Arab Saudi
Timur Tengah

Rusia Peringatkan Amerika agar Tak Ganggu Suksesi Kerajaan Saudi

Mohammad bin Salman dan Raja Salman bin Abdulaziz meresmikan fase pertama proyek kota Waad Al-Shamal. (Foto: SPA)
Berita Internasional >> Rusia Peringatkan Amerika agar Tak Ganggu Suksesi Kerajaan Saudi

Rusia memperingatkan Amerika Serikat agar tidak menganggu suksesi Kerajaan Saudi. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov, mengatakan bahwa Raja-lah yang membuat keputusan, dan Amerika tidak bisa ikut campur dalam memutuskan siapa yang harus memerintah Arab Saudi. Ia mengatakan bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman memiliki hak untuk mewarisi takhta, ketika Raja Salman yang berusia 82 tahun itu meninggal.

Baca juga: Pembunuhan Khashoggi: Arab Saudi Akan Reformasi Badan-Badan Keamanan

Oleh: Bloomberg/Fortune

Rusia memperingatkan Amerika Serikat (AS) terhadap segala upaya untuk mempengaruhi suksesi kerajaan di Arab Saudi, dan menawarkan dukungannya kepada Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, yang terus berada di bawah tekanan atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Utusan Presiden Vladimir Putin untuk Timur Tengah mengatakan bahwa Pangeran Mohammed memiliki hak untuk mewarisi takhta, ketika Raja Salman yang berusia 82 tahun yang sedang sakit meninggal.

“Tentu saja kami menentang gangguan itu. Rakyat dan kepemimpinan Saudi harus memutuskan sendiri pertanyaan-pertanyaan semacam itu,” Mikhail Bogdanov, yang juga Wakil Menteri Luar Negeri, mengatakan dalam sebuah wawancara di Moskow pada Selasa (25/12). “Raja membuat keputusan, dan saya bahkan tidak bisa membayangkan atas dasar apa seseorang di Amerika bisa ikut campur dalam masalah seperti itu dan berpikir tentang siapa yang harus memerintah Arab Saudi, sekarang atau di masa depan. Ini masalah Saudi. ”

Anggota parlemen senior AS telah menyalahkan putra mahkota itu atas pembunuhan kolumnis Jamal Khashoggi di Turki—sebuah kesimpulan yang mereka katakan didukung oleh Badan Intelijen Pusat (CIA). Pemerintah Saudi telah berulang kali membantah keterlibatan putra mahkota itu, dan mengatakan bahwa Khashoggi dibunuh oleh agen pemerintah dalam sebuah rencana untuk memaksa dia kembali ke Arab Saudi, namun gagal. Rusia mengatakan bahwa pihaknya menerima alasan Saudi tersebut.

Rusia telah membangun hubungan yang semakin dekat dengan Arab Saudi, sejak Raja Salman mengangkat Pangeran Mohammed sebagai ahli warisnya, mengubah pemuda berusia 33 tahun itu menjadi penguasa de facto kerajaan yang kaya minyak itu. Kedua negara telah bekerja sama dalam membatasi produksi minyak untuk mendukung harga di bawah pengaturan OPEC+, dan Putin dijadwalkan akan mengunjungi Arab Saudi tahun depan.

Ada Apa dengan Jabat Tangan Hangat Putin dan bin Salman di G20?

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman bertemu pada KTT G20 di Buenos Aires, Argentina. (Foto: AFP)

Bulan lalu saat KTT G-20 di Argentina, Putin dan Pangeran Mohammed saling menyapa dengan senyum lebar dan jabat tangan yang hangat, bahkan ketika putra mahkota Saudi itu menghadapi sambutan dingin dari para pemimpin lain setelah pembunuhan Khashoggi.

Setelah satu-satunya saudara lelaki Raja Salman yang masih hidup, Pangeran Ahmed, kembali ke Arab Saudi dari London pada akhir Oktober, muncul spekulasi bahwa anggota keluarga kerajaan Saudi yang tidak puas mungkin berupaya untuk mencalonkan Ahmed—paman putra mahkota itu—sebagai raja selanjutnya, alih-alih putra mahkota itu. Pangeran Mohammed telah terus mengumpulkan lebih banyak kekuatan sejak dia menjadi pewaris takhta pada tahun 2017, mengesampingkan para pesaingnya.

Baca juga: Hubungan Terselubung Saudi-Israel Terhambat Pasca-Pembunuhan Khashoggi

Para pejabat senior AS mengindikasikan bahwa mereka mungkin mendukung Pangeran Ahmed sebagai raja, lapor Reuters bulan lalu, mengutip orang-orang yang tak disebutkan namanya, yang dekat dengan pengadilan Saudi. Walaupun Presiden Donald Trump telah berusaha untuk menekankan pentingnya aliansi AS dengan Arab Saudi, namun para senator terkemuka menentang putra mahkota itu—salah satunya adalah Lindsey Graham dari Partai Republik—yang menggambarkannya sebagai “gila” dan “berbahaya.”

Saat ditanya apakah Pangeran Mohammed memiliki hak untuk menggantikan ayahnya, Bogdanov berkata: “Tentu saja. Semua sudah diputuskan, semuanya benar-benar jelas. Kami berhubungan dengan Saudi dan kami tidak melihat ada kekhawatiran khusus tentang ini.”

Keterangan foto utama: Mohammad bin Salman dan Raja Salman bin Abdulaziz meresmikan fase pertama proyek kota Waad Al-Shamal. (Foto: SPA)

Rusia Peringatkan Amerika agar Tak Ganggu Suksesi Kerajaan Saudi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top