Desa Badui di Palestina, Khan al-Ahmar pada 5 Juli 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Thomas Coex)
Timur Tengah

Seiring Deru Bulldozer Penggusuran Israel, Desa Kecil Ini Jadi Simbol Perjuangan Palestina

Desa Badui di Palestina, Khan al-Ahmar pada 5 Juli 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Thomas Coex)
Home » Featured » Timur Tengah » Seiring Deru Bulldozer Penggusuran Israel, Desa Kecil Ini Jadi Simbol Perjuangan Palestina

Sasaran penggusuran Israel yang baru, desa Badui Khan al-Ahmar yang dihuni oleh 173 orang, mungkin tampak sederhana. Tetapi lokasinya yang strategis menempatkannya di jantung konflik selama puluhan tahun antara Israel dan Palestina. Sementara negara-negara Eropa termasuk Irlandia, Prancis dan Inggris telah menentang rencana tersebut, dan kelompok hak asasi manusia mengecam penggusuran paksa penduduk Khan al-Ahmar sebagai kejahatan perang, Amerika Serikat tetap diam.

Baca juga: Pembersihan Etnis ala Israel: Caplok Yerusalem dengan Singkirkan Orang Palestina

Oleh: Loveday morris, Sufian Taha (The Washington Post)

Menggembala domba dan kambing sejak kecil di bukit-bukit di timur Yerusalem, Eid Jahalin tidak pernah menduga suatu hari ia akan melobi di lorong-lorong Kongres Amerika Serikat (AS).

Namun itulah yang terjadi pada warga berusia 51 tahun itu selama minggu lalu, saat gubuk yang ia tinggali terancam digusur oleh buldoser Israel.

Desa Badui Khan al-Ahmar, yang dihuni oleh 173 orang, mungkin tampak sederhana, dengan rumah-rumah yang terbuat dari kayu dan terpal dan dikelilingi oleh kandang hewan. Tetapi lokasinya yang strategis menempatkannya di jantung konflik selama puluhan tahun antara Israel dan Palestina.

Jika Israel menggusur desa dan masyarakat Badui di desa itu dan membangun di desa itu seperti yang telah direncanakan, wilayah Palestina di Tepi Barat yang diduduki akan terbelah menjadi dua, dan sebagian wilayah itu akan terisolasi dari ibukota masa depan di Yerusalem Timur.

Khan al-Ahmar telah melawan penggusuran Israel itu selama beberapa dekade, tetapi Mahkamah Agung Israel telah memutuskan pada bulan Mei bahwa penggusuran itu legal, dan dalam beberapa pekan terakhir, Israel telah mulai mempersiapkan untuk menggusur desa itu dengan buldoser.

Sementara negara-negara Eropa termasuk Irlandia, Prancis dan Inggris telah menentang rencana tersebut, dan kelompok hak asasi manusia mengecam penggusuran paksa penduduk Khan al-Ahmar sebagai kejahatan perang, Amerika Serikat tetap diam.

Para pejabat Palestina mengatakan keheningan AS menjadi lampu hijau untuk penggusuran itu. Pemerintahan Trump, kata mereka, memungkinkan Israel mengikis hak-hak warga Palestina tanpa sedikitpun kecaman.

“Mereka ingin membunuh harapan terakhir kita untuk menjadi sebuah negara,” kata Jahalin. Mantan sopir traktor itu bertemu dengan hampir 30 anggota parlemen AS dari kedua partai selama kunjungannya ke Washington. Kunjungan ini diselenggarakan oleh Rebuilding Alliance, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di California.

Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih mengatakan “masih terlalu dini untuk mengomentari proses hukum yang sedang berlangsung” dan merujuk pertanyaan kepada pemerintah Israel.

“Secara umum, kami terus mendukung kedua belah pihak untuk menciptakan lingkungan yang kondusif demi negosiasi perdamaian yang komprehensif dan abadi,” kata juru bicara itu.

Para pejabat Israel mengatakan orang-orang Badui, orang Arab nomaden yang secara historis suku-sukunya telah lama menjelajahi daerah gurun di Timur Tengah dan Afrika Utara, sedang dimanipulasi oleh pihak berwenang Palestina untuk tujuan politik. Para pejabat mengatakan bahwa penduduk desa Khan al-Ahmar telah ditawari lokasi alternatif, dekat pinggiran Yerusalem Abu Dis.

Namun warga mengatakan mereka bertekad untuk tetap tinggal.

“Saya lahir di sini,” kata Faisal Abu Dahouk (43 tahun) seorang penggembala yang sedang duduk berteduh di jaring di halaman sekolah Khan al-Ahmar, yang dibangun dengan dana dari Uni Eropa.

Sebagian besar penduduk desa itu adalah anggota suku Jahalin, yang diusir militer Israel dari gurun Negev di Israel selatan pada awal tahun 1950-an. Orang-orang Badui Jahalin dipindahkan ke daerah Kfar Adumim di Tepi Barat pada tahun 1952, dan dipindahkan lagi ke lokasi mereka saat ini setelah permukiman Israel dibangun di sana.

Pada tahun 1954, banyak orang Badui yang tinggal di wilayah Israel diberikan kewarganegaraan, tetapi orang Jahalin yang dipindahkan tidak diberi kewarganegaraan. Ribuan orang Israel Bedouin telah menjadi bagian dari Pasukan Pertahanan Israel, banyak sebagai pelacak, tetapi bahkan di Israel, komunitas Badui yang tidak sah hidup di bawah ancaman penggusuran.

Pembatasan Israel telah lama memaksa masyarakat Badui untuk meninggalkan kehidupan nomaden mereka, kata Abu Dahouk. “Israel melarang kami untuk berpindah-pindah, dengan berbagai cara,” katanya. “Ini adalah area militer atau area pendudukan.”

Seorang pria Palestina merawat hewan-hewannya di desa Badui Khan al-Ahmar di Tepi Barat yang diduduki pada 6 Juli 2018. (Foto: Reuters/Mohamad Torokman)

Seorang pria Palestina merawat hewan-hewannya di desa Badui Khan al-Ahmar di Tepi Barat yang diduduki pada 6 Juli 2018. (Foto: Reuters/Mohamad Torokman)

Dari tempat ia duduk, atap merah Kfar Adumim, pemukiman Israel yang didirikan pada tahun 1979, terlihat memenuhi lereng bukit di dekatnya.

“Kami tidak diizinkan membangun satu pun bangunan beton,” katanya. Sekolah desa itu dibangun dari ban dan lumpur untuk menghindari larangan.

Israel menganggap bangunan-bangunan di Khan al-Ahmar ilegal, karena dibangun tanpa izin, meskipun banyak komunitas internasional berpendapat bahwa Kfar Adumim-lah yang dibangun secara ilegal. Penduduk desa Badui mengatakan mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk mendapatkan izin bangunan.

Pemerintah Israel menyediakan lokasi alternatif untuk warga, tetapi warga desa mengatakan lokasi itu tidak layak ditinggali, karena berada di dekat tempat pembuangan sampah dan kurangnya akses ke tanah penggembalaan.

Selama perjuangan mereka, orang-orang Badui telah mengumpulkan dukungan dari satu pihak yang tak terduga: sekelompok warga Kfar Adumim. Artikel majalah Israel yang meliput desa itu musim gugur lalu telah mendorong mereka untuk bertindak, kata Ezra Korman (56 tahun), seorang pemandu wisata. Sekelompok warga berjumlah 41 orang menulis surat untuk mendukung orang-orang Badui yang diserahkan ke pengadilan, mendesak solusi yang dapat diterima oleh keluarga dari Khan al-Ahmar.

“Kami memutuskan kami ingin membantu mereka dari perspektif hak asasi manusia,” kata Korman. “Kami tahu mereka sudah ada di sini sebelum kami tiba di sini. Mereka adalah tetangga kita. ”

Tetapi para pemohon ini merupakan minoritas. Pekan lalu, anggota kelompok sayap kanan berkumpul di puncak bukit yang menghadap ke desa dan berdemonstrasi mendukung penggusuran itu, sambil mengibarkan bendera Israel.

Warga Palestina menentang rencana pembongkaran yang direncanakan di dekat buldoser Israel di desa Badui Khan al-Ahmar dekat Jericho di Tepi Barat yang diduduki pada 4 Juli 2018. (Foto: Reuters/Mohamad Torokman)

Warga Palestina menentang rencana pembongkaran yang direncanakan di dekat buldoser Israel di desa Badui Khan al-Ahmar dekat Jericho di Tepi Barat yang diduduki pada 4 Juli 2018. (Foto: Reuters/Mohamad Torokman)

Penduduk di bawah bukit telah bersiap untuk skenario terburuk, ketika pasukan keamanan menyatakan daerah itu sebagai zona militer tertutup. Jurnalis dan aktivis dilarang memasuki desa. Mereka harus melintasi bukit untuk mencapai desa itu. Buldoser kuning berkeliling saat anak-anak bermain di bawah pohon-pohon di halaman sekolah.

Baca juga: Perampasan Kejam: Israel Kembali Caplok Desa Subur Palestina dan Usir Penduduknya

Akhir pekan lalu, desa itu mendapat penangguhan hukum ketika Mahkamah Agung Israel menerima petisi yang berbeda dengan alasan bahwa pemerintah Israel belum memeriksa rencana warga Khan al-Ahmar untuk desa mereka. Pengadilan memberi negara waktu sampai hari Rabu (11/7). Perintah lanjutan hari Senin (9/7) menunda pemindahan paksa warga desa sampai setidaknya minggu depan.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia sayap kiri berpendapat bahwa penggusuran desa itu merupakan bentuk kejahatan perang. Seorang juru bicara kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak untuk berkomentar, tetapi Israel berpendapat bahwa pemerintah di seluruh dunia juga memindah wilayah dan penduduk.

Bagi penduduk desa, keadaan yang penuh ketidakpastian jangka panjang ini terus berlanjut. “Kami tidur diliputi rasa takut, kami terjaga juga diliputi rasa takut,” kata Tahreer Abu Dahouk (44 tahun) seorang ibu dengan empat anak. “Biarkanlah kami di sini,” katanya. “Ini tempat terbaik untuk kita.

Ruth Eglash di Yerusalem dan Anne Gearan di Washington berkontribusi untuk laporan ini.

Keterangan foto utama: Desa Badui di Palestina, Khan al-Ahmar pada 5 Juli 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Thomas Coex)

Seiring Deru Bulldozer Penggusuran Israel, Desa Kecil Ini Jadi Simbol Perjuangan Palestina
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top