Krisis Kesehatan
Berita Politik Indonesia

Sebulan Pasca Gempa dan Tsunami, Palu Hadapi Krisis Kesehatan

Sebulan Pasca Gempa dan Tsunami, Palu Hadapi Krisis Kesehatan

Pihak berwenang pada pekan lalu menghujani bagian Palu yang paling parah terdampak bencana dengan desinfektan dari atas helikopter, di tempat sekitar 5.000 mayat yang busuk dikhawatirkan terkubur di bawah reruntuhan. Kota Palu dan daerah sekitarnya tengah menghadapi krisis kesehatan, dengan ancaman malaria dan demam berdarah yang mengintai. Tanggal 28 September 2018, gempa berkekuatan 7,5 skala Richter dan tsunami mengguncang wilayah Palu di pulau Sulawesi, menewaskan sekitar 2.200 orang dan menyebabkan lebih dari 220.000 orang menjadi pengungsi.

Baca juga: Bantuan Mulai Mengalir, Tim Penyelamat Berjuang Lawan Penyakit dari Mayat yang Membusuk

Oleh: France 24/AFP

Kota Palu di Indonesia yang baru saja dihantam tsunami dan gempa bumi kini tengah menghadapi krisis kesehatan masyarakat karena hujan deras mengancam untuk menyebarkan malaria dan demam berdarah ke wilayah yang hancur dalam waktu sebulan setelah bencana, demikian peringatan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia. Tanggal 28 September 2018, gempa berkekuatan 7,5 skala Richter dan tsunami mengguncang wilayah Palu di pulau Sulawesi, menewaskan sekitar 2.200 orang dan menyebabkan lebih dari 220.000 orang menjadi pengungsi.

Ribuan orang lainnya masih hilang dan diduga telah tewas, setelah seluruh lingkungan ditelan oleh likuifaksi, sebuah proses di mana gempa kuat membuat tanah menyerupai cairan dan mengubahnya menjadi semacam pasir apung. Putus asa untuk mencegah tersebarnya penyakit, pihak berwenang pada pekan lalu menghujani bagian Palu yang paling parah terdampak bencana dengan desinfektan dari atas helikopter, di tempat sekitar 5.000 mayat yang busuk dikhawatirkan terkubur di bawah reruntuhan.

Badan mitigasi bencana Indonesia mengatakan langkah itu sangat penting untuk mencegah perkembangbiakan lalat, kecoa, dan tikus yang membawa penyakit. Tetapi berbagai kelompok bantuan mengatakan bahwa telah terjadi peningkatan kasus diare dan infeksi saluran pernapasan, sementara terdapat dugaan beberapa kasus penyakit yang dibawa nyamuk, termasuk malaria dan demam berdarah. Hujan lebat yang diprediksi untuk beberapa bulan ke depan mengancam akan memperburuk situasi tersebut.

“Sepertinya kita akan melihat semakin banyak orang yang sakit, mengingat betapa sulitnya menjaga standar kebersihan, dengan hujan menyediakan tempat berkembang biak yang sempurna bagi nyamuk, dan dengan ratusan, jika bukan ribuan mayat, diyakini membusuk di dalam tanah,” kata Selina Sumbung, ketua organisasi mitra Save the Children di Indonesia, Yayasan Sayangi Tunas Cilik.

‘Sulit Menjaga Kebersihan’

Ruang bermain yang aman dan sekolah-sekolah sementara telah memberikan beberapa hiburan bagi anak-anak, termasuk banyak anak yatim piatu yang tersisa atau masih terpisah dari orang tua mereka yang masih hidup. Namun, anak-anak berada pada risiko terkena wabah penyakit. Upaya bantuan lokal dan internasional telah dipercepat selama sebulan terakhir setelah penundaan awal memicu penjarahan karena makanan dan air habis.

Sinyal telepon dan listrik telah dipulihkan di banyak tempat yang memiliki toko-toko, restoran, dan pasar yang tetap terbuka. Juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pada hari Jumat (26/10) bahwa beberapa hal “sedang berubah menjadi lebih baik” bagi orang-orang di daerah-daerah yang terkena dampak paling parah. Tetapi banyak tantangan masih tetap ada.

Ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal akibat bencana tersebar di Palu dan sekitarnya. Banyak yang menetap di luar rumah mereka yang hancur atau mengungsi di kamp-kamp sementara dan sepenuhnya tergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup. Air minum yang aman harus diangkut ke dalam perkemahan, sementara terpal, selimut, dan peralatan masih kurang tersedia di beberapa daerah.

Baca juga: Indonesia Belum Belajar dari Gempa dan Tsunami Sebelumnya

“Kami tahu bahwa ketika orang-orang hidup dalam kondisi sementara, di tenda atau di bawah terpal, akan selalu menimbulkan masalah bagi kebersihan,” kata Andreas Weissenberg, ketua tim penilai lapangan Palang Merah di Palu. “Orang-orang tinggal berdekatan sehingga menjadi sulit untuk mempertahankan kebersihan. Mereka mungkin tidak memiliki akses ke air dan kakus.”

Di tempat lain, hujan yang dipengaruhi angin muson telah mengubah jalan menjadi berlumpur dan mengubah lereng menjadi tanah longsor di beberapa daerah terpencil, menghambat akses bagi tim pemberi bantuan. Pihak berwenang Indonesia telah mencabut keadaan darurat pada hari Jumat (28/10), setelah “periode transisi” akan berlanjut sebelum berakhir pada tanggal 25 Desember 2018. Indonesia telah mengatakan bahwa kerugian pada area yang hancur telah mencapai 900 juta Dolar AS sementara Bank Dunia telah menawarkan pinjaman kepada Indonesia hingga sebesar 1 miliar Dolar AS untuk mengembalikan denyut kehidupan di Palu.

Tujuh puluh persen dari Palu telah dibersihkan dan pasokan air akan kembali normal pada bulan Desember 2018, tutur Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola pada hari Kamis (25/10). Lebih dari 1.400 tenda telah didirikan untuk membangun sekolah dan 1.200 tempat penampungan semi permanen, masing-masing dengan selusin kamar, yang diperkirakan akan selesai dalam waktu dua bulan. Bagi banyak orang, kehidupan masih jauh dari kembali normal.

“Saya hanya berharap saya bisa mendapatkan tempat yang layak, serta rumah dan pekerjaan permanen,” kata Abdurrahim Laadu, 65 tahun.

Keterangan foto utama: Putus asa dalam upaya mencegah penyakit, pihak berwenang Indonesia pada pekan lalu meghujani bagian-bagian Palu yang paling parah terdampak bencana dengan desinfektan dari atas helikopter. (Foto: AFP)

Sebulan Pasca Gempa dan Tsunami, Palu Hadapi Krisis Kesehatan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top