara Buangan Bangkit Jadi Adidaya

Vladimir Putin, ketika masih menjadi kandidat presiden, berbicara dengan perwakilan media berita di sebuah tempat pemungutan suara di Moskow, Rusia, pada tahun 2000. (Foto: Associated Press/File/Alexander Zemlianichenko)
Home » Featured » Eropa » Rusia di Era Putin: Dari Negara Buangan Bangkit Jadi Adidaya

Rusia dahulu masih berupaya untuk bangkit dari keterpurukan pasca-Soviet yang penuh gejolak. Pembunuh bayaran mendominasi berita utama, militernya tidak mampu membeli kaus kaki untuk prajuritnya, dan anggarannya masih bergantung pada pinjaman luar negeri. Dengan Presiden Putin, saat ini terlihat lebih tak terkalahkan daripada sebelumnya.

Oleh: Angela Charlton dan Naira Davlashyan (AP/The Washington Post)

Vladimir Putin dan Rusia-nya saat ini terlihat lebih tak terkalahkan daripada sebelumnya, dalam 18 tahun kekuasaan presiden tersebut.

    Baca Juga : Impian Global China Berarti Mimpi Buruk bagi Tetangga-tetangganya

Sejak Putin memenangkan pemilu terakhirnya pada tahun 2012, Rusia telah menginvasi Ukraina, mencaplok Krimea, menghembuskan bom di Suriah, dituduh ikut campur dalam pemilihan presiden AS, dan mengklaim memiliki senjata nuklir baru yang menyeramkan.

“Dulu tidak ada yang mendengarkan kami. Kalian mendengarkan kami sekarang,” katanya awal bulan ini, membual tentang senjata itu.

Putin dipastikan akan memenangkan pemilu kembali sebagai presiden pada 18 Maret. Jadi mengapa repot-repot mengadakan pemilu?

Dia meremehkan demokrasi sebagai sesuatu yang berantakan dan berbahaya—namun dia sangat menginginkan legitimasi yang diberikan oleh sebuah pemilu. Dia membutuhkan bukti nyata bahwa orang-orang Rusia membutuhkan dia dan visi besarnya daripada kebebasan yang telah dia hengkam, kegagalannya dalam memberantas korupsi endemik, sanksi yang dia dapat karena tindakannya di Krimea dan Ukraina.

“Setiap otokrat mendambakan cinta,” kata analis Andrei Kolesnikov dari Carnegie Moscow Center, dan Putin mendapat cinta itu “dari tingginya dukungan dalam pemilihan umum.”

Diharapkan untuk bisa memenangkan sebanyak 80 persen suara, Putin selanjutnya akan memperkuat kewibawaannya atas Rusia, sosok mirip Raja dengan lapisan pernis demokrasi.

Selama 14 tahun menjadi presiden dan empat tahun sebagai perdana menteri negara terbesar di dunia, Putin telah mengubah citra global Rusia, memperkuat kekuatan politik dan ekonominya dan memenjarakan penentangnya. Dia telah menawarkan suaka kepada Edward Snowden, membungkam ekstremisme di Chechnya yang telah lama tidak patuh, menjadi tuan rumah Olimpiade yang sangat mahal, dan memenangkan hak untuk mengikuti Piala Dunia tahun ini.

Kini umurnya 65 tahun, namun dia tidak berencana untuk pensiun dalam waktu dekat.

Untuk siswa sejarah seni yang berumur 19 tahun, Maria Pogodina, “Putin adalah seluruh kehidupan sadar saya, jadi jelas saya harus banyak mengucapkan terima kasih.”

Namun Pogodina mengkhawatirkan beberapa kebijakannya saat dia bersiap untuk memilih dan berharap dapat melihat perubahan secara bertahap.

“Saya tidak berbicara tentang revolusi, tidak mungkin,” kata remaja itu, menyimpulkan sikap kebanyakan orang Rusia dari segala umur. “Saya berharap dan percaya itu tidak akan terjadi dan bahwa kita dapat menghindari konflik sipil.”

Putin dan Trump Perparah Persaingan Senjata Nuklir Dunia

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan saat mereka mengambil bagian dalam foto bersama di pertemuan APEC di Danang, Vietnam pada 10 November 2017. (Foto: Sputnik/Mikhail Klimentyev/Kremlin via Reuters)

Pemilu tersebut akan mengkonfirmasi argumen Putin bahwa untuk memperbaiki kehidupan di Rusia, negara ini membutuhkan kesinambungan daripada perubahan drastis, media independen, oposisi politik, aktivisme lingkungan, atau hak untuk homoseksual dan minoritas lainnya.

Rusia akan tetap bergantung pada harga minyak, dan 144 juta orang akan tetap lebih miskin dari yang seharusnya—dan banyak yang akan tetap yakin bahwa dunia berniat untuk untuk menangkap mereka.

Misi terpenting Putin dalam enam tahun ke depan yaitu menyusun rencana untuk apa yang akan terjadi ketika masa jabatan berikutnya berakhir pada 2024: Akankah dia akan memoles penggantinya atau menciptakan sebuah skema yang memungkinkan dia untuk tetap memegang kendali?

Putin yang sangat berkuasa saat ini sangat mirip dengan pria yang mengambil langkah pertama tentatifnya sebagai presiden menjelang milenium baru.

Ditugaskan untuk menggerakkan pengunduran diri Boris Yeltsin sebagai presiden, Putin masuk ke kantor barunya pada 31 Desember 1999, dengan setelan jas yang tampak terlalu besar untuk pundaknya. Latar belakang KGB-nya di mana dia mempunyai jabatan yang rendah membuat dia tampak licik, dan banyak orang Rusia menganggapnya sebagai boneka oligarki yang kemudian menarik senar Kremlin.

Rusia dahulu masih berupaya untuk bangkit dari keterpurukan pasca-Soviet yang penuh gejolak. Pembunuh bayaran mendominasi berita utama, militernya tidak mampu membeli kaus kaki untuk prajuritnya, dan anggarannya masih bergantung pada pinjaman luar negeri.

Delapan belas tahun kemudian, teman-teman Putin menjalankan ekonomi negara tersebut dan militer Rusia bangkit kembali.

Seluruh generasi tidak pernah mengenal Rusia tanpa Vladimir Vladimirovich Putin yang bertanggung jawab. Dan meningkatnya jumlah pemimpin negara lainnya – termasuk Presiden Donald Trump – yang berusaha untuk menyaingi mentalitas benteng nasionalisnya.

Media Rusia yang dulu penuh semangat telah sunyi. Propaganda Kremlin sekarang memiliki pemirsa global, melalui jaringan RT dan Sputnik yang jangkauannya luas.

Namun saat Putin terlihat kebal di permukaan, dia punya alasan untuk khawatir.

Kremlin menyerang investigasi korupsi pemimpin oposisi Alexei Navalny yang baru-baru ini, karena khawatir mereka dapat memicu kegemparan publik. Dan pertarungan demi suksesi mengancam perpecahan yang merusak dalam lingkaran dalam Putin.

Sementara itu, pemuda Rusia yang kecewa bisa berbalik melawannya. Beberapa telah bergabung dengan demonstrasi Navalny; Yang lain tidak akan repot-repot memilih, diam-diam melemahkan kekuatannya.

Seiring Putin menghadapi tantangan di negaranya sendiri, dia mengharapkan rasa hormat dari luar negeri untuk  Rusia.

“Lingkungan internasional adalah instrumen utama baginya untuk mengelola tantangan domestik tersebut,” kata Matthew Rojansky, direktur Institut Kennan di Washington. “Dia bisa mendeklarasikan sesuatu seperti intervensi Suriah atau sesuatu di ruang pasca-Soviet.”

Dan Putin yang baru terpilih kemungkinan akan melanjutkan hubungan Perang Dingin dengan Amerika Serikat yang dipimpin oleh Trump.

Rusia menganggap penyelidikan dugaan campur tangan dalam pemilihan AS sebagai kebohongan – tetapi juga sebagai pertanda bahwa Rusia berperan penting lagi, dan bahwa orang Amerika terobsesi untuk melemahkan Rusia dengan segala cara.

“Apakah AS memperlakukan Rusia sederajat? Apakah mereka menganggap Rusia dengan serius? Itu adalah tolok ukur yang sangat penting” untuk orang Rusia, kata Rojansky. “Mereka tidak mengukur standar mereka terhadap China.”

Sejak seorang diplomat terkemuka AS terekam memberi instruksi kepada tokoh oposisi Ukraina, orang-orang Rusia telah yakin bahwa pemerintah AS menyebabkan konflik Ukraina dengan mengacaukan halaman belakang Rusia, dan bahwa Amerika bertanggung jawab atas konflik selanjutnya. Hal itu telah membunuh ribuan orang dan masih belum terselesaikan.

    Baca Juga : Opini: Mengapa China akan Unggul dalam Perlombaan Senjata Nuklir

Perluasan Rusia terhadap Krimea menyebabkan sanksi AS dan Uni Eropa, sehingga popularitas Putin melonjak.

Krimea dianggap sebagai kemenangan terbesar Rusia di era Putin, pemulihan kekuasaan dan pembenaran kesalahan historis. Untuk mengantarkan pesan tersebut ke negara sendiri, pemilihan 18 Maret diadakan pada ulang tahun keempat pengambilalihan tersebut.

Terakhir kali Putin menghadapi pemilu, dia juga mendapat kemenangan namun berada di landasan yang lebih bergejolak. Sebuah gerakan yang dipimpin oleh Navalny telah membawa massa ke jalan-jalan di Moskow dan kota-kota lain, karena kelas menengah terdidik menusuk visi Putin yang terbelakang.

Sejak saat itu, Navalny telah ditangkap berulang kali dan dilarang mencalonkan diri sebagai presiden karena hukuman kriminal yang dianggap didorong oleh kepentingan politis. Tokoh oposisi lainnya juga telah dikesampingkan, seperti milyarder Mikhail Khodorkovsky, yang menghabiskan 10 tahun penjara karena tuduhan penipuan pajak dipandang sebagai hukuman karena ambisi politik. Dia sekarang tinggal di luar negeri.

Sementara itu, masalah Rusia terus terus berlanjut.

Putin hampir tidak peduli dengan kampanye. Namun ketika dia melakukannya, dia menjanjikan masa depan yang lebih cerah, secara implisit mengakui keadaan sekarang yang masih tidak bersemangat.

Dengan sekitar 20 juta orang Rusia yang saat ini hidup di bawah garis kemiskinan resmi sekitar $ 180 per bulan, dia menjanjikan upah dan pensiun yang lebih tinggi. Dia ingin perawatan kesehatan yang lebih baik untuk meningkatkan harapan hidup dari 73, beberapa tahun di bawah tingkat Eropa.

Kegagalan peluncuran luar angkasa baru-baru ini telah menarik perhatian pada masalah industri kedirgantaraan yang masih berjuang, yang pernah menjadi pilar kebanggaan Soviet, dan dia juga ingin Rusia mengejar teknologi robot dan kecerdasan artifisial.

“Untuk membuatnya lebih ringan, Putin akan memiliki banyak hal yang harus dilakukan dalam masa jabatan berikutnya,” kata Kolesnikov.

Terutama, dia harus memastikan bahwa negaranya bisa hidup lebih lama darinya.

Ilmuwan politik Dmitry Oreshkin bertanya, “cepat atau lambat tidak akan ada Putin, dan pada saat itu, apa yang akan kita lakukan dengan Rusia?”

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Vladimir Putin, ketika masih menjadi kandidat presiden, berbicara dengan perwakilan media berita di sebuah tempat pemungutan suara di Moskow, Rusia, pada tahun 2000. (Foto: Associated Press/File/Alexander Zemlianichenko)

Sumber: www.washingtonpost.com (https://www.washingtonpost.com/world/europe/putins-russia-from-basket-case-to-resurgent-superpower/2018/03/12/26709906-25e2-11e8-a227-fd2b009466bc_story.html?utm_term=.72328f4a077b)

Rusia di Era Putin: Dari Negara Buangan Bangkit Jadi Adidaya

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top