Perang Dingin
Sejarah

Bom Hiroshima: Akhiri Perang Dunia II, Awali Perang Dingin

Presiden Harry Truman, duduk di dekat radio di atas kapal penjelajah USS Augusta, membaca laporan tentang serangan bom atom pertama di Jepang, ketika dalam perjalanan pulang dari Konferensi Potsdam pada 6 Agustus 1945. (Foto: AP)
Berita Internasional >> Bom Hiroshima: Akhiri Perang Dunia II, Awali Perang Dingin

Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945 (yang menewaskan lebih dari 300 ribu orang), tidak hanya mengakhiri Perang Dunia II, tapi juga mengawali Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Pasca-pengeboman itu, AS dan Uni Soviet pun saling berlomba untuk meningkatkan persenjataan pemusnah massal mereka, yang menjadi awal dimulainya Perang Dingin.

Baca juga: Pengebom Rusia di Venezuela Tingkatkan Kekhawatiran Perang Dingin 2

Oleh: Sarah Pruitt (History)

Sesaat setelah tiba di Konferensi Potsdam pada Juli 1945, Presiden AS Harry S. Truman menerima kabar bahwa para ilmuwan Proyek Manhattan telah berhasil meledakkan perangkat nuklir pertama di dunia di sudut terpencil gurun New Mexico.

Pada tanggal 24 Juli—delapan hari setelah uji coba Trinity—Truman mendekati Perdana Menteri Soviet Joseph Stalin, yang bersama dengan Truman dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill (yang akan segera digantikan oleh Clement Attlee) membentuk “Tiga Besar” pemimpin Sekutu yang berkumpul di Potsdam, untuk menentukan masa depan Jerman pasca-Perang Dunia II.

Menurut Truman, ia “dengan santai mengatakan” kepada Stalin bahwa Amerika Serikat (AS) memiliki “senjata baru dengan kekuatan penghancur yang tidak biasa,” tetapi Stalin tampaknya tidak terlalu tertarik. “Yang dia katakan adalah bahwa dia senang mendengarnya dan berharap kami akan memanfaatkannya dengan baik terhadap Jepang,” Truman kemudian menulis dalam memoarnya yang berjudul “Year of Decisions”.

Intelijen Soviet Tahu Tentang Bom Itu

Bagi Truman, berita tentang uji coba Trinity yang sukses menetapkan pilihan penting: apakah akan menggunakan senjata pemusnah massal pertama di dunia atau tidak. Tapi itu juga melegakan, karena itu berarti Amerika Serikat tidak harus bergantung pada Uni Soviet yang semakin bermusuhan untuk memasuki Perang Dunia II melawan Jepang.

Truman tidak pernah menyebut kata “atomik” atau “nuklir” kepada Stalin, dan asumsi di pihak AS adalah bahwa Perdana Menteri Soviet itu tidak mengetahui sifat tepat dari senjata baru tersebut. Truman sendiri pertama kali mengetahui tentang program rahasia AS untuk mengembangkan senjata atom hanya tiga bulan sebelumnya, setelah kematian Franklin D. Roosevelt—intelijen Soviet mulai menerima laporan tentang proyek tersebut paling cepat pada September 1941.

Walau Stalin tidak menganggap serius ancaman atom selama masa perang seperti yang dianggap beberapa mata-matanya—ia memiliki masalah lain di pundaknya, berkat serangan dan pendudukan Jerman—namun kata-kata Truman di Potsdam membuat dampak yang lebih besar daripada yang disadari oleh presiden itu.

“Kita sekarang tahu bahwa Stalin segera memberi tahu bawahannya bahwa kita perlu membuat Kurchatov bekerja lebih cepat dalam hal ini,” kata Gregg Herken, profesor emeritus sejarah diplomatik AS di Universitas California, dan penulis The Winning Weapon: The Atomic Bomb in the Cold War and Brotherhood of the Bomb. Igor Kurchatov adalah fisikawan nuklir yang memimpin proyek bom atom Soviet—sama seperti dalang dari Proyek Manhattan, J. Robert Oppenheimer.

Bom ‘Little Boy’ dijatuhkan di Hiroshima

Pada tanggal 6 Agustus 1945—hanya beberapa hari setelah Konferensi Potsdam berakhir—pesawat pengebom AS Enola Gay menjatuhkan bom uranium yang dikenal sebagai “Little Boy” di kota Jepang, Hiroshima. Terlepas dari dampaknya yang menghancurkan, Jepang tidak segera menyerah tanpa syarat, seperti yang diharapkan Amerika Serikat. Kemudian pada tanggal 8 Agustus, pasukan Soviet menyerbu Manchuria yang diduduki Jepang, melanggar pakta non-agresi yang sebelumnya ditandatangani dengan Jepang.

Awan jamur bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. (Foto: via Countercurrents.org)

Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki

Herken berpendapat bahwa invasi Soviet mungkin memiliki efek yang sama besar pada moral Jepang, seperti bom atom pertama. “Harapan terakhir bagi pemerintah Jepang, faksi perdamaian, adalah bahwa Uni Soviet mungkin akan benar-benar setuju untuk menegosiasikan perdamaian dengan Amerika Serikat sebagai pihak netral,” jelasnya. “Tapi begitu Soviet menyerbu Manchuria, jelas itu tidak akan terjadi.”

Pada tanggal 9 Agustus, pasukan AS menjatuhkan bom plutonium yang dijuluki “Fat Man” di Nagasaki. Total, dua bom yang dijatuhkan di Jepang itu menewaskan lebih dari 300 ribu orang, termasuk mereka yang tewas seketika dan mereka yang tewas akibat radiasi dan efek ledakan yang bertahan lama.

Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan diri tanpa syarat Jepang melalui radio pada tanggal 15 Agustus, yang mengakhiri Perang Dunia II. Dalam negosiasi damai di Yalta—seperti di Potsdam—jurang ideologis antara Uni Soviet dan sekutu Barat-nya menguat, terutama ketika menyangkut nasib Eropa Timur.

Bahkan sampai sekarang, para sejarawan masih berdebat mengenai apakah keputusan pemerintahan Truman untuk menjatuhkan bom atom itu dilandasi oleh alasan politik—yaitu, untuk mengintimidasi Uni Soviet—alih-alih alasan militer.

“Bom itu sangat rahasia sampai-sampai tidak ada pertemuan resmi tentang itu, tidak ada diskusi resmi tentang apa yang harus dilakukan, tidak ada proses pengambilan keputusan yang kami miliki dalam sebagian besar kebijakan,” kata Campbell Craig, Profesor Hubungan Internasional di Fakultas Hukum dan Politik di Universitas Cardiff, dan penulis pendamping The Atomic Bomb dan the Origin of the Cold War (bersama Sergey Radchenko). “Jadi, kami memiliki banyak pendapat tentang apa yang benar-benar mendorong Amerika Serikat untuk menjatuhkan bom itu.”

Apa pun niat AS di Hiroshima dan Nagasaki, Stalin tentu melihat kepemilikan bom atom AS sebagai ancaman langsung terhadap Uni Soviet dan tempatnya di dunia pasca-perang—dan ia bertekad untuk meningkatkan level permainan di lapangan. Sementara itu, berkat spionase atom, ilmuwan Soviet segera mengembangkan bom mereka sendiri.

Doktrin Truman Menuntut Penahanan Soviet

Beberapa anggota pemerintahan Truman mendukung kerja sama dengan Soviet, melihatnya sebagai satu-satunya cara untuk menghindari perlombaan senjata nuklir. Tetapi pandangan yang berlawanan—yang diartikulasikan oleh pejabat Departemen Luar Negeri George Kennan dalam Long Telegram yang terkenal pada awal tahun 1946—akan terbukti jauh lebih berpengaruh, menginspirasi Doktrin Truman dan kebijakan “penahanan” (containment policy) terhadap Soviet, dan ekspansionisme komunis di seluruh dunia.

Baca juga: Pompeo: Amerika Tidak Mengikuti Kebijakan Perang Dingin Terhadap China

Kemudian pada tahun 1946, selama pertemuan pertama Komisi Energi Atom PBB (UNAEC), Amerika Serikat mempresentasikan Rencana Baruch, yang menyerukan agar Soviet membagikan setiap rincian program energi atom mereka—termasuk membuka fasilitas mereka kepada inspektur internasional—sebelum Amerika Serikat akan berbagi apa pun dengan mereka. Yang tidak mengejutkan, Soviet menolak persyaratan ini.

“Rencana Baruch mengharuskan Soviet untuk menyerahkan kedaulatan mereka agar mereka memiliki bagian dalam energi atom,” kata Herken. “Stalin tidak akan mungkin melakukan itu.”

Soviet Membalas dengan Uji Nuklir Mereka Sendiri

Pada tahun 1949, semua rencana kerja sama gagal: Pada tanggal 29 Agustus, Soviet berhasil menguji perangkat nuklir mereka sendiri, menghasilkan ledakan 20 kiloton yang kira-kira sama dengan uji coba Trinity. Kemudian perlombaan senjata nuklir yang akan menentukan sisa Perang Dingin berlangsung, ketika kedua negara adidaya itu kesulitan untuk melihat siapa yang bisa mengumpulkan senjata pemusnah massal yang paling banyak, dan mencari cara bagaimana mengerahkannya dengan cara yang paling efektif.

Seperti yang dikatakan Craig, “Keberadaan bom itu memaksa Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk lebih cepat dalam memperhitungkan satu sama lain daripada jika bom itu tidak ada.”

Keterangan foto utama: Presiden Harry Truman, duduk di dekat radio di atas kapal penjelajah USS Augusta, membaca laporan tentang serangan bom atom pertama di Jepang, ketika dalam perjalanan pulang dari Konferensi Potsdam pada 6 Agustus 1945. (Foto: AP)

Bom Hiroshima: Akhiri Perang Dunia II, Awali Perang Dingin

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top