Serangan di Mali
Afrika

10 Penjaga Perdamaian PBB Terbunuh dalam Serangan di Mali

Berita Internasional >> 10 Penjaga Perdamaian PBB Terbunuh dalam Serangan di Mali

Kelompok Al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM) menyerang satu kamp PBB yang menewaskan 10 orang. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam serangan mematikan yang juga menyebabkan 25 orang terluka di wilayah Kidal, utara Mali. Serangan di Mali itu dilakukan sehubungan kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Chad.

Baca juga: Konflik Somalia: Pertama Kalinya, Tentara Amerika Terbunuh dalam Perang

Oleh: Al Jazeera

Setidaknya 10 orang penjaga perdamaian dari Chad tewas dan 25 orang lainnya terluka dalam serangan terhadap satu kamp PBB di Mali utara, menurut PBB. Al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM) mengaku bertanggung jawab atas serangan pada hari Minggu (20/1) tersebut, dengan mengatakan serangan itu sebagai “reaksi” atas kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Chad, menurut kantor berita Mauritanian Al-Akhbar, yang secara teratur menerima pernyataan dari kelompok bersenjata tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk apa yang disebutnya sebagai “serangan kompleks” di kamp PBB di Aguelhoc, sekitar 200 kilometer utara wilayah Kidal Mali menuju perbatasan dengan Aljazair, dan menyerukan agar para pelaku diadili.

Menurut warga, para penyerang datang dengan mengendarai sepeda motor dan mobil.

“Pasukan MINUSMA merespon dengan kuat dan sejumlah penyerang tewas,” kata juru bicara PBB Ivan Dujarric, merujuk pada misi penjaga perdamaian PBB di Mali.

Mahamat Saleh Annadif, utusan PBB untuk Mali, mengutuk apa yang disebutnya sebagai serangan “keji dan kriminal.”

“Pasukan penjaga perdamaian MINUSMA di Aguelhok memerangi serangan canggih oleh para penyerang yang tiba dengan beberapa kendaraan bersenjata,” katanya dalam sebuah pernyataan. Serangan itu “menggambarkan tekad para teroris untuk menabur kekacauan.” Dia menambahkan bahwa serangan itu menuntut “respon yang kuat, cepat, dan terpadu.”

Kekerasan yang terus memburuk

Mali saat ini berada di bawah ancaman sejumlah kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan kelompok ISIS atau ISIL (Islamic State of Iraq and the Levant). PBB telah mengerahkan sekitar 12.000 tentara dan polisi dalam misi penjaga perdamaian MINUSMA di Mali, yang menempati peringkat sebagai negara paling berbahaya bagi pasukan penjaga perdamaian.

Baca juga: Masih Aktif, Begini Ancaman ISIS Sekarang

Mali, negara terbesar kedelapan di Afrika dan salah satu yang termiskin di dunia, telah berjuang untuk mengembalikan stabilitas setelah para pejuang yang terkait al-Qaeda menguasai wilayah utara negara itu pada awal tahun 2012, mendorong Prancis untuk campur tangan secara militer.

Para pejuang dialihkan dalam operasi militer yang dipimpin Prancis pada tahun 2013, tetapi sebagian besar negara bagian Sahel yang terkurung daratan tetap berada di luar kendali pemerintah. Kesepakatan damai antara pemerintah dan kelompok-kelompok bersenjata telah ditandatangani pada tahun 2015, tetapi implementasinya lambat, sementara serangan terus terjadi di bagian tengah dan utara negara itu.

Awal bulan Januari 2019, Prancis maupun Amerika Serikat mengkritik pihak berwenang di Mali karena kegagalan mereka dalam membendung kekerasan yang terus memburuk.

Keterangan foto utama: Kamp Aguelhoc di Mali utara menampung para penjaga perdamaian dari Chad. (Foto: Reuters MINUSMA/Sylvain Liechti)

10 Penjaga Perdamaian PBB Terbunuh dalam Serangan di Mali

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top