Sanksi Amerika Terhadap Iran
Global

Sanksi AS Panaskan Suasana Ekonomi Iran Menjadi Ledakan Protes Masif

Home » Featured » Global » Sanksi AS Panaskan Suasana Ekonomi Iran Menjadi Ledakan Protes Masif

Bahkan sebelum sanksi Amerika terhadap Iran diberlakukan, protes besar dan dalam beberapa hal yang belum pernah terjadi sebelumnya menyebar dari Teheran ke banyak kota besar lainnya di seluruh Iran, dengan para demonstran melantunkan kata-kata melawan para ulama yang berkuasa dan cengkeraman lama mereka di Iran. Setelah sanksi berlaku,para analis memiliki pandangan yang terbagi tentang apakah kemarahan rakyat atas inflasi dan pengangguran akan diarahkan pada pemerintah di Iran atau justru di AS.

Baca juga: Sanksi AS Terhadap Iran: Peringatan Trump pada Mitra Dagang

Ditulis oleh Keith Johnson

Ketika gelombang pertama sanksi Amerika Serikat diberlakukan kembali terhadap Iran mulai hari Selasa (7/8) di tengah meningkatnya protes jalanan atas bencana ekonomi negara tersebut, para analis memiliki pandangan yang terbagi tentang apakah kemarahan rakyat atas inflasi dan pengangguran akan diarahkan pada pemerintah di Iran atau justru di AS.

Sanksi-sanksi tersebut, yang diberlakukan sebagai bagian dari penarikan pemerintah AS dari perjanjian nuklir dengan Iran pada bulan Mei 2018, meliputi batasan pada transaksi dolar dan perdagangan dalam berbagai barang industri. Mereka merupakan bagian pertama dari kampanye tindakan AS yang terus meningkat melawan rezim Islam Iran, yang bergerak setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran.

Bahkan sebelum sanksi As terhadap Iran diberlakukan, protes besar dan dalam beberapa hal yang belum pernah terjadi sebelumnya menyebar dari Teheran ke banyak kota besar lainnya di seluruh Iran, dengan para demonstran melantunkan kata-kata melawan para ulama yang berkuasa dan cengkeraman lama mereka di Iran.

“Kami melihat adanya kenaikan signifikan dalam aksi protes. Gelombang pertama terjadi pada bulan Desember 2017 dan Januari 2018, kemudian gelombang aksi protes lainnya terjadi selama beberapa minggu terakhir terkait dengan mata uang yang telah diambil alih selama satu bulan terakhir atau lebih,” ujar Naysan Rafati, seorang analis Iran di International Crisis Group.

Iran melakukan perburuan di Barat, yang telah lama menganjurkan perubahan rezim, melihat kerusuhan sebagai tanda bahwa dukungan rakyat bagi ulama yang berkuasa secara serius telah mengalami pengikisan. Dewan Perlawanan Nasional Iran, kelompok pengasingan yang berbasis di Paris, Prancis yang selama beberapa dekade telah menentang kepemimpinan ulama di Teheran, mengatakan bahwa ujaran para demonstran seperti “turunlah para mullah” mencerminkan berkembangnya penolakan publik yang kekacauan dalam kebijakan politik dan ekonomi Iran.

Protes tersebut tampaknya lebih luas daripada tahun-tahun sebelumnya. Tidak seperti protes Gerakan Hijau kelas menengah yang mengguncang Iran pada tahun 2009, gelombang saat ini tampaknya telah melanda para pekerja kerah biru yang merupakan basis dukungan politik tradisional pemerintah. Wanita semakin berani, bahkan dalam banyak kasus merobek lepas jilbab mereka saat mengikuti aksi protes.

“Apa yang dimulai sebagai protes ekonomi telah berubah menjadi tantangan sosial dan politik yang luas terhadap rezim,” kata Mark Dubowitz, kepala eksekutif Yayasan Pertahanan Demokrasi, sebuah lembaga diskusi Washington yang telah membantu mendorong AS menjadi lebih keras terhadap Iran.

“Anda akan mendengar teriakan ‘Kematian bagi Khamenei,’ ‘Kematian bagi Rouhani,’ ‘Matinya rezim.’ Kami belum pernah melihat tantangan langsung semacam ini kepada rezim sejak tahun 1979 dan Revolusi Islam,” katanya.

Namun, pihak yang lain percaya bahwa serangan ekonomi AS yang baru dapat benar-benar meruntuhkan pandangan yang diusung para pengunjuk rasa dan memperkuat perilaku buruk yang tengah dicoba dibatasi oleh pemerintah AS.

“Sanksi cenderung membesar tanpa peduli apapun rezim targetnya, dan itulah yang akan terjadi di Iran,” kata Steve Hanke, ekonom di Universitas Johns Hopkins. Untuk menghindari sanksi dan mempertahankan kekuasaan mereka di Iran, pemerintah dan Korps Garda Revolusi Islam hanya akan melipatgandakan kegiatan ilegal yang telah mereka gunakan di masa lalu.

“Secara realistis, hal itu hanya akan membuahkan kekejaman dan lebih banyak kriminalitas,” katanya.

Kemarahan rakyat terhadap kinerja ekonomi pemerintah yang suram, termasuk korupsi, pengangguran, dan inflasi tinggi, bukanlah hal baru. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan setelah protes pada bulan Januari 2018 menemukan bahwa hampir dua pertiga rakyat Iran menyalahkan kekacauan domestik lebih daripada sanksi asing bagi keadaan negatif ekonomi di Iran.

Namun dalam jajak pendapat yang sama, lebih dari tiga perempat responden mengatakan mereka “agak tidak setuju” atau “sangat tidak setuju” bahwa Iran membutuhkan perubahan politik yang sistematis, sementara sekitar dua pertiga mengatakan mereka akan menentang konsesi ke AS.

“Terdapat perbedaan tipis antara politik dan ekonomi di negara yang ekonominya didominasi oleh pemerintah,” ujar Rafati dari International Crisis Group. “Tetapi Anda tidak dapat mengatakan bahwa setiap protes ekonomi merupakan protes pre-revolusi.”

Berbeda dengan Gerakan Hijau, yang memiliki tuntutan politik yang lebih kohesif, gelombang saat ini “belum benar-benar menyatu menjadi gerakan sistematis dengan politik yang secara eksplisit melawan pemerintah,” katanya.

Namun, pengamat mengatakan protes ini tampak berbeda dari yang sebelumnya, ketika rakyat berharap pemerintah dapat mengatasi keluhan ekonomi. Sekarang, para peserta tampak jenuh dengan sistem itu sendiri.

“Tahun ini kami telah melihat banyak krisis kecil meledak dengan latar belakang satu krisis ekonomi besar, dengan rezim yang jelas tidak memiliki jawaban untuk itu,” kata Matthew Reed, wakil presiden dari lembaga konsultan energi Foreign Reports. “Semua ini memperkeruh krisis legitimasi, tetapi belum menjadi krisis eksistensial.”

Malaise ekonomi Iran saat ini merupakan kombinasi dari kelemahan jangka panjang dan internal, serta  kembalinya sanksi AS yang mengancam untuk menutup Iran keluar dari sistem keuangan global dan menyumbat sebagian besar ekspor minyaknya. Sejak Revolusi Islam tahun 1979, mata uang Iran telah kehilangan lebih dari 99 persen nilainya, kata Hanke, sementara inflasi umumnya pada berada dalam angka dua digit.

Sebagian besar perekonomian Iran dijalankan oleh pemerintah atau badan-badan terkait seperti Korps Garda Revolusi. Korupsi merupakan penyakit endemik. Kemarahan rakyat atas ekonomi yang mengerikan menyeret Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pertaruhan pemilu pada tahun 2013 dan 2017.

Sekarang, setelah hiatus berlangsung hampir dua tahun, sementara kesepakatan nuklir telah berlaku, tekanan eksternal kembali naik. Dalam menarik diri dari perjanjian nuklir musim semi ini, administrasi Trump menjanjikan sanksi ekonomi “paling keras” bagi negara tersebut.

Bagi administrasi Trump, kesakitan ekonomi semacam itu tidak terelakkan: Pola pemikirannya ialah bahwa tekanan maksimum pada titik lemah rezim akan memaksa Iran kembali ke meja perundingan untuk menegosiasikan pakta baru yang lebih luas yang dapat mengendalikan program senjata nuklir Iran, program misilnya, serta keterlibatannya dalam konflik di kawasan Timur Tengah.

“Administrasi Trump merasakan bahwa ekonomi merupakan kelemahan Rouhani dan sistem Iran secara keseluruhan,” kata Rafati dari ICG. “Mereka rela meruntuhkan segalanya untuk membuatnya lebih akut.”

Seorang pejabat pemerintah AS mengatakan pada hari Senin (6/8) bahwa pemerintah Iran memikul tanggung jawab atas protes yang telah mengguncang negara itu.

“Ketika Iran mengeluarkan sumber daya luar biasa pada petualangan asingnya, rakyatnya menjadi semakin frustrasi, dan kami melihat bahwa frustrasi tersebut diekspresikan dalam bentuk protes di seluruh negeri,” kata pejabat itu, menepis kekhawatiran bahwa sanksi AS dapat menyalurkan ketidakpuasan terhadap Amerika.

Hanya momok sanksi AS yang diperbarui terhadap ekspor minyak Iran, yang akan dimulai pada bulan November 2018, telah memberikan hantaman terhadap mata uang Iran. Sebagian besar pembeli minyak Iran telah mengindikasikan bahwa mereka akan mengurangi pembelian minyak mentah Iran untuk menghindari pembalasan dari AS (meskipun tidak demikian bagi konsumen terbesarnya, China). Hal itu memicu kekhawatiran bahwa pendapatan pemerintah Iran akan segera menyusut, yang berarti defisit anggaran yang lebih besar.

Iran, terkurung dari pasar modal global dan tidak dapat beralih ke bank lokal, membayar defisit anggaran pada dasarnya dengan mencetak uang, yang menciptakan laju inflasi. Sementara angka resmi menunjukkan tingkat inflasi tahunan sekitar 10 persen, para ahli dari luar memperkirakan angka yang sebenarnya jauh lebih tinggi, setara dengan hari-hari tergelap masa kepresidenan Mahmoud Ahmadinejad.

Baca juga: Iran Bereaksi Terhadap Sanksi Amerika Saat Realitas Baru Mulai Menyiksa

“Mereka pada dasarnya menyalakan mesin cetak uang dan mendorong inflasi,” kata Hanke, yang memperkirakan bahwa inflasi Iran yang sebenarnya berjalan sekitar 186 persen dari tahun ke tahun.

Para ahli berharap bahwa kembalinya sanksi AS akan meningkatkan keresahan publik.

“Ketika sanksi kembali, saya pikir Anda akan menyaksikan lebih banyak demonstrasi,” kata Alireza Nader, seorang analis Iran independen. “Tetapi hal ini bukan hanya tentang ekonomi—sebagian besar orang membenci Republik Islam.”

Dia mencatat bahwa revolusi tahun 1979 dipicu oleh protes massa dan pemogokan, serta mengatakan bahwa dia melihat dinamika serupa yang tengah bekerja saat ini.

Administrasi Trump mengatakan bahwa tujuannya bukan perubahan rezim, tetapi perubahan perilaku. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada hari Minggu (5/8) mengatakan bahwa pemerintah AS perlu melihat “perubahan besar” dari pemerintah Iran sebelum meringankan sanksi, menambahkan bahwa tujuan Trump adalah untuk membuat Iran “berperilaku seperti negara normal.”

Tetapi memaksa Iran mungkin kan lebih sulit daripada selama periode 2012-2015, ketika pemerintahan mantan Presiden AS Barack Obama meletakkan dasar untuk kesepakatan nuklir. Kebebasan politik Rouhani untuk kembali menawarkan konsesi kepada AS dan negara-negara besar lainnya kini terbatas, setelah kesulitannya dalam mengatasi perlawanan garis keras terhadap kesepakatan tahun 2015.

“Rouhani telah melalui banyak modal politik untuk melakukan transaksi sekali, dan untuk kembali pada posisi kelemahan yang dirasakan, hal itu bukan hanya pertaruhan politik besar, tetapi lebih dari itu,” kata Rafati.

Dia mengatakan, protes itu bisa mendorong rezim Iran untuk akhirnya mengatasi penyakit ekonomi yang telah lama melanda Iran, seperti korupsi, pengangguran, atau sektor perbankan yang hampir mati.

Namun, Dubowitz mencemooh gagasan bahwa warga Iran yang telah mempertaruhkan nyawa dalam beberapa hari terakhir untuk menentang rezim akan mengubah dukungan mereka kepada para ulama hanya karena tekanan ekonomi dari luar.

“Satu-satunya dukungan rakyat yang mungkin terjadi ialah terhadap bendera pre-revolusi,” kata Dubowitz.

Keith Johnson merupakan koresponden Foreign Policy untuk geoekonomi global.

 

Sanksi AS Panaskan Suasana Ekonomi Iran Menjadi Ledakan Protes Masif

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top