Bencana Palu
Berita Politik Indonesia

‘Semuanya Rusak’ : Situasi Perawatan Kesehatan Setelah Bencana Palu

‘Semuanya Rusak’ : Situasi Perawatan Kesehatan Setelah Bencana Palu

Sebulan sejak bencana gempa dan tsunami di Sulawesi, sanitasi yang buruk dan kondisi yang kotor memicu penyakit di antara para pengungsi. Fasilitas kesehatan juga belum kembali ke kondisi semula. Sedikitnya petugas medis serta terbatasnya peralatan dan obat membuat korban bencana Palu kesulitan mendapatkan bantuan.

Baca juga: Bantuan Mulai Mengalir, Tim Penyelamat Berjuang Lawan Penyakit dari Mayat yang Membusuk

Oleh: Ian Morse (Al Jazeera)

FAKTA TENTANG BENCANA:

2.077 orang meninggal dunia akibat bencana gempa bumi dan tsunami.

205.870 orang kehilangan rumah mereka.

4.438 orang menderita luka parah.

45 bangunan rumah sakit dan klinik hancur.

Tsunami yang melanda Palu, Sulawesi bulan September 2018 menyeret saudara laki-laki Muhammad Afif dari dalam rumah mereka di tepi pantai.

Muhammad menghabiskan sepanjang hari mencari saudaranya. Tapi justru seorang teman yang menemukannya, di antara orang-orang yang terluka di salah satu rumah sakit di kota.

“Rumah sakit begitu sibuk sehingga kami harus membersihkan luka-lukanya sendiri,” kata Muhammad. Sopir truk berusia 38 tahun itu membawa saudaranya pulang, di mana dia meninggal dua hari kemudian. “Setidaknya kami bisa merawatnya sendiri sebelum akhir hayatnya.”

Setidaknya 2.000 orang sekarang diketahui tewas dalam gempa berkekuatan 7,5 skala Richter dan tsunami yang menghancurkan kota di Sulawesi Tengah dan daerah sekitarnya sebulan lalu. Bencana Palu itu menyebabkan ribuan orang kehilangan rumah di tengah sistem kesehatan yang rusak dan berjuang untuk menangani korban yang terluka, yang tersebar di area yang luas, mulai dari dataran rendah pesisir hingga desa-desa di pegunungan.

Daerah Bencana yang Luas

“Kami memiliki banyak masalah dalam menjangkau orang-orang di sini. Orang-orang tidak terfokus di satu tempat, mereka tersebar di mana-mana,” kata Viktor, seorang dokter di klinik Bulan Sabit Merah Indonesia yang membantu penanganan pasca gempa di Lombok bulan Agustus 2018 dan gempa bumi di Aceh tahun 2016.

“Bahkan jika kami menggunakan klinik keliling kami, kami harus melakukan survei panjang dan menyisir desa-desa.”

Rumah Sakit Undata, rumah sakit terbesar di Palu, khawatir akan adanya gempa susulan yang lebih parah akan membawa lebih banyak korban, sehingga pihak berwenang rumah sakit telah mendirikan tenda darurat oranye terang yang didirikan di sekitar rumah sakit segera setelah bencana, kata direktur layanan Amsyar Praja.

Rumah sakit itu sendiri menerima rujukan medis paling banyak dibanding rumah sakit manapun di zona bencana dengan pasien yang datang dari rumah sakit lain di Palu serta desa-desa di daerah terpencil Sigi dan Donggala. Sekitar 45 fasilitas kesehatan rusak akibat bencana ganda dan hampir 4.500 orang luka parah, menurut berita pembaruan resmi pekan ini.

Para administrator rumah sakit belum perlu mengalihkan pasien, tetapi karena gempa menghancurkan peralatan medis, mereka terpaksa membuat keputusan sulit. Belum lama ini, sebanyak 10 pasien dengan infeksi pernapasan berat mencari pengobatan di Undata. Penyakit semacam itu menjadi lebih umum karena begitu banyak orang tinggal di tenda, tetapi dengan hanya satu ventilator yang bisa digunakan, sehingga dokter terpaksa hanya mengobati mereka yang paling membutuhkan.

Sementara kasus medis sebagian besar mengikuti pola pasca-bencana, seperti luka parah dan patah tulang pada minggu pertama dan penyakit seperti diare dan infeksi pernafasan setelah itu–ini adalah kasus-kasus yang secara unik umum terjadi di Palu.

Hajiah Mariam, 69 tahun, tiba di klinik Viktor lebih dari tiga pekan setelah gempa dengan cedera kaki yang terinfeksi di tendanya di sebuah desa di Sigi. Butuh 20 menit untuk membersihkan luka.

Dokter Palang Merah mengobati Hajiah Mariam. (Foto: Al Jazeera/Ian Morse)

“Saat ini kami juga memiliki banyak luka infeksi karena orang tinggal di tenda yang tidak bersih,” kata Praja. “Toiletnya seringkali tidak bersih dan sanitasi juga menjadi masalah.”

Masalah Air

Palang Merah Indonesia mengelola sanitasi di daerah terjauh di provinsi ini, seperti Donggala, di mana pasokan air masih harus dipulihkan. Mereka telah membangun 35 kamar mandi dan membagikan 1.288 peralatan kebersihan kepada mereka yang membutuhkan.

“Kadang-kadang kami tidak bisa lewat jalan darat, jadi kami harus mendaki gunung selama dua jam,” kata direktur manajemen bencana Rafiq Anshori. “Delapan puluh persen rumah hancur, sementara terdapat air yang tidak didistribusikan dengan baik, jadi toilet dan kamar mandi menjadi sangat kotor.”

MERCY Malaysia, agen tanggap bencana yang bekerja di pinggiran kota Palu, mengatakan bahwa kebersihan adalah masalah utama di pusat evakuasi kecil mereka di 30 tenda, di mana Muhammad tinggal bersama keluarganya. Seperti ribuan orang di daerah itu, mereka hanya bisa menyimpan pakaian di tas punggung mereka. Sekarang, istrinya, ibu mertua, dan dua anak mereka tinggal bersama di sebuah tenda kecil.

“Toilet yang berada di sebelah kamar mandi dan area cuci pakaian dan drainase merupakan masalah,” kata Tjie Reza dari MERCY. Sebelum blok pencucian dibangun, komunitas sementara yang terdiri dari sekitar 700 orang menggunakan toilet tunggal, dan orang-orang terpaksa membuang kotoran di kantong plastik.

Organisasi sayap Save the Children di Indonesia, Yayasan Sayangi Tunas Cilik, telah mendirikan tiga pusat di sekitar wilayah tempat para pekerja mengajarkan praktik-praktik higienis melalui permainan dan kegiatan lainnya.

“Kami mencoba mendukung mereka. Mungkin akan sulit untuk melupakan, tetapi bagaimana caranya agar mereka bisa kembali normal,” kata manajer operasi senior Aduma Situmorang kepada Al Jazeera. “Sulit bagi mereka untuk memahami segalanya, tetapi hal-hal seperti ‘apa yang harus Anda lakukan jika ada gempa bumi,’ kami akan menyertakan hal itu dalam dukungan psikososial.”

Trauma

Kelompok relawan juga berfokus pada kesehatan mental, terutama terhadap anak-anak. Gemma Nine, sebuah organisasi sukarelawan muda, mengirim tim medis ke desa-desa pesisir Donggala untuk penilaian dalam dua minggu pertama setelah ribuan warga meninggalkan gelombang raksasa dan berlari ke arah pegunungan.

“Dua puluh anak butuh bantuan untuk melupakan trauma mereka,” kata perawat relawan Dewi Koesuma, 22 tahun, setelah tiba di pusat evakuasi yang didirikan di antara pohon kelapa di desa Lende, di mana beberapa orang telah kehilangan nyawa di bawah rumah yang ambruk dan hancur akibat tsunami. “Tapi mereka tidak memikirkan masalah jangka panjang, hanya masalah jangka pendek seperti makanan karena jumlahnya sangat sedikit.”

Dua anak laki-laki Indonesia di sebuah acara untuk membantu anak-anak yang selamat dari gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah. (Foto: Al Jazeera/Ian Morse)

Didik Wahyu Pratam, seorang relawan dengan kelompok pemuda Palu setempat, mengadakan sesi untuk anak-anak dengan sekelompok siswa. Mereka memfokuskan perhatian mereka pada daerah-daerah yang paling parah dilanda bencana, seperti desa-desa di mana tanah telah menelan seluruh lingkungan ketika gempa menghancurkan tanah dan menyebabkan anak-anak kehilangan teman, orang tua, dan seluruh anggota keluarga.

Di samping rumah-rumah mereka yang roboh dan tenda-tenda darurat, anak-anak menyanyikan lagu-lagu dengan lantang dan menari dengan para relawan.

Baca juga: Bantuan Terbatas, Korban Selamat Gempa Palu Berjuang Bertahan Hidup

“Upaya kami ialah memberi mereka permainan dan pelajaran sehingga mereka melupakan apa yang terjadi beberapa minggu lalu,” kata Wahyu, 22 tahun. “Selain anak-anak, kami juga merupakan korban dan sangat menyenangkan rasanya bermain dengan anak-anak, hal itu juga membantu kami.”

Keadaan darurat yang diumumkan setelah bencana berakhir hari Kamis (25/10), tetapi dinas kesehatan setempat telah memperpanjang layanan gratis hingga akhir tahun, karena rumah sakit dan klinik masih berjuang dengan peralatan yang tidak memadai dan ribuan orang terpaksa bertahan tanpa adanya fasilitas kesehatan yang dapat diandalkan.

 ‘Semuanya Rusak’

Rumah Sakit Anutapura sedang menunggu dinas kesehatan kota untuk memberikan kembali peralatan medis yang rusak. Tetapi petugas medis juga berjuang untuk bekerja di tengah dinding bata yang retak dan jalan setapak yang rusak. Beberapa menit setelah gempa, seluruh sayap bangunan rumah sakit di bagian perawatan bayi runtuh dengan sendirinya, membelah rumah sakit enam lantai menjadi dua. Sepuluh orang terperangkap di dalam dan tewas. Pada saat empat orang terakhir ditemukan seminggu kemudian, tubuh mereka tidak dapat diidentifikasi.

“Kami mulai bekerja lagi hari Sabtu (27/10) lalu, tetapi jelas tidak pada kapasitas normal,” tutur wakil direktur Anutapura Herry Mulyadi kepada Al Jazeera. Banyak staf terlalu takut untuk bekerja di gedung yang rusak, tetapi permintaan akan pelayanan kesehatan terus meningkat sedemikian rupa, sehingga meskipun rumah sakit telah menyewa ruang sekolah dan gedung apartemen di dekatnya, mereka masih harus menolak antara 100 dan 200 orang setiap hari.

Reruntuhan Rumah Sakit Anutapura yang rusak parah akibat gempa dan tsunami bulan September 2018. (Foto: Al Jazeera/Ian Morse)

“Kami harus bekerja tanpa semua alat kami. Peralatan untuk perawatan gigi, jantung, semuanya rusak. Kami tidak bisa menyelamatkan mereka karena gedung tempat seluruh peralatan itu berada telah hancur.”

Para wanita hamil terpaksa melakukan perjalanan ke Undata untuk melahirkan karena itu adalah satu-satunya rumah sakit yang masih memiliki kemampuan untuk melakukan operasi caesar. Sejak gempa, sekitar 70 wanita telah melahirkan bayi mereka di sana, hampir 50 lebih banyak dari biasanya. Tetapi bidan juga membantu para wanita di komunitas pedesaan untuk melahirkan bayi mereka seperti yang akan mereka lakukan sebelum bencana melanda.

Di desa pertanian padi Dolo, yang lolos dari likuifaksi tanah yang menelan pemukiman tetangga, salah satu penduduk melahirkan seminggu setelah bencana. Ketika mereka melihat bayi perempuan yang sehat, ibu baru tersebut bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan. Kemudian mereka teringat akan gempa.

“Dia belum memiliki nama jadi saya hanya bilang kenapa bukan Gempitha?” kata Ani, bidan yang membantu kelahirannya. “Namanya cocok.”

Keterangan foto utama: Setidaknya 2.000 orang sekarang diketahui telah tewas dalam gempa bumi dan tsunami berkekuatan 7,5 skala Richter. (Foto: Al Jazeera/Ian Morse)

‘Semuanya Rusak’ : Situasi Perawatan Kesehatan Setelah Bencana Palu

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top