Kasus Keracunan Mata-mata: Rusa Tuduh Inggris 'Karang Cerita Palsu' dan 'Bermain Api'
Amerika

Sanksi Rusia Lebih Berat Setelah Serangan Racun Saraf Skripal

Home » Featured » Amerika » Sanksi Rusia Lebih Berat Setelah Serangan Racun Saraf Skripal

Amerika Serikat kini memberlakukan sanksi kepada teman tapi lawannya, Rusia. Sanksi Rusia ini diberikan sehubungan kasus serangan racun saraf (nerve agent) pada seorang mata-mata Rusia, Sergei Skripal dan putrinya, Yulia Skripal. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert mengatakan, Rusia telah melakukan pelanggaran hukum internasional. 

Oleh: Eli Watkins dan Nicole Gaouette (CNN)

Baca Juga: Amerika Menarik Diri, Suriah Jadi Rentan terhadap Rusia dan Iran

Pemerintahan Trump akan memberlakukan lebih banyak sanksi pada Rusia di bawah undang-undang perang kimia dan biologi setelah keracunan mantan agen Rusia dan putrinya di Inggris awal tahun ini, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengumumkan Rabu (8/8).

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert mengatakan AS telah membuat keputusan ini pada hari Senin (6/8), dan menuduh Rusia melakukan pelanggaran hukum internasional. Pernyataan itu akan disusul dengan pemberlakuan sanksi akan mulai berlaku tanggal 22 Agustus, sesuai dengan Undang-Undang Kontrol Senjata Kimia dan Biologi dan Penghapusan Perang tahun 1991.

Sergei Skripal, mantan mata-mata Rusia, dan putrinya Yulia Skripal dirawat di rumah sakit dan telah pulih setelah serangan racun saraf (nerve agent) pada bulan Maret lalu. Yulia Skripal keluar dari rumah sakit pada bulan April, dan ayahnya keluar pada bulan Mei.

Di hari Rabu yang sama, Departemen Luar Negeri memberitahu Kongres mengenai sanksi tahap pertama dari dua tahap sanksi berdasarkan undang-undang tahun 1991. Kecuali Rusia mengambil langkah-langkah tertentu, sanksi tahap kedua—lebih ketat daripada tahap pertama—akan menyusul, sesuai dengan undang-undang.

Sanksi tahap pertama menargetkan beberapa barang-barang ekspor AS ke Rusia yang dapat digunakan untuk keperluan militer—disebut juga dengan teknologi penggunaan ganda. Barang-barang ini merupakan barang-barang yang sensitif yang biasanya melalui tinjauan kasus per kasus sebelum diekspor. Dengan berlakunya sanksi ini, ekspor akan ditolak.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri juga mengatakan akan ada pengurangan ekspor mobil.

AS kemudian akan meminta Rusia untuk berjanji dalam 90 hari ke depan bahwa mereka tidak akan lagi menggunakan senjata kimia atau biologi. Selain itu, syarat yang tercantu dalam undang-undang itu menyebutkan bahwa Rusia harus mengizinkan inspektur untuk memastikan kepatuhan akan undang-undang tersebut.

Pejabat itu mengatakan bahwa jika Rusia tidak patuh, AS “akan memberlakukan sanksi tahap kedua sebagaimana ditentukan oleh undang-undang.”

Menanggapi berita tersebut, Dmitry Polyanskiy, wakil pertama duta besar Rusia untuk PBB, menolak sanksi tersebut di Twitter pada hari Rabu (8/8).

“Ketidakjelasan terus berlangsung. Tidak ada bukti, tidak ada petunjuk, tidak ada logika, tidak ada praduga bersalah, hanya dugaan. Hanya ada satu aturan: menyalahkan Rusia atas segala sesuatu, tidak peduli seberapa tidak masuk akal dan palsu dugaan itu. Mari kita sambut Sanksi Amerika!” kata Polyanskiy melalui akun Twitter-nya.

Inggris menyambut keputusan AS ini pada hari Rabu (8/8). Dalam sebuah pernyataan singkat, juru bicara pemerintah mengatakan, “Tanggapan internasional yang kuat terhadap penggunaan senjata kimia di jalanan kota Salisbury akan memperingatkan Rusia bahwa perilaku provokatif dan sembronoannya tidak akan dibiarkan.”

Akan ada sanksi yang lebih memberatkan

Seorang mantan pejabat Departemen Pertahanan, Mark Simakovsky, mengatakan bahwa sanksi tahap kedua akan menargetkan ekspor Rusia ke AS dan secara teoritis dapat mencakup penerbangan oleh maskapai penerbangan milik pemerintah, Aeroflot, serta penurunan hubungan diplomatik.

Simakovsky mengatakan dia curiga pada sanksi tahap kedua. Ia menambahkan, “Saya pikir akan ada sanksi yang lebih memberatkan” karena tekanan politik, kritik dari partai Demokrat dan pemilihan paruh waktu yang akan segera dilangsungkan.

Baca Juga: Militer China Gantikan Rusia Sebagai Saingan Utama Amerika Serikat

“Saya sangat curiga pemerintah akan memotong berbagai macam impor dan ekspor, tetapi itu adalah hal yang menarik,” kata Simakovsky. “Apa yang akan dilakukan pemerintah dalam tiga bulan ke depan?”

Sanksi di bawah undang-undang tahun 1991 ini telah diterapkan di masa lalu terhadap Suriah karena penggunaan senjata kimia pada tahun 2013 dan terhadap Korea Utara karena penggunaan agen saraf VX di bandara Malaysia selama pembunuhan saudara laki-laki Kim Jong Un.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa tahap pertama sanksi ini dapat “berdampak besar pada perekonomian Rusia.” Pejabat itu juga mengatakan perusahaan-perusahaan yang terkena dampak sanksi ini mencakup 70 persen ekonomi Rusia dan 40 persen tenaga kerjanya.

“Ada kemungkinan terjadinya kerugian dalam perdagangan yang mencapai ratusan juta dolar,” kata pejabat senior tersebut. Dia menambahkan bahwa “hal itu juga tergantung pada entitas Rusia untuk ekspor.”

Simakovsky mengatakan dia “skeptis terhadap jumlah yang tinggi” dari perkiraan itu.

Ia menilai bahwa sanksi tersebut kemungkinan didorong oleh iklim politik, terutama tekanan yang berasal dari kinerja Presiden Donald Trump pada bulan Juli di pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki, Finlandia.

“Ini jelas menegaskan bahwa pemerintah sedang memperketat pendekatan sanksi terhadap Rusia,” katanya. Dia mengatakan bahwa “mereka bisa saja mengambil keputusan ini berbulan-bulan yang lalu. Mereka terlambat berbulan-bulan.

Fakta bahwa sekarang mereka memutuskan untuk melakukannya menunjukkan bahwa mereka sedang berada di bawah tekanan politik yang meningkat untuk menargetkan Rusia karena kegiatannya yang jahat di luar negeri.”

Penyangkalan sebelumnya, pengusiran diplomatik

Putin sebelumnya membantah bahwa Rusia yang berada di balik kasus keracunan racun saraf Novichok tersebut, dengan mengatakan pada bulan Maret bahwa “tidak terpikirkan oleh kami untuk melakukan hal seperti itu.”

Trump menanggapi kasus keracunan itu dengan mengatakan bahwa “kasus keracunan itu jelas terlihat seperti” tindakan Rusia, dan mantan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson turut mengatakan bahwa AS “sangat yakin” dengan penyelidikan yang dilakukan oleh Inggris dan kesimpulannya bahwa Rusia bersalah.

Pengumuman hari Rabu (8/8) tersebut menegaskan kembali tuduhan AS bahwa Rusia telah menggunakan racun Novichok terhadap warga negaranya sendiri.

Pada akhir Maret, Trump mengusir 60 diplomat Rusia lagi dari AS sebagai bagian dari tanggapan global terhadap serangan itu—sebuah tanggapan serupa juga dilakukan oleh negara-negara lain. Pemerintah Rusia menanggapi tindakan internasional ini dengan memerintahkan pengusiran para diplomat asing dari Rusia.

 

Radina Gigova dan Sebastian Shukla dari CNN berkontribusi dalam laporan ini.

Sanksi Rusia Lebih Berat Setelah Serangan Racun Saraf Skripal
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top