terorisme di Indonesia
Berita Tentang Indonesia

Serangan Teror Indonesia Soroti Kenyataan yang Sering Terlupakan

Polisi anti-teror berbaris selama penyerbuan sebuah rumah seorang tersangka teroris di daerah Medokan Ayu di Surabaya, Indonesia 15 Mei 2018. (Foto: Reuters/Sigit Pamungkas)
Home » Berita Tentang Indonesia » Serangan Teror Indonesia Soroti Kenyataan yang Sering Terlupakan

Ada beberapa kenyataan yang sangat disayangkan terkait serangan teror di Indonesia, ataupun di tempat-tempat lainnya. Analis mengatakan serangan teror dilakukan untuk mengguncang negara-negara Muslim sekuler seperti Indonesia, Irak dan Mesir di mana otoritas sipil lebih diutamakan daripada institusi agama dan di mana berbagai ras, budaya, dan kelompok agama. Apa tujuannya?

    Baca juga: Tanggung Jawab Negara, Korban Serangan Teror Harus Diutamakan

Oleh: The Canberra Times

Serentetan serangan teroris yang mengerikan di Indonesia menyoroti sejumlah kenyataan yang patut disayangkan, dan sering diabaikan, tentang epidemi global pembantaian dengan kekerasan ini.

Yang pertama adalah sejauh ini jumlah serangan teror terbesar yang dilakukan oleh ekstrimis Islam terjadi di negara-negara Muslim.

Yang kedua adalah para penyerang, yang menyisihkan reputasi kepercayaannya yang beradab dan sudah lama ada, dan yang menjunjung toleransi, keadilan, dan keharmonisan sipil, memiliki banyak hal yang berkaitan dengan Islam seperti yang dilakukan Klu Klux Klan dengan Methodisme, Gereja Katolik Roma atau Anglikanisme.

Yang ketiga adalah bahwa maksud dari serangan tersebut adalah untuk secara aktif mengguncang negara-negara Muslim sekuler seperti Indonesia, Irak dan Mesir di mana otoritas sipil lebih diutamakan daripada institusi agama dan di mana berbagai ras, budaya, dan kelompok agama secara historis hidup bersama di harmoni.

Organisasi teroris seperti ISIS, al-Qaeda, Taliban, dan kelompok yang terakhir ini—yang disebut dengan Jemaah Anshorut Daulah atau JAD, ingin menyebarkan ketakutan, kekacauan, kerusuhan sipil dan ketidakpastian untuk melemahkan struktur kekuasaan politik, sosial, dan sipil dan menarik anggota baru ke dalam tujuan jahat mereka.

Muslim moderat, yang ada bahkan lebih mengancam bagi mereka daripada orang Kristen, Yahudi, atau orang Barat agnostik.

Mereka adalah orang-orang yang, apabila melihat keseharian mereka, menunjukkan keutamaan iman yang berakar pada moralitas, mementingkan kehidupan manusia dan menasihati para pengikutnya untuk menjadi sahabat, tetangga, dan warga negara sebaik mungkin.

Dan, barangkali yang paling penting, serangan-serangan terbaru ini telah menyoroti bahaya yang dihadapi banyak negara, termasuk negara kita, sebagai hasil dari kembalinya atau upaya kembalinya para pejuang ISIS asing dari konflik di Suriah dan bagian lain dari Timur Tengah.

Sangat tragis bahwa salah satu alasan serangan Surabaya, yang menargetkan gereja-gereja Kristen selama ibadah misa hari Minggu dan kantor polisi, telah dilaporkan jauh lebih luas daripada insiden teror sebelumnya di negara-negara Muslim karena terlibatnya anak-anak kecil.

Dalam salah satu serangan, yang merenggut 17 nyawa, pengebom bunuh diri termuda baru berusia sembilan tahun. Rompi bunuh diri dilaporkan telah diledakkan oleh ibunya sendiri. Wanita itu kemudian meledakkan dirinya sendiri.

Tingkat fanatisme barbar dan tidak manusiawi ini hampir belum pernah terjadi sebelumnya.

Tidak ada agama di bumi yang akan membenarkan tindakan semacam itu. Pola pikir mereka, di mana mereka yakin bahwa membunuh anak-anak mereka sendiri untuk mengambil nyawa orang lain yang tidak bersalah dapat dibenarkan benar-benar tidak masuk akal.

    Baca juga: Apakah Serangan-Serangan Teror di Indonesia Ini Baru Permulaan?

Sementara banyak orang Australia pertama kali menyadari terorisme di Indonesia sebagai akibat dari pemboman Bali pada tanggal 12 Oktober 2002, ternyata akarnya membentang jauh lebih jauh dari itu.

Insiden teroris sebelumnya termasuk upaya pembunuhan terhadap Presiden Soekarno pada tahun 1962, serangan bom di Masjid Nurul Iman di Padang pada tahun 1976, pembajakan Penerbangan Garuda Indonesia 206 pada bulan Maret 1981 dan serangkaian pemboman gereja terkoordinasi yang diselenggarakan oleh Jemaah Islamiyah dan Al Quaeda pada Malam Natal tahun 2000.

Australia memiliki rekam jejak yang kuat dalam bekerja dengan pihak berwenang Indonesia tentang penanggulangan terorisme. Dengan adanya potensi bagi lebih dari 500 pejuang ISIS Indonesia yang dideportasi dari Suriah untuk mencapai pantai kami, hubungan ini harus diperkuat dan dijaga.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Polisi anti-teror berbaris selama penyerbuan sebuah rumah seorang tersangka teroris di daerah Medokan Ayu di Surabaya, Indonesia 15 Mei 2018. (Foto: Reuters/Sigit Pamungkas)

Serangan Teror Indonesia Soroti Kenyataan yang Sering Terlupakan
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top