Senjata Kimia di Idlib: Amerika Tingkatkan Ancaman Aksi Militer Terhadap Rezim Assad
Timur Tengah

Senjata Kimia di Idlib: Amerika Tingkatkan Ancaman Aksi Militer Terhadap Rezim Assad

Home » Featured » Timur Tengah » Senjata Kimia di Idlib: Amerika Tingkatkan Ancaman Aksi Militer Terhadap Rezim Assad

Pemerintah Amerika Serikat khawatir akan pengaruh Iran dan Rusia di Suriah. Mereka juga memiliki info, Presiden Suriah Bashar al-Assad berencana untuk menggunakan senjata kimia di Idlib, untuk menghancurkan kantong terakhir pemberontak. Inilah yang memicu ancaman serangan dari administrasi Presiden Donald Trump.

Oleh: Lara Seligman (Foreign Policy)

Amerika Serikat (AS) mengancam akan menyerang rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk ketiga kalinya jika rezim tersebut menggunakan senjata kimia di Idlib. Hal ini menandai perubahan signifikan dalam strategi AS, setelah berbulan-bulan ada indikasi bahwa AS akan segera keluar dari konflik Suriah ini.

Dalam peringatan yang paling eksplisit hingga saat ini, penasehat keamanan nasional Presiden Donald Trump, John Bolton, mengatakan pada hari Senin (10/9) bahwa AS dan sekutu Inggris dan Prancisnya telah sepakat bahwa penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah akan memicu eskalasi yang signifikan, dibandingkan serangan udara sebelumnya.

“Kami telah mencoba menyampaikan pesan dalam beberapa hari terakhir bahwa jika ada penggunaan senjata kimia untuk ketiga kalinya, serangan udara tanggapan akan jauh lebih kuat,” kata Bolton setelah pidatonya di Washington.

Baca Juga: PBB Peringatkan Serangan di Idlib Memicu ‘Bencana Kemanusiaan Terburuk’ Abad 21

Komentar Bolton ini datang segera setelah terungkapnya penyusunan opsi oleh Departemen Pertahanan atas kemungkinan aksi militer terhadap Assad di tengah serangan udara Rusia dan Suriah terhadap kubu pemberontak terakhir yang tersisa di negara itu. PBB telah menyalakan alarm bencana kemanusiaan jika serangan itu berlanjut. Idlib dan daerah sekitarnya adalah rumah bagi sekitar 3 juta warga sipil, termasuk lebih dari satu juta warga sipil yang mengungsi dari bagian lain di Suriah.

Trump “telah menegaskan konsekuensi penggunaan senjata kimia,” Jenderal Kelautan Joseph Dunford, ketua Kepala Staf Gabungan, mengatakan pada hari Sabtu (8/9).

Meskipun tidak ada keputusan yang dibuat untuk menyerang pasukan Assad, dia mengatakan bahwa presiden “mengharapkan kita untuk memiliki opsi militer, dan kami telah memberikan pembaruan kepadanya tentang opsi militer tersebut.”

Trump telah dua kali mengebom rezim Suriah atas dugaan penggunaan senjata kimia, sekali pada April 2017 dan yang kedua pada awal tahun ini.

Pemerintah AS telah “berusaha mengirim peringatan yang jelas” kepada rezim Assad, kata Melissa Dalton, seorang rekan senior di Pusat Studi Strategis dan Internasional. Namun, ia mengatakan bahwa para pejabat juga masih berusaha “menjaga pintu agar selalu terbuka” untuk solusi diplomatik terhadap kekerasan di Idlib.

Ancaman terselubung Pentagon ini adalah indikasi terbaru dari pandangan Trump tentang Suriah. Sampai minggu lalu, dia telah menunjukkan keinginan untuk keluar dari negara itu setelah kelompok militan ISIS terkalahkan—yang bertentangan dengan keinginan menteri pertahanannya dan sebagian besar penasehatnya. Sekitar 2.000 pasukan AS saat ini sedang beroperasi di Suriah, sebagian besar di wilayah timur negara itu.

Langkah untuk membawa pasukan AS kembali ke AS sebelum waktunya, ditambah dengan keputusan untuk membatalkan pendanaan yang diperuntukkan bagi pemulihan Suriah sebesar $200 juta, akan membuat negara Timur Tengah itu rentan terhadap pengaruh Rusia dan Iran, para ahli memperingatkan.

Tetapi pada hari Kamis (6/9), James Jeffrey, Menteri Luar Negeri khusus yang ditunjuk oleh Menteri Luar Negeri AS untuk mengatasi Suriah, mengindikasikan bahwa presiden telah menyetujui rencana baru: pasukan AS akan tetap di negara itu untuk memastikan musnahnya ISIS tetapi juga perginya semua pasukan Iran dari Suriah.

Strategi baru ini menunjukkan dorongan AS untuk meningkatkan tekanan pada rezim Suriah dan para pendukungnya, Rusia dan Iran, ketika Assad tampaknya siap untuk menyelesaikan perang sipil yang telah berlangsung selama tujuh tahun di negara itu.

“Kebijakan barunya adalah kami tidak lagi menarik pasukan kami di akhir tahun ini,” kata Jeffrey, menurut Washington Post. “Dan ini berarti kita sedang tidak terburu-buru.”

Dia menambahkan: “Saya yakin presiden setuju dengan ini.”

Trump sendiri memperingatkan awal pekan lalu bahwa serangan oleh Assad terhadap Idlib akan membuat AS “sangat, sangat marah.” Dalam sebuah tweet, dia menyinggung Rusia dan Iran.

Baca Juga: Laporan Penduduk Soal Gempuran Besar-besaran Rusia dan Rezim Suriah di Idlib

“Presiden Suriah Bashar al-Assad tidak boleh sembarangan menyerang Provinsi Idlib. Orang-orang Rusia dan Iran akan membuat pelanggaran kemanusiaan besar jika ambil bagian dalam tragedi kemanusiaan ini. Ratusan ribu orang bisa terbunuh. Jangan biarkan itu terjadi!” ungkap Trump melalui akun Twitter-nya.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, turut menyuarakan peringatan ini pada hari Kamis (6/9) selama pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang penggunaan senjata kimia di Suriah.

“Kami ingin mengambil kesempatan ini untuk mengingatkan [Assad] dan sekutu Rusia dan Iran-nya: Amerika Serikat akan melakukan serangan tanggapan lagi,” kata Haley.

Dia secara khusus memperingatkan Rusia untuk menghentikan serangan Assad di Idlib, yang disebutnya sebagai “eskalasi sembrono bahkan jika senjata kimia tidak digunakan.”

Dalam unjuk kekuatan lain, Pentagon meluncurkan latihan kejutan di Suriah selatan pada hari Jumat (7/9) setelah Rusia mengancam aksi militer di daerah Suriah di mana pasukan AS berada. Dalam latihan itu, pasukan AS terbang ke garnisun Tanf dengan helikopter penyerang dan melakukan latihan tempur, menurut pernyataan dari Komando Pusat AS.

Michael O’Hanlon, seorang rekan senior dari Brookings Institution, yakin perubahan mendadak presiden dalam strategi ini adalah hasil dari meningkatnya pengaruh Rusia dan Iran di Suriah. Dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada hari Jumat (7/9), O’Hanlon dan rekan-rekannya di Brookings berpendapat bahwa ada “10-derajat pergeseran” dalam kebijakan AS tentang Suriah termasuk mempertahankan kehadiran militer saat ini di daerah timur laut dan timur Suriah, dan bekerja dengan sekutu Assad, seperti Rusia, untuk membujuknya agar akhirnya mundur.

“Saya senang dengan laporan tentang perpanjangan kehadiran pasukan sampai waktu yang tidak terbatas,” kata O’Hanlon, tetapi menambahkan: “Kami juga membutuhkan strategi politik yang lebih realistis, secara eksplisit dan publik, yang mengikat semuanya bersama-sama dan menjabarkan visi dan mengakui realitas kekuasaan Assad, setidaknya di beberapa negara, setidaknya untuk sementara waktu.”

Jeffrey, utusan Suriah yang baru, dan Joel Rayburn, asisten sekretaris deputi Departemen Luar Negeri untuk urusan Timur Dekat, kemungkinan akan bekerja keras dalam beberapa pekan terakhir untuk meyakinkan presiden bahwa mempertahankan kehadiran AS dalam jangka lebih panjang di Suriah sangat penting untuk membendung pengaruh Rusia dan Iran di daerah di teluk, kata Dalton.

“Boleh dibilang menghapus kehadiran pasukan AS [di timur laut Suriah] memungkinkan rezim Assad untuk merebut kembali wilayah itu, dan tentu saja, siapa yang datang bersama mereka? Iran,” kata Dalton.

 

Lara Seligman adalah koresponden Pentagon untuk Foreign Policy.

 

Keterangan foto utama: Asap mengepul di desa Suriah Kafr Ain di daerah selatan provinsi Idlib setelah serangan udara pada 7 September (Foto:AFP/Getty Images/Anas al-Dyab)

Senjata Kimia di Idlib: Amerika Tingkatkan Ancaman Aksi Militer Terhadap Rezim Assad

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top