Serangan Axis Iran ke Gaza Bisa Jadi Pertanda Masalah Serius bagi Israel
Timur Tengah

Serangan Axis Iran ke Gaza Bisa Jadi Pertanda Masalah Serius bagi Israel

Para pendukung Hamas di Gaza, tahun 2016. (Foto: Middle East Monitor)
Home » Featured » Timur Tengah » Serangan Axis Iran ke Gaza Bisa Jadi Pertanda Masalah Serius bagi Israel

Serangan bom modifikasi di perbatasan Gaza pada Hari Sabtu (17/2) bukanlah satu-satunya perkembangan terbaru. Mereka dikatakan sedang merencanakan sebuah serangan ke Israel. Hamas terus bekerjasama dengan Iran dan Hizbullah untuk mengorganisasi serangan axis mereka yang mematikan kepada Israel dan mempersiapkan basis untuk serangan terkoordinasi berskala besar ke Israel yang mereka anggap akan melemahkan kekuatan Israel. Opini dan analisis oleh Yochanan Visser.

Oleh: Yochanan Visser (Israel National News)

Pada hari Sabtu (17/2), Hamas mulai bertindak seperti Hizbullah dalam berperang melawan Israel dengan meluncurkan serangan axis bom modifikasi canggih ke jip IDF yang sedang berpatroli di perbatasan Gaza.

Angkatan pertahanan Israel kemudian mengumumkan bahwa patroli tersebut diserang oleh dua alat eksplosif ditingkatkan (IED) yang diledakkan menggunakan remot kontrol, sebuah taktik yang kerap digunakan Hizbullah saat memerangi penjajahan Israel di wilayah selatan Libanon.

Satu IED terhubung dengan sebuah tiang bendera yang mengibarkan bendera Palestina, yang telah dipasang di pagar keamanan pada saat demonstrasi besar yang dilakukan oleh orang-orang Arab Palestina di perbatasan Gaza pada hari Jumat (17/2) lalu. Alat kedua juga telah ditanamkan kedalam tanah pada hari yang sama ketika protes yang diorganisasi oleh Komite Pemberontakan Populer berlangsung di Gaza.

Serangan axis tersebut melukai empat tentara Israel, dua diantara sedang dalam keadaan kritis. Hal tersebut menunjukkan bahwa Hamas dan pergerakan pemberontak Palestina lain yang ada di Gaza jelas-jelas “mencari cara lain untuk menyerang Israel,” seperti yang dilaporkan oleh Arutz 7 pada bulan Januari.

Taktik “baru” ini digunakan setelah Israel membuktikan mereka dapat menetralisir segala serangan roket yang diluncurkan dari Gaza ke wilayah selatan Israel, mereka juga miliki apa yang disebut “Iron Dome bawah tanah” untuk mengatasi meningkatnya ancaman teror melalui terowongan oleh Hamas. Serangan axis bom modifikasi yang dilakukan oleh Hamas kepada tentara IDF didekat pagar keamanan di wilayah perbatasan Gaza diikuti dengan upaya untuk mengenalkan senjata tersebut di Samaria.

Pada akhir Januari, wartawan Palestina bernama Abu Khaled Toameh melaporkan bahwa Pasukan keamanan Otoritas Palestina (PA) telah menangkap dan membongkar 12 IED dari Utara Tulkarem di Samaria dan menangkap tujuh orang yang diduga memiliki hubungan dengan Hamas.

Penemuan IED tersebut merupakan indikasi lain bahwa Hamas mencoba meniru taktik Hizbullah. Penemuan serangan axis ini datang beberapa hari setelah analis militer Ya’acov Lappin melaporkan bahwa unit 133 Hizbullah sedang beroperasi di wilayah Judea dan Samaria.

Unit Hizbullah merekrut orang-orang Arab Palestina untuk membuat basis teror baru dan membantu mereka dengan pendanaan dan pelatihan, menurut laporan Lappin.

    Baca juga: Netanyahu kepada Iran: ‘Jangan Uji Tekad kami’

Eksekusi serangan axis bom modifikasi canggih bukanlah satu-satunya perkembangan terbaru yang diperkenalkan pada saat konfrontasi antara Hamas dan Israel pada hari Sabtu (17/2).

Menurut anggota militernya Izz as Din al Qassam, Hamas telah menggunakan senjata baru lain dalam serangan lintas perbatasan yang terjadi.

Organisasi yang kerap di-cap teroris itu mengumumkan bahwa mereka telah menembakkan rudal anti-pesawat ke pesawat tempur Israel yang menyerang setidaknya 18 target Hamas di Gaza. Hal ini menunjukkan indikasi bahwa Iran sedang mencoba mengubah kelompok Islam Sunni menjadi angkatan bersenjata yang lebih efektif.

Serangan axis bom modifikasi pada hari Sabtu (17/2) merupakan lanjutan dari konfrontasi langsung antara Israel dan Iran pada hari Shabbat sebelumnya. Peristiwa tersebut dapat menjadi awal bagi perang antara IDF dengan angkatan bersenjata yang disokong Iran.

Hamas terus bekerjasama dengan Iran dan Hizbullah untuk mengorganisasi serangan axis mematikan yang menargetkan Israel dan mempersiapkan basis untuk serangan axis yang terkoordinasi berskala besar ke Israel yang mereka anggap akan melemahkan kekuatan Israel.

“Dukungan Iran kepada kelompok pemberontak menjadi prioritas utama sekarang ini,” kata komandan Brigade Quds Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) Qassem Soleimani setelah bertemu dengan pemimpin Hamas Saleh al-Arouri pada akhir tahun 2017.

Al-Arouri, yang saat ini berada di kubu Hizbullah di Dahiyah di Beirut, mengunjungi Teheran lagi pekan lalu.

Dia menghadiri upacara peringatan untuk menghormati dalang teror Hizbullah Imad Mughniyeh yang ditembak mati oleh Mossad dan CIA di Damaskus, Suriah pada awal 2008.

Kunjungannya ke Tehran merupakan kunjungan kelimanya ke Iran dalam tujuh bulan ini, dan merupakan tindak lanjut atas pernyataan Pemimpin Soleimani dan Hamas yang mengagung-agunkan ikatan baru antara Iran dan gerakan teror Iran yang telah berjanji bahwa mereka akan menghapuskan “entitas karsinogenik” dari muka bumi.

Dalam pidatonya di acara peringatan 10 tahun pembunuhan Mughniyeh minggu lalu, Soleimani berjanji dia akan menghukum “entitas Zionis” karena telah menumpahkan darah pemimpin teror Hezbollah dengan “memusnahkan” negara Yahudi tersebut.

“Pemberontak Islam” yang menjadi sebutan bagi perkumpulan yang disertai kelompok teror Palestina jelas sedang berupaya meningkatkan tekanan mereka kepada Israel, seperti yang terlihat pada peristiwa yang terjadi baru-baru ini.

Iranlah yang pertama kali memprovokasi Israel dengan berupaya mengkampanyekan zona demiliterisasi di dataran tinggi Golan dan rupanya memerintahkan Hizbullah dan sekutunya di pemerintahan Libanon untuk menghasut konfrontasi baru antara Libanon dan Israel sebelum mereka mengirimkan pesawat tanpa awak ke wilayah udara Israel pada 10 Februari.

Baru-baru ini Hamas kembali melanjutkan serangan di Judea dan Samaria yang, memberikan kesempatan bagi mereka untuk menembakkan rudal terbaru dari wilayah tersebut ke Israel.

    Baca juga: Iran Bermain Api di Suriah

Kelompok teror Islam juga dilaporkan tengah menyiapkan basis rudal di wilayah dataran tinggi Golan di Suriah dan telah menyelesaikan sebuah “infrastuktur teror” di Libanon selatan, berdasarkan informasi dari Menteri Pertahanan Avigdor Liberman.

Pada waktu bersamaan, Hamas berupaya memanfaatkan memburuknya situasi kemanusiaan di wilayah Gaza untuk mengobarkan kebencian rakyat Palestina kepada Israel dan meningkatkan konflik dengan negara Yahudi tersebut.

Salah satu aksi yang sedang diupayakan Hamas dan perwakilan Iran lain di wilayah Gaza ialah menghujani perbatasan Israel dengan sejumlah besar protestan dengan dalih melanggar ‘blokade Israel’ yang sebenarnya tidak ada.

Peristiwa akhir pekan ini bisa jadi pertanda masalah serius bagi Israel.

Yochanan Visser adalah seorang jurnalis dan analis independen yang bekerja bertahun-tahun sebagai koresponden Timur Tengah untuk Jurnalisme Barat di Arizona dan sering menjadi humas untuk makalah utama Belanda De Volkskrant. Dia menulis sebuah buku dalam bahasa Belanda tentang perang kognitif melawan Israel dan sekarang tinggal di Gush Etzion. Dia menulis analisis dua kali seminggu mengenai isu terkini untuk Arutz Sheva.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Para pendukung Hamas di Gaza, tahun 2016. (Foto: Middle East Monitor)

Serangan Axis Iran ke Gaza Bisa Jadi Pertanda Masalah Serius bagi Israel

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top